Pagi-pagi sekali, Byan ke luar dari rumah dengan membawa koper dan ranselnya. Byan menoleh dan menatap rumah Kalila. Dia bertahan di sini saat semua anggota keluarganya sudah pindah ke Jerman, semua itu demi Kalila. Namun, kali ini sudah saatnya dia pergi, Kalila sudah menjatuhkan pilihan dia lebih memilih Arsenio, orang yang mungkin saja memang bisa bahagiakannya. Byan menghela napas. Langit sendu seolah mendukung kepergiannya. Halaman rumah Kalila dan rumahnya menyatu hanya terhalang pagar besi. Mereka dulu sering main air di sini. Bahagia melewati masa kecil itu bersama-sama, sayang sekali saat sudah sama-sama dewasa salah satu memiliki rasa. Dan itu Kalila. Namun, kali ini Byan menyesal karena pernah mengatakan agar Kalila mengubur dan melupakan perasaan terhadapnya. Byan seperti m

