Azela benar-benar tak menyangka bisa bertemu dengan Fatan di sini, mana saat ia gerai rambut pula. Azela tak akan memaafkan Reyhan dan Agil nanti! Semua ini ulah mereka.
"Zila?"
"Eh, iya, anu ... eum gu--maksudnya ... ak--aku ke sini bareng teman, Fat--Kak Fatan."
Azela benar-benar gugup. Ia harus kembali berposisi menjadi Azila. Perubahan mendadak dalam situasi seperti membuat Azela sedikit gugup.
"Mau makan bareng?" tawar Fatan.
"Eh, nggak usah, Kak. Ak--aku udah makan, kok, hehe barusan selesai. Bentar lagi juga mau pulang," jawab Azela.
"Ya udah, mau ke sana bentar?" ajak Fatan, ke belakang taman kafe ini yang juga menyediakan tempat outdoor.
Azela terpaksa menurut saja ketika tangannya ditarik oleh Fatan ke sana.
"Aku senang kita ketemu lagi," ucap Fatan. Ia pun membawa Azela berjalan-jalan di sekitar tempat yang diterangi lilin-lilin itu.
Azela hanya tersenyum kikuk.
"Eh, ya. Aku punya brosur." Fatan memgeluarka brosur kecil yang berada di saku celananya.
"Nih, ambil aja. Siapa tau kamu berminat jadi artis," ucap Fatan memberikan brosur itu kepada Azela.
'Ih, ogah. Siapa juga yang mau jadi artis,' batin Azela hendak menolak brosur itu.
"Simpen aja, siapa tau nanti butuh, kan."
"Ya udah, deh, makasih Kak Fatan."
Fatan tersenyum. "Iya, sama-sama Azila."
'Gue Azela, Woi,' batin Azela lagi. Namun, tak mungkin juga ia mengatakan fakta itu pada Fatan, yang ada makin ribet nanti dan Azela tak ingin repot-repot menjelaskan jika ia dan Azila kembar.
Satu hal tiba-tiba teringat oleh Azela yang ingin ia tanyakan pada Fatan.
"Oh, ya, Kak. Soal gosip beberapa waktu lalu. Apa benar Kak Fatan pacaran dengan ... eum, siapa, ya lupa namanya."
"Sama Zea?"
"Nah, iya, kayaknya."
Fatan terkekeh pelan. "Kenapa? Cemburu, ya?"
'Dih, ngapa gue cemburu pula?' batin Azela yang terus-terus menjawab.
"Dijawab aja, Kak," ucap Azela tersenyum pelan. Senyum pura-pura lebih tepatnya.
"Aku tau, loh, senyum kamu akting," ucap Fatan membuat Azela mendengkus. Ia hampir melupakan jika cowok di hadapannya sekarang adalah seorang artis. Pastinya bisa membedakan mana yang asli dan palsu.
"Tenang aja, Zila. Aku nggak pacaran kok sama Zea. Kita cuma partner kerja aja."
Azela pun hanya mengangguk-angguk paham. "Berarti cuma gosip?"
"Iya. Nanti kalau bener gosipnya dah memanas, aku bakal buat video klarifikasi, deh."
Azela pun hanya mengiyakan saja.
"Eum, ya udah. Aku boleh kembali ke teman-temanku sekarang, kan?" tanya Azela.
"Iya, boleh. Maaf udah mengganggu waktunya."
"Gak pa-pa, kok."
"Sama itu, brosurnya jangan lupa, ya, siapa tau kamu berminat."
"Iya."
Azela pun hendak balik badan, akan tetapi tiba-tiba tangannya ditahan oleh Fatan.
"Sorry, bentar ...." Fatan berjongkok, lalu mengikatkan tali sepatu Azela yang terlepas. Azela menunduk menatap Fatan. Perhatian sekali ....
"Kalau nggak diiket, entar kamu jatoh."
"Makasih, Kak."
"Sama-sama." Fatan tersenyum, tangannya lalu mengusap puncak kepala gadis itu pelan. Azela kesusahan menelan salivanya. Apa-apaan itu? Kenapa jantungnya jadi bergetar hebat? Bukannya biasanya Azela paling tidak suka diperlakukan seperti itu oleh cowok?
"See you next time," ucap Fatan. Azela pun hanya mengangguk pelan. Ia berbalik, lalu kembali masuk ke dalam kafe—ke tempat sahabatnya tadi.
