“Dorr”
“Lisaaaaa! kamu bisa gak jangan kayak anak anak ih” ujar ku sambil mendorong bahu wanita itu. Yang kemudian dia malah tertawa terbahak bahak karena wajah ku sangat kesal.
Aku Fiona pengusaha kue terkenal di kota ku, umur 25 tahun, seksi dan tentu saja single. Tahun ini sudah entah berapa kali aku mendengar pertanyaan tentang pernikahan, seolah mereka semua sangat ingin mendatangi pesta pernikahan ku. Awas saja jika nanti sudah ku sebar undangan dan mereka yang bertanya-tanya itu tidak datang.
Biasanya aku di panggil Fio, teman-teman dekat ku selalu menyarankan aku untuk menggunakan aplikasi jodoh di ponsel pintar, sial saja mereka pikir aku sebegitu tidak laku nya ya. Namun yaa bagaimana lagi beberapa kali sempat aku ikuti kencan dengan lelaki yang ku kenal di aplikasi itu dan blaar semua tidak sesuai dengan tipe ku.
Menyebalkan sekali, saat aku memberitahukan kepada teman-teman ku mereka mengatakan untuk menerima saja karena toh, aku juga membutuhkan jodoh.
“Mikirin apa sih?” Lisa kini bertanya sambil mencolek bahu ku. Kami sedang duduk di taman, aku baru selesai menutup toko roti ku dan kini menemani Lisa melukis di taman. Yap, Lisa seorang pelukis, dia selalu menyukai pemandangan ataupun ekspresi wajah seseorang untuk dia abadikan di kanvas nya. Hal itu pula yang membuatnya bisa mengenal pasangannya, kolektor lukisan yang kini akan menjadi suami nya.
Aku tergugah, kali ini bukan hanya colekan tetapi cubitan dari tangan nya yang memelintir kulit ku yang lembut.
“Aaaw apaannn!” Jawab ku kesal, Lisa hanya terkekeh dan menggeleng kan kepala nya.
“Lo kenapa lagi? Gagal lagi ngedate nya” tangannya tidak berhenti menggoreskan warna warna indah itu.
“Gagal apaan gue tolak malah” aku meraih kue coklat yang sengaja ku bawa, membuka bungkusannya dan menggigit nya sepotong besar. Tidak ada yang bisa menenangkan kecuali kue coklat bikinan ku ini.
“kamu jadi nikah tahun ini Lis?” Aku berkata sambil menatap Lisa yang masih asik melanjutkan lukisan nya.
“jadi dong, gue uda cari photographer buat prewedding gue, lo mau ikut gak?”
“Ikut apa?”
“Ikut foto” jawab Lisa sambil terkekeh lagi. Sialan dia menggodaku, gimana bisa coba photo begitu membawa aku si wanita single, kecuali dia mau menggantikan dirinya dengan ku.
Waktu pukul 19.00 sekarang aku berada di apartemen, memikirkan apa yang akan terjadi besok. Sampai denting ponsel mengganggu lamunan ku, meski malas aku tetap harus melangkah, bisa saja itu adalah pesan dari pelanggan yang ingin order kue.
Nomor yang terlihat tidak ada namanya, tetapi karena aku adalah pengusaha, hal itu wajar karena bisa saja mereka mendapatkan nomor telepon ku dari sosial media.
“Apakah kamu ada waktu luang Fio?” Pesan singkat yang membuat aku terkejut, siapa yang menghubungi ku.
Ku dudukan tubuhku diatar kasur empuk, mencoba menerka siapakah yang menjadi sosok di balik pesan ini. Tidak lama ada pesan lain yang muncul, menunjukan bahwa dia berada di bawah apartemen ku. Aku bergegas turun dan melihat sebuah mobil terparkir, segera aku membuka pintu dan duduk di samping kemudi.
“Kita keluar dulu ya baru ngobrol” ujar lelaki itu dengan suara berat. Sial aroma tubuhnya membuat aku terhipnotis, wangi lelaki mapan yang sibuk bekerja. Aku mencoba mengalihkan pandangan ku ke arah luar, tampak hujan mulai turun dengan cepat. Aku baru sadar kalau malam ini hujan.
“Gerimis” gumam ku tanpa sadar. Kemudian kepala ku menoleh ke arah samping dan kami bertatapan lama.
“Maaf saya mau lihat kaca nya”
Aku merasa malu dan menunduk kan kepala ku dengan cepat. Sampai di restoran kami turun dan masuk keruangan tertutup. Aku bersyukur karena baju yang ku kenakan benar benar baju tidur tidak terbayang dia akan membawa ku makan di tempat seperti ini.
“Mau makan apa?”
“Terserah mas aja” aku menjawab apa ada nya dan berusaha tidak terlihat aneh.
Makanan datang, sedari tadi kami tidak berbicara apapun, rasanya canggung sekali. Akhirnya aku memberanikan diri membuka percakapan yang tidak tahu apa maksudnya.
