Ketiga saudaraku sudah menungguku di bawah sana. Lena dengan sigap membantuku menurunkan koper yang ku bawa.
"Aku pamit dulu, ya," kataku berpamitan pada Lena dan bang Rio. Zaki tiba-tiba mengambil kunci motornya di atas meja lalu pergi setelah aku mengucap pamit. Yang dia lakukan justru membuat bang Rio dan Lena keheranan. Juga tak sekalipun Zaki memedulikan panggilan bang Rio.
"Udah biarin aja, mungkin dia buru-buru mau ketemu sama temannya," dalihku sebagai pengalihan. Aku sendiri tidak tahu kenapa Zaki pergi tanpa alasan yang jelas. Mbak Ika, istri bang Rio muncul dari dalam kamarnya. Mungkin ia baru saja menidurkan anaknya.
"Kamu kenapa bawa koper begini Lun? Kamu mau pergi dari rumah ini? Kenapa? Apa karena kejadian di acara pernikahan pagi tadi?" tanya Mbak Ika beruntun. Nampak ia sangat khawatir dengan diriku. Tapi, aku menunjukkan bahwa aku baik-baik saja. Aku tersenyum lebar. Bang Rio mengusap wajahnya kala di mana mbak Ika memandangnya dengan harap-harap mendapatkan jawaban. Namun, aku malah mengusap bahu mbak Ika seraya memberikan ketenangan untuknya jika semuanya masih baik-baik saja.
"Aku pergi dulu, ya," pamitku memeluk mbak Ika sebentar kemudian Lena yang matanya mulai memerah.
Bang Rio memelukku sebentar. "Perlu sesuatu, langsung hubungi Abang, ya," pesannya. Aku mengangguk singkat. Tersenyum meyakinkan bila aku memang akan baik-baik saja. Lena saudara paling dekat. Dia memeluk aku kembali dan pelukan yang kedua ini makin erat. Ini perpisahan untuk pertama kalinya antara kami berdua. Rasanya tidak bisa kita harus berpisah dalam jangka waktu yang lama ataupun jarak yang jauh. Karena kita sendiri selalu bersama-sama ke mana pun dan di mana pun itu.
"Hati-hati, ya, Teh. Jaga diri yang bener. Baik-baik tinggal sendirian. Kalau bisa, cepat pulang. Kita pasti bakal khawatir sama Teteh," ujarnya beruntun. Lena mengurai pelukan kita. "Jangan ambil hati juga perkataan mamah, ya, Teh. Jangan membenci mamah sama papah," pesan Lena sungguh-sungguh. Begitu pedulinya dirinya terhadapku yang jujur membuatku sebetulnya berat untuk pergi dari rumah ini tapi memang sudah seharusnya langkah ini aku ambil untuk sementara hingga aku benar-benar dapat menemukan ketenangan di dalam kehidupanku sendiri.
Jangan membenci mamah dan papah. Sepertinya satu hal itu pernah terpikirkan di kepalaku dan hatiku secara bersamaan. Logika dan hati sepakat untuk membenci kedua orang tuaku. Namun, semua itu kuredam. Ku tekan habis-habisan. Jangan sampai... jangan sampai... terkadang pikiran lain dan sisi hati yang lain yang membuatku pada akhirnya kembali berusaha untuk memahami tujuan mereka dalam mendidik dan memberikan banyak aturan itu semata-mata untuk kebaikanku dan sabar sebagai kekuatanku dalam menghadapi tuntutan kesempurnaan yang orang tuaku lakukan kepadaku. Sebenarnya ada hal baiknya untukku. Itu pun aku menyadarinya ketika umurku sudah beranjak dewasa namun saat aku kecil dan tumbuh menjadi sosok remaja itu adalah tantangan terbesarku yang tanpa ku tahu, ternyata keadaan dari orang-orang sekeliling ku membuatku terjatuh, tersiksa tapi dari pahitnya yang ku alami menjadikan diriku tumbuh dewasa secara pelan-pelan.
* * * *
"Lo jangan sungkan ya hubungin gue," kata Mahesa sambil kebiasaan tangannya menepuk - nepuk kepalaku. "Bilang jangan kebiasaan diam - diam aja," sambungnya lagi dengan sedikit terdengar sedang memarahiku.
