Pagi itu udara sangat segar, sesegar air sungai di pedesaan yang mengalir bersih. Matahari masih malu sembunyi dibalik awan, mengintip setiap jiwa yang berangkat melewati bendeng-bedeng persawahan. Para petani dengan Capingnya terlihat sangat bersemangat menggarap sawahnya, seorang anak kecil di dekatnya memainkan sepasang boneka seakan-akan boneka tersebut tengah bertarung.
Dari balik belukar tidak jauh dari persawahan sekilas terlihat pemburu dengan senapannya, sudah dua hari dia di tempat itu menunggu buruannya datang melintas. Dibalik belukar itu dia hanya diam tidak mengeluh, diam dari serangan nyamuk-nyamuk dan litah, diamnya bukanlah diam tak berdaya namun diam dengan arti.
Pemburu itu benar-benar sadar bahwa hanya kesabaranlah yang dapat mengantarkannya pada keberhasilan rencananya, segala sesuatu yang frontal tanpa perencanaan akan sia-sia, segala sesuatu yang direncanakan tanpa kesadaran adalah sia-sia.
Akhirnya saat waktu berlalu lebih lama dan udara mulai melembab dibalik kabut yang kian pekat terdengar bisik gemericik daun kering terinjak dari balik sela pepohonan. "Nah...buruanku datang" usik nafsu sang pemburu, namun ia segera menyadarkan diri agar tetap dalam kondisi tenang.
Sedekap kemudian terdengar dari sisi satunya lagi helaan nafas kencang berlari, sepertinya ada suasana ketakutan di antara langkah dan nafasnya. Semakin lama langkah-langkah semakin banyak dan hela nafas bercampur antara nafsu membunuh dan ketakutan.
Pemburu menarik nafas panjang, hatinya membisik "aku harus bersabar lagi sepertinya.. buruanku pasti lari" lirihnya.
Teriakan membuncah tiba-tiba, lalu hening... tak ada lagi hela nafas dan keretan kaki menginjak dedaunan kering. Bau darah sangat kental " ada yang mati" ujar pemburu dalam hatinya. Kemudian lirih dari arah suara hela nafas ketakutan tadi terdengar panggilan kesakitan meminta tolong.
Pemburu memejamkan matanya, menghela nafas dalam-dalam kemudian berdiri dan berjalan pelan menuju arah suara. "Biarlahku tunda dulu perburuan ini" pikirnya dalam hati. Ketidaktegaan nya pada kepayahan yang didengarnya menyentuh batinnya. Ada nyawa yang mengiba di dekatnya. Seorang Prajurit yang kalah perang berlumur darah.
***
Tiga hari berlalu setelah perburuan ditunda. Hari ini hujan deras, tidak