Bibir mereka bertemu, Damar terkejut lalu berusaha melepaskan nya, Namun Fiona membuka matanya dan melumat bibir Damar lebih dalam. Tangan nya terulur menggantung di leher lelaki tampan itu.
"FIOO!" kalimat tegas yang disertai dengan dorongan pada tubuh nya membuat Fio terbangun, mata nya menatap seseorang didepan nya. laki-laki tampan yang sedang berdiri dan mengusap bibir nya dengan cepat. melihat hal itu Fio tersadar, tangan nya reflek menyentuh sudut bibir nya. mata mereka beradu, namun keheningan masih menyelimuti mereka.
Hanya bertahan beberapa detik saja, Fio sudah terbaring lagi dengan lemas. Begitupun Damar tubuhnya yang tadi menegang kini ikut terduduk lemas, jari nya menyentuh bibirnya basah, dia yakin ini bukan mimpi, bahkan dia masih merasakan bibir yang menggigit bibir nya.
Tidak memutuskan berapa lama, Damar segera menyetir mobil nya ke arah Apart milik Fiona, bersyukurnya adalah malam ini jalanan lengang membuat Damar lebih leluasa melakukan perjalanan itu. Setelah sampai Damar memilih tidak membangunkan Fiona bisa gawat jika gadis itu kembali melakukan hal yang dia lakukan saat terbangun tadi.
Untungnya tubuh Fiona tidak berat bahkan terlalu ringan mengingat gadis itu memiliki tinggi yang cukup jauh rata-rata tinggi wanita indonesia. Damar menekan sejumlh nomor yang di kirim kekasih nya. Setelah memastikan Fiona aman di tempat tidur nya, Damar mengambil foto untuk di kirimkan kepada kekasihnya.
“uhukk hlkkk” Fiona terbatuk dengan suara parau, sepertinya tenggorokannya kering. Damar mengambil air dan membantu Fiona meminum nya. Menyeka air yang jatuh di sekitar bibir yang berwarna pink milik Fiona. Damar baru menyadari nya, Fiona memiliki bibir yang kecil tetapi penuh. Jarinya tanpa sadar mengelus bibir itu. Fio mengedarkan mata nya menatap ruangan yang dia kenali ini adalah kamar nya, apartement milik nya yang sudah dia tinggali beberapa tahun belakangan ini.
" maaf mas..aku.. ah guee ga sengaja sedikit lo ngert.. mhhuueeek" racauan itu terhenti karena tiba tiba Fio berlari dan mengeluarkan isi perut nya. entah karena dirinya terlalu mabuk atau karena dirinya memikirkan hal lain, padahal biasanya dia bukan orang yang gampang untuk mabuk. Hal itu membuat Damar khawatir, tadinya dia enggan berlama-lama karena mereka hanya berduaan di kamar Fio, tapi melihat keadaan sahabat kekasih nya membuat hati kecil nya terketuk.
bergegas dia masuk ke kamar mandi, melihat fio yang terduduk di depan Closet.
" sini aku bantu Fio." Damar mengangkat tubuh mungil itu, yang dengan sengaja dia sentuh. menggendongnya dan menurunkan nya di tempat tidur. telfon nya berdering 1 panggilan dari kekasih nya. yang saat dia angkat malah semakin membuat nya bingung,Bibi nya Fio sedang tidak bisa dihubungi,
Mata nya menatap tubuh lemas yang kini gusar, Damar memperhatikan baju gadis itu, yang kotor mungkin terkena muntahannya sendiri. dengan ragu dia mennyentuhnya membuat si pemilik nya terbangun, seolah terganggu dengan sentuhan kecil itu. Damar tersenyum ragu, lalu menutupi tubuh cantik itu dengan selimut dan bergegas pergi, sebelum kepala nya yang kotor itu mulai bekerja.
Sumpah mencintai Lisa adalah hal yang tidak akan pernah Damar langgar, karena itu apapun yang akan terjadi dia akan tetap memilih Lisa dan menutup matanya pada semua kesempatan yang bisa dia ambil. Meskipun hal ini benar atau tidak, bagi Damar mutlak untuk memilih Lisa sebagai istrinya.
“Sayang gimana keadaan Fiona?” Damar mencoba bertanya saat bertemu Lisa setelah 2 hari kejadian yang dia simpan sendiri.
“Baik baby, tapi kayak nya dia belum bisa ke toko deh soalnya masih pemulihan, masih lemes katanya” lisa menggigit roti lapis yang di bawakan Damar. Pagi ini Damar sudah mengunjungi kediaman nenek nya untuk sarapan bersama.
“Kenapa sayang kok kamu kelihatan khawatir? Ada yang aneh sama Fio?” Tanya Lisa menyelidik. Tatapan mata calon istrinya itu membuat Damar bergidik, bukan kah hal ini bisa mengacaukan perasaan Lisa jika tahu apa yang sahabat nya lakukan, lagi pun bisa saja saat itu Fio sedang mabuk.
Damar memilih diam, mengubur kisah yang seharusnya tidak dia ungkapkan pada siapapun, kesalahan itu biarlah jadi pelajaran untuk dirinya.
“Gak ada sayang, aku cuman khawatir karena Fio kelihatan lemas” jawab Damar berkilah, meskipun sebenernya memang terlihat seperti itu keadaan nya.
Lisa mengangguk setuju, dia memang mengetahui tabiat temannya itu, jika sedang di penuhi masalah yang dilakukan nya adalah mabuk mabukan bukannya bercerita. Dan tidak jarang Lisa lah yang harus memaksa dan mencari tahu apa yang sedang mengganggu pikiran temannya itu.