Aku tertawa pelan. Meninju dadanya berikutnya. "Apaan, sih," seruku. "Lebay deh, udah gue bakal mau mati aja kalo gak Lo tolongin," semburku, menyipitkan mataku sinis ke arahnya.
"Kebiasaan Lo itu....," dia menangkup kedua sisi kepalaku. "Ada masalah pasti diam - diam aja. Nggak pernah bilang. Tau-taunya main ngilang."
"Nah, Lo udah tau kebiasaan gue ternyata." Gantian aku menangkupkan kedua tanganku ke dua sisi kepalanya. "Nggak salah gue punya sahabat kayak Lo. Dan ingat ya, kita sahabatan jangan sampe ada yang suka-sukaan di antara kita. Gue lagi males maen drama, nih. Capek semisal perannya dapet yang patah hati mulu," kekehku bercanda. Aku hanya bergurau saja. Kata-kata itu pernah dia katakan dulu. Waktu kita masih di bangku SMA.
Dia menarik diri. Tangan ku keduanya terjatuh ke sisi tubuhku. "Apa, sih, cewek aneh," ejeknya menoyor dahiku. "Gak usah ngomong macem-macem," ucapnya datar.
Aku mendesah pelan. "Yaudah, udah malem. Gih, pulang sana. Kemalaman takut Lo kenapa-napa lagi."
"Gue serius Lun," katanya lagi dengan seserius apa yang dia ucapkan.
"Apa?" tanyaku bingung. keningku mengernyit.
"Ada apa-apa itu bilang sama gue. Gak usah buat gue jadi khawatir sama Lo," ucap Mahesa. Ku menyunggingkan senyuman damaiku padanya. Aku rasa tidak perlu berkata apa-apa lagi. Itu saja sudah lebih dari cukup sebagai jawaban untuk Mahesa pahami dan segera pergi dari hadapanku saat ini. Dia sudah pergi. Aku masuk ke dalam ruangan asing yang akan menjadi tempat tinggalku untuk ke depannya nanti.
Aku meletakkan koper di samping sofa. Ku buka pintu yang akan membawaku di tempat di mana kakiku berpijak di atas balkon ini dan tampilah sebuah pemandangan kota Bandar Lampung dari atas sini, di malam hari. Ku lihat ke bawah, mobil Mahesa telah bersatu pada keramaian jalanan di kota Bandar Lampung yang hari - harinya orang - orang tak pernah usai untuk membuat jalanan ini berhenti sejenak dari rutinitas - rutinitas yang harus dilakukan oleh kebanyakan manusia. Benderang cahaya berkelap-kelip di sana, angin menerpa rambutku yang terurai hampir menutupi seluruh wajah dan mataku. Aku hanyut dalam pikiran dan hatiku yang saling berseteru. Tidak pernah berdamai. Aku mungkin selalu menutup-nutupi yang menjadi akar dari permasalahan dalam diriku. Aku kembali bertanya sudahkah aku berdamai pada diriku sendiri?
Masalah kembali hadir ketika tuntutan dari setiap orang tidak pernah selesai. Dihakimi dan dikendalikan. Berjuang sendiri. Perasaan dalam naluri hati yang tak pernah didengarkan. Ironi menyedihkan dalam kehidupan tak diberi kesempatan tuk memulai dari keinginan sendiri. Hal-hal baik yang dilihat oleh mereka, dipaksa masuk ke dalam kehidupanku dan belum tentu apa yang menurut mereka baik, baik juga di mataku untuk ku jalankan.
Aku yang sedikit membungkuk dengan kedua tangan menumpu di railing balkon tiba-tiba teringat akan sesuatu hal yang tadi telah aku lupakan. Aku memeriksa kantong celanaku dan tidak ada benda yang aku cari. Kemudian aku masuk ke dalam, mengambil hp ku yang ada di dalam tas yang ada di atas meja. Tanganku bergerak lincah untuk menghubungi Mahesa. Aku mengetik sesuatu di via w******p. Dia sedang online. Aku tersenyum tipis, dia pasti cepat akan membalasnya.
"Mahesa, makasih Lo udah ada buat gue. Lo datang di waktu yang tepat Sa."