“Mas butuh bantuan apa?” Tanya ku sambil memainkan sendok dan garpu di piringku. Lelaki itu menatap ku, sambil meletakan sendok nya.
“Sorry kalau bikin kamu bertanya tanya Fio, kamu kenal saya kan?” bukannya menjawab pertanyaan ku, kini dia malah balik bertanya pada ku. Tentu saja aku tahu laki-laki ini adalah tunangannya Lisa teman ku, mereka akan melangsungkan pernikahan tahun ini. Entah aku merasa aneh atau canggung bukan kah tidak baik kami makan berdua tanpa ada Lisa.
“Mas rasanya tidak sopan bertanya balik sebelum menjawab pertanyaan” aku sudah gemas sekali dengan lelaki ini, apa maksudnya mengajak ku keluar tanpa memberitahukan Lisa. Ternyata Lisa salh memilih pasangan, setelah ini aku harus memberitahu kan nya.
Bukannya tersindir, dia malah tertawa kecil, aneh aku melihat wajahnya dengan datar.
“Maaf maaf, saya bermaksud mengajak kamu untuk memberi kejutan ulangtahun untuk Lisa, ya saya memang sudah melamar nya, tetapi kali ini saya ingin memberikan sesuatu yang lain. Untuk itu saya perlu bantuan kamu Fio.” Penjelasan panjang itu membuat hati ku terasa berat, ternyata aku salah.
“Emhh maaf mas, ah ya saya sudah kenal mas. Lisa pernah memberitahu saya tentang mas” jawab ku sambil menatap mata nya. Siapnya mata kami kini kembali beradu, bukannya berpaling dia malah tersenyum.
“Apakah Lisa tahu pertemuan kita mas?” Tanya ku perlahan
“Tidak, saya minta maaf krena sudah mengambil nomor telfon kamu secara diam diam Fio, oh iya kamu bisa memanggil saya Damar”
Aku mengangguk singkat, kami melanjutkan makan malam ini sambil memikirkan pikiran masing-masing. Selesai makan aku berdiri memperbaiki celana ku yang naik menunjukkan paha ku.
Damar melihat nya dan tanpa aba aba membuka jas nya menyuruhku menutupi diriku.
Aku menerima nya dengan cepat tanpa bertanya apapun.
“Jadi mas mau melakukan kejutan itu di toko kue ku?”
“Iya benar apa kamu keberatan?” Tanya Damar sambil membuka kan pintu mobil nya untuk ku.
“Tapi untuk sebanyak itu aku rasa ruangannya tidak cukup mas, toko ku kecil, kecuali ahh kecuali taman di belakang aku gunakan juga!” Pekik ku kecil sambil tersenyum.
“Apa aku boleh melihat nya sebelum kita memutuskan menggunakannya atau tidak?”
“Tentu saja aku bersedia memperlihatkannya, sekarang juga aku mau” jawab ku cepat sambil menunjukan arah toko roti ku. Damar tersenyum dia mengarahkan mobilnya ke arah yang ku tunjukan.
Kami sampai di toko pukul 9 malam. Keadaan gelap, aku harus menghidupkan lampu agar keadaan toko terlihat. Kami berjalan bersama menuju taman belakang, sebenarnya taman ini ku gunakan untuk produksi kue yang lebih besar, tidak ada yang istimewa karena hanya ada beberapa bunga kesukaan ku dan pohon yang membuatnya terlihat rimbun.
“Baguss aku suka, kita bisa mengaturnya bahkan lebih baik bukan, Lisa tidak akan menduga aku menyiapkan sesuatu di belakang toko roti mu Fio”
Aku hanya tersenyum, memperhatikan punggung itu menatap seluruh isi taman ku. Setelah berbincang beberapa saat dan melihat lihat keadaan kami memutuskan untuk pulang.
Keesokan hari nya aku yang terbisa berolahraga terkejut melihat Lisa menatap ku sinis. Apa dia tahu aku pergi dengan kekasih nya malam tadi. Ku hempaskan semua pikiran buruk itu, toh aku juga tidak memiliki perasaan dengan pacar nya”
“Apaan sih lo” canda ku sambil menoyor bahu nya, yang ku toyor malah kesal dan menarik tangan ku cepat. Aku terhuyung Lisa benar benar menarik ku sekuat tenaga nya.
“Ada apa sih lisaaaaa, sakittt tau gak!” Sekarang aku merasa sedikit kesal dengan perlakukannya.
“Lo ga bisa lo jadi ngedate! Gue liat lo tadi malam keluar sama cowok”
Aku tertegun, Lisa benar benar melihat nya. Apa yang harus aku katakan aku tidak mungkin memberitahu nya masalah pacarnya yang meminta bantuan ku.
“Jujur lo pergi kemana?” Tanya Lisa lagi kali ini dia benar benar menyelidiki ku.
Aku menggaruk bahu ku. Rasanya tiba tiba saja seluruh tubuh ku gatal, sial aku tidak tahu harus memberitahu bagaimana.
“Jangan - jangan, gak mungkin kan lo pergi sama diaa Fiooo???!!”