“Sayang kamu disini sampai kapan?” Kali ini Damar memilin rambut Lisa dengan jarinya. Pertanyaannya di bisikan ke telinga gadis mungil itu yang tersadar dari lamunan nya.
Sambil tertawa Lisa menahan jari Damar dan menatap mata kekasih tampan nya itu.
Damar tersenyum, wajah Lisa selalu meneduhkan perasaannya, inilah yang menjadikan dirinya yakin memilih Lisa sebagai calon istrinya.
Kecupan kecil Di berikan Lisa, membuat Damar merasa ingin lebih dari itu. Dia mendekati wajah kekasihnya menyentuh dagu mungil itu dan sialnya yang terbayang dikepala nya adalah bibir mungil penuh milik sahabat kekasihnya itu. Damar menjauh kan dirinya dan berbalik arah.
Membuat Lisa merasa terkejut dan bertanya-tanya apa yang terjadi.
Damar hanya meminta maaf dan izin untuk pergi ke kamar mandi sekedar mencuci wajahnya yang pias. Bagaimana bisa dia membayangkan wanita lain saat sedang bersama Lisa, bahkan kini ciuman yang tidak sengaja di lakukan itu mulai kembali terasa di bibirnya.
"sial, gadis itu punya sesuatu yang bisa menjebak ku" racau nya sambil beberapa kali menyeka wajah nya dengan air dingin
"sayang? kamu lagi ada masalah?" Damar tertegun, Lisa sudah dibelakang tubuh nya memeluk nya dengan jari yang terikat cincin, hal itu menyadarkan Damar, dia sudah berjanji tidak akan menyakiti wanita ini.
membalik tubuh nya, memberikan kecupan lembut dibibir wanita nya, lalu mengajak nya keluar, pernikahan mereka hanya beberapa bulan lagi, tidak baik jika mereka memutuskan untuk merusak nya hanya karena terbawa suasana.
"arghhhhhh, gilaaa malu bangettttt"
"Fiona? ada apa sayang?"
fiona menengadah, dia hanya bisa menggeleng, karena tidak mungkin dia bisa mengatakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Damar. kesalahan kecil itu bukanlah sesuatu yang bisa dipertanyakan pada semua orang.
tubuh nya lunglai kembali ke kamar, sudah dua hari dia tidak membuka toko roti nya, hal ini dia lakukankarena malu,jika harus bertemu Lisa ataupun Damar. bahkan semua panggilan dan pesan mereka sengaja tidak dia perdulikan.
tangan nya mengetik kalimat-kalimat panjang yang terus dihapus nya. sampai dering telfon membuatnya tersadar, hp nya terjatuh di kasur nya.
"Fiona Bibi pulang dulu ya. kabari kalau kamu merasa tidak enak badan lagi ya sayang" sambil mengelus pipi keponakan nya tubuh wanita paruh aya itu meninggalkan kamar Fiona yang sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.
tangannya terulur mengambil ponsel nya dan mengetikan pesan singkat.
Fiona bergegas mandi, mengganti baju dan berdandan tipis hanya agar tidak terlihat pucat. Dia tidak mau sampai ornag lain mengira dia sedang terkena penyakit parah,padahal yang Fiona lakukan hanyalah merasa malu karena mencium pacar sahabat Nya yang akan menjadi suami nya.
bel apart nya berbunyi, Fiona bergegas membuka pintu, terlihat seseorang yang berdiri di depan pintu nya. dengan cepat dia mempersilahkan lelaki itu masuk.
" mas aku..."
" gak apa-apa Fio, aku juga ngerti kok itu karena kamu mabuk, mari lupakan saja ya. oh ya dan aku kesini untuk membahas mengenai ulangtahun Lisa yang hanya tersisa seminggu lagi" damar mengatakan maksud dan tujuan nya dengan cepat. mata nya menatap Gadis didepan nya yang membuat nya langsung terfokus dengan bibir kecil itu. segera memalingkan wajah nya ke arah lain, namun dia baru sadar kalau gaun santai yang dikenakan Fiona adalah satin lembut yang membuat lekuk tubuh nya terlihat
"sial ini cewek gak bisa banget jaga diri apa, minta diterkam, sialllll tahan gue harus tahan diri."
Damar terbatuk kecil, menyadarkan Fiona bahwa dia belum menyuguhkan minuman, dirinya segera bergegas ke dapur mengambil beberapa minuman kaleng untuk tamu nya, namun naas kaki nya tersandung kaki meja karena terburu-buru dan membuat tubuh nya terjatuh.
Gubrakkk.
"AWHHHH"
mendengar teriakan itu Damar bergegas berlari,dia melihat Fiona yang sudah terjatuh, dirinya membantu gadis itu berdiri dan mendudukan nya di sofa.
"kamu ada minyak urut?" tanya damar sambil menggenggam kaki Fio.
" engga ada mas, ada nya lotion"
"ya sudah sini biar aku bantu pijat sedikit biar tidak terlalu sakit ya"
Fiona hanya mengangguk, membiarkan Damar mengoleskan lotion di kaki nya dan memijat dengan lembut, tangan kekar itu terasa hangat dan nyaman. Fiona menatapnya dengan dalam, menahan dirinya dengan menggigit bibir bawah nya, nyeri dari kaki nya mulai terasa.
Damar memperhatikan ekspresi Fiona takut-takut jika sentuhan nya terlalu menyakitkan, namun melihat wajah Fionayang sedang menahan sakit itu membuat diri nya terpana, cantik wajah cantik yang kesakitan. Damar berhenti memijat
" terlalu sakit?" tanya nya perlahan
Fiona menggeleng.
"masih bisa aku tahan mas" ujar nya sambil melihat kaki nya yang mulai kemerahan.
"kamu cantik Fio" ujar Damar tanpa sadar.
"EH???"