Apartemen ini adalah apartemen milik temannya. Mahesa dengan cepat menemukan apartemen yang pas dan aman untuk kutinggali seorang diri. Ini pertama kalinya aku jauh dari keluarga. Dari lingkungan keluargaku. Dari rumah tempat ku tuk pulang. Tidak ada suasana kekeluargaan di sini. Ini baru pertama kalinya aku tidak tinggal bersama keluargaku walaupun ku tahu, aku masih berada tinggal di kota yang sama dengan keluargaku namun tetap saja pasti ada suasana baru, yang berbeda dan asing untuk aku rasakan. Hanya saja aku yakin pasti akan terbiasa karena kesepian adalah bagian dari dalam kehidupan ku.
Aku menolehkan kepalaku. Memandang seisi apartemen yang sunyi senyap. Seperti tidak ada tanda-tanda kehidupannya. Hanya ada aku seorang diri. Ku dudukkan bokongku di atas sofa putih yang memanjang. Tepat saat aku duduk, pesanku dibalas olehnya.
"Gue seneng bisa jadi orang yang selalu ada buat Lo Lun."
Itu yang dia katakan padaku. Refleks aku menggigit bibir bagian bawahku. Mahesa memang terkadang bisa bersikap semanis ini. Ehm.. Aku sadar bukan aku perempuan yang sebenarnya Mahesa inginkan mesti jika maminya selalu mencocok-cocokkan di antara aku dengan dia. Aku yakin sikap manisnya ini ya memang sudah sering ia tunjukkan pada perempuan-perempuan lain di luar sana. Mahesa itu orang yang humble, supel dan dia baik pada siapa saja, pada perempuan manapun. Jadi, ya aku tidak terbawa perasaan dengan sikap baiknya yang seperti apa juga kepadaku. Cuman, aku tidak percaya jika Mahesa itu benar-benar mencintaiku. Sekalipun ia pernah mengutarakannya saat kami sedang makan siang bersama ketika kebetulan kita sedang tidak ada jam kerja.
Tidak muluk-muluk sebetulnya. Saat kami sedang makan siang saat itu. Tepatnya satu tahun yang lalu. Mahesa memang membicarakan hal yang terkesan serius. Pembicaraan yang sebetulnya berat untuk selalu aku hindari. Namun, ia tetap menanyakan hal yang sangat sudah malas aku bicarakan.
"Menikah? Pernikahan?" Dua kata yang menjadi hal yang kadang-kadang itu bisa menjadi sensitif bagiku tapi kadang-kadang juga bisa aku abaikan saja bila tidak terlalu keterlaluan menurutku.
"Udah dua puluh tujuh tahun, gak ada apa rencana Lo mau menikah gitu, Lun? Keliatannya Lo kayak gak ada tertarik banget sama cowok."
"Yang jelas gue masih normal." Aku meneguk minumanku hingga abis dan menaruh gelas di atas meja hingga berbunyi. "Masih doyan sama yang batangan," celetukku lepas gitu aja. Soalnya aku males banget dibilang yang nggak-nggak. Nyebelin!
Mahesa kemudian terkekeh geli karena apa yang aku katakan tadi bisa jadi menggelikan untuknya.
"Gue mau nanya sama Lo Lun," ucapnya. Aku memajukan sedikit tubuhku.
"Apa?"
"Di mata Lo pernikahan itu... menurut Lo apa?" tanya ia. Namun, sedetik berikutnya, sebelum aku mau berpikir, dia sudah menceletuk kembali. "Jangan jawab dua jenis kelamin yang berbeda saling menyatu ya atau persatuan kedua insan ya karena yang sesama jenis juga kalo dia belok, nyatu ya nyatu aja."
"Hahaha ngomong apa, sih, Lo Sa. Gila apa ya, gue bakal jawab gituan."
Dia terkekeh kembali. "Ya siapa tau aja."
Aku kembali menurunkan sedikit bibirku dengan artian tersenyum tipis jika harus memutar otak untuk lebih mendalami makna apa itu sebuah pernikahan.
"Menurut gue, sama seperti apa yang orang lain bilang, pernikahan itu ya ibadah. Ibadah terpanjang, dan bagi gue, pernikahan itu hanya dilakukan satu kali seumur hidup, oleh orang yang benar-benar tepat menjadi pendamping hidup dan imam untuk gue sendiri, Sa," jelasku. Mahesa menganggukkan kepalanya berkali-kali. Aku heran kenapa ia menanyakan hal itu kepadaku tapi aku tidak mau memberikan pertanyaan apa-apa kepadanya. Aku cuek saja, melanjutkan kembali makan dan segera menghabiskannya karena menit-menit jam istirahat ku akan berakhir.
