Kalila membenamkan wajahnya dalam pelukan Arsenio. Pria itu tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada calon istrinya itu. Kalila memang hanya membutuhkan bahunya untuk bersandar. Arsenio pun dengan sabar membelai puncak kepalanya. Ingin Kalila umumkan pada Arsenio bahwa adiknyalah yang telah memberinya luka yang bahkan sampai saat ini, Kalila tidak tahu bagaimana caranya untuk sembuh. Arsenio mengajaknya untuk duduk. Kalila menatap sorot mata yang lembut itu. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa Arlon memiliki kakak sebaik Arsenio. “Aku mau pulang,” ucap Kalila pelan. Arsenio mengangguk. Dia mengikuti Kalila dan segera bangkit, wanita itu merapikan rambutnya dan menyeka air mata yang kian membasahi pipinya. Matanya sembab karena sisa-sisa air mata ada di sana. “Aku ke kamar mandi