"Wah, parah lo, Zel. Lama banget di toilet. Lo ngapain? Konser?" tanya Reyhan.
"Lebay, gue cuma bentaran doang, kok."
"Lama amat, Zel."
"Iya, sampai lumutan gue nungguin."
"Ah, lebay-lebay," ucap Azela. Mata gadis itu beralih pada Vava dan Feri. "Om, pulang, yuk!"
"Ayuk, Sayang."
Mereka pun bergegas pergi dari situ.
***
"Azel, ya ampun. Azel rambutnya digerai. Tumben banget! Azel abis kencan sama cowok, ya?" tanya Azila heboh saat Azela baru masuk rumah.
"Wah, wah, iya, nih, tumben sekali putri Papa yang satu ini mau geraiin rambutnya."
Azela mendengkus pelan. Ikat rambutnya masih disembunyikan oleh Agil dan tak mau memberikan kembali padanya. Alhasil, Azela kembali ke rumah dengan rambut tergerai.
"Harusnya gue bakar aja kali, ya, semua ikat rambut Azel, biar ga dikucir terus rambutnya."
"Awas aja kalau lo beneran gitu," ancam Azela membuat Azila terkikik.
"Dari mana aja, Sayang?" tanya Daniel. Ia pulang cepat hari ini, tetapi Azela tak ada di rumah.
"Dari luar, Pa."
"Sama siapa?"
"Keluarga Reyhan."
"Ooh."
Azela pun hendak berjalan masuk ke kamarnya, tetapi tangannya dicekal oleh Azila.
"Papa mau ngomongin calon istrinya tau. Azel nggak mau denger?" kompor Azila. Azela melirim ke arah Daniel sekilas.
"Gak tertarik, sih."
"Ih, Azel, mah gitu. Ayolah, kita dengerin sama-sama. Emang Azel nggak kepo sama calon ibu tiri kita?"
Azela menghela napas pasrah. Ia pun akhirnya ikut duduk di sofa.
"Ayo, Pa. Abis tu gimana? Papa belum kasih tau nama ceweknya."
"Namanya Papa kasih tau kalau nanti pas kalian ketemu sama dia langsung aja. Biar, surprise ...."
"Yah, tapi gak pa-pa, sih. Kapan emangnya Papa mau ngenalin calon Ibu kita?"
"Kapan-kapan ya, Sayang. Dia masih sibuk sekarang. Mungkin belum waktunya yang tepat.
"Oke, deh, Pa."
Azela menguap pelan. Cerita macam apa, ini? Sangat membosankan baginya. Azela pun bangkit. Namun, sesuatu dari saku jaketnya terjatuh ke lantai.
"Eh, apa, tuh, Azel?" tanya Azila segera membungkuk, mengambil benda yang terjatuh dari saku jaket kembarannya itu.
"Brosur?"
"Oh, iya. Ketemu di jalan. Ambil aja," ucap Azela melangkah pergi dari ruang itu.
"Wah. Ada Open Casting, ya," ucap Azila berbinar-binar. Ia menatap ke arah Daniel penuh harap. "Pa, Zila boleh ikutan casting, nggak?"
"Castingnya di mana?"
"Masih di kota ini, kok, Pa. Boleh, kan?" tanya Azila menampilkan wajah memelasnya.
"Iya, boleh."
"YEY! Papa dukung, nggak? Kalau Zila jadi artis?"
"Dukung aja, sih, yang penting itu pilihan yang diinginkan putri Papa."
"Aaa, Papa i love you!" ucap Azila melompat girang.
"Tapi kalau nggak lolos, dilarang patah hati, ya. Coba iseng-iseng aja dulu. Kalau lolos rezeki, kalau nggak, mungkin belum rezeki."
"Iya, Pa. Tenang aja. Zila gak terlalu paksain, kok, tapi Zila janji akan berusaha."
"Oke, Sayang. Semangat!"
"Yey. Makasih Papa."
Azela yang masih mendengar teriakan Azila pun hanya menggelen pelan. Menyesal juga ia tak langsung membuang brosur itu tadi. Harusnya tak usah dilohat oleh Azila.
Namun, Azela juga tak berhak mengatur apa yang diinginkan saudari kembarnya itu.
Apa ini adalah jalannya Azila untuk dekat dengan Fatan? Ya, syukurlah jika memang itu jalannya. Azela tak perlu lagi berperan sebagaj Azila untuk Fatan.