"Ada satu lagi pertanyaan gue buat Lo, pengen banget gue tanyain soal ini sama Lo..."
"Apa?" tanyaku tanpa beralih perhatian dari kuah bakso yang sedang aku aduk.
"Ibadah bareng gue mau gak? Sekali seumur hidup," katanya gitu. Aku langsung tersedak saat itu juga. Empat tahun kerja di tempat yang sama, baru kali ini Mahesa berhasil membuat aku kaget sekaget-kagetnya.
"Lo ngajak gue nikah?" semprotku to the point. Dia tertawa pelan melihat reaksiku yang super duper nggak tahu deh aku gimana ekspresi konyol yang aku tunjukkan saat itu juga di hadapannya.
"Kalo Lo mau," ucapnya.
Aku menyandarkan kepalaku di sofa. Menatap langit-langit ruangan. Ku memijat pelan dahiku pelan yang berdenyut sakit. Kembali pada realita di mana hari ini terasa sangatlah melelahkan bagiku. Aku jadi punya banyak masalah dengan orang-orang terdekatku. Dengan mamah dan papah. Dengan Dania yang kuhubungi sebelum tidur demi menceritakan permasalahan yang sebenarnya. Aku ingin meluruskan masalah yang ada namun Dania terus saja memotong pembicaraan yang aku katakan. "Apapun Lun, apapun ceritanya, apapun kejadiannya, nggak seharusnya Lo merusak acara kebahagiaan gue, Lun. Sekali seumur hidup pernikahan ini bagi gue Lun. Lo tau itu, kan?"
"Iya.. Dan, gue paham tapi Bagas itu---"
"Gue dan suami gue berusaha untuk melakukan yang terbaik, mempersiapkan dengan matang-matang supaya acara ini bisa berjalan dengan lancar dan cuma karena drama Lo doang Lun..." Ia menjeda ucapannya yang dari nada tinggi ketika berbicara sebelumnya kini terdengar memelan namun sangat menusuk ke dalam hati aku. "Semuanya rusak!" Di mana dua kata itu menjadi dosa yang aku anggap dalam seumur hidupku. Kesalahan yang mungkin butuh waktu lama untuk dapat diterima oleh Dania atau mungkin tidak sama sekali. "Gue yang harus menanggung malu di depan keluarga mertua gue, Lun," cecarnya yang juga dia menangis terisak-isak di seberang sana. "Apa Lo juga nggak mikirin perasaan orang tua Lo Lun? Hah!?" Tanpa diberi kesempatan untuk bicara, dia langsung mematikan sambungan telepon. Tanpa mau mendengarkan penjelasanku secara detailnya. Masalah ini tidak akan berakhir dengan mudah. Aku sudah meyakini akan hal itu dan aku dapat menerima risiko yang kudapati hari ini.
Dania tidak akan secepat itu memaafkan aku dan pertanyaan terakhir darinya, apa aku memikirkan perasaan orang tua ku? Jelas saja aku memikirkannya. Jauh sebelum aku dapat mencintai diriku sendiri. Hingga pada akhirnya, kadang kala aku sering kali takut untuk mengambil keputusan demi yang menurutku baik untuk diriku dan dapat membuatku bisa merasa nyaman dengan diriku sendiri.
Aku mendecak kesal. Ku sudahi untuk tidak memikirkan hal-hal yang membuat kepalaku semakin berat dan semakin bertambah sakit. Tubuh yang terasa pegal ini rasanya akan terasa lebih ringan dan segar jika aku berendam di air dingin untuk beberapa saat membersihkan diri yang kemudian aku menjatuhkan badanku ke atas ranjang tidur setelah urusan barang-barang ku masukkan ke dalam lemari setelah selesai mandi dan merapikan diri memakai lingerie kesukaanku.
Sendirian duduk di ranjang dengan punggung beralaskan bantal yang kusandarkan di kepala ranjang tidur. Aku termenung. Menjatuhkan hp ku di samping tubuhku. Sekarang semuanya jadi terasa sulit bagiku. Rumit untuk ku selesaikan. Dania sangat marah padaku. Semua orang marah padaku. Aku tidak enak hati. Akan menjadi beban untukku di hari-hari ke depannya nanti. Teringat nama Bagas. Ku buka lagi hp ku dan mencari nomor kontaknya. Langsung aku blok nomornya. Dia memang tidak menghubungiku lagi tapi itu tanda yang bagus. Aku sudah tidak mau lagi berurusan atau bahkan bertemu dengannya. Hidupku berantakan karenanya. Adanya dia, adanya kehadiran dia di hidupku dan karenanya aku semakin dituntut untuk menikah.. menikah dan menikah. Salahkah bila aku menyalahkan dirinya?
Uh! Aku pusing. Aku tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Aku rasa yang pantas disalahkan itu aku. Hanya diriku yang memang bersalah. Aku bersalah karena diriku menjadi beban dari kedua orang tuaku. Mereka malu karena anak gadisnya yang sudah mau kepala tiga belum menikah juga. Seharusnya saat ini aku sudah punya pasangan, sudah memiliki keluarga dan anak-anak yang menjadi pelengkap dan penyempurna kebahagiaan dari sepasang kekasih yang telah terikat janji sehidup semati. Itulah yang mereka harapkan.
Aku membuka sosial media. Tak sengaja aku melihat postingan temanku yang muncul begitu saja di berandaku. Foto dirinya dan keluarga kecilnya. Senyuman bahagianya begitu sangat terpancar. Bolehkah aku mengartikan jikalau dirinya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya meskipun aku tidak tahu apa yang terjadi di balik kehidupannya yang terlihat sempurna di sosial media. Bisa penuh dengan kebohongan, kepalsuan, dan kehidupan yang tak sesuai dengan realita dari kenyataan. Kenyataan dari kehidupan aslinya seseorang. Aku tidak boleh iri. Kehidupan tiap manusia itu berbeda-beda. Tidak mungkin bisa disamakan walaupun dibuat paksa.
Dan kadang kalanya juga sosial media bisa menjadi tipuan dari mereka yang ingin mendapatkan seseorang, berkenalan dan juga bisa lebih dekat hingga menjalin hubungan. Iya, maksudku, seperti mencari pacar, pasangan, di sosial media namun kita memasang foto yang semenarik mungkin supaya bisa orang yang kita incar menjadi menaruh rasa ketertarikannya pada kita. Iya, tapi kita tahu, kita sedang menipu. Menipu orang lain dengan memasang foto yang bukan diri kita. Pada akhirnya kita tak menjadi diri kita yang sebenarnya. Menolak dan membenci apa yang ada di dalam diri kita. Dan aku pernah melakukannya hanya demi untuk mendapatkan apa yang aku mau, apa yang aku sukai dan demi untuk merasakan seperti orang lain rasakan. Yaitu tentang cinta.
Aku mengambil laptopku yang belum aku keluarkan dari tas, sudah beranjak sebentar aku berpindah duduk di sofa single di sudut ruangan kamar, di belakang jendela. Aku membuka gorden kamar. Keadaannya masih lah ramai. Orang-orang berhilir mudik dengan kendaraannya. Cahaya di luaran sana tidak pernah redup. Padahal ini sudah pukul sembilan malam. Biasanya aku sudah tidur. Iya, rutinitas ku adalah lelah bekerja langsung kubawa tidur supaya aku tidak perlu memikirkan hal apapun yang memberatkan dalam hidupku.
Kini, sekarang aku tidak bisa tidur awal. Aku terjaga di malam hari. Masih terlalu menikmati pemandangan malam hari di luar sana. Kota Bandar Lampung terlihat indah dari atas sini. Aku teringat tulisan blogku yang belum aku selesaikan. Ada pembacanya tapi masih sedikit. Aku tidak masalah mau banyak atau dikit nya tulisan blogku dibaca. Terpenting bagiku ialah aku bisa bercerita di sini. Menuangkan segala keluh kesah ku seorang diri.
Hari ini aku melihat seseorang yang telah menjadi masa laluku. Dia mantanku. Malam ini, bukan. Aku tidak akan membicarakan tentangnya. Nanti, nanti akan ada saatnya seiring cerita ini berjalan. Aku akan menceritakan tentang kelanjutan ceritaku sewaktu masa SMA. Dari Luna yang dulu pernah menjadi seseorang yang sangat jahat. Jahat pada dirinya, pada tubuhnya dan pada kehidupannya. Dia, adalah Luna. Sosok perempuan yang tidak pernah aku kenal.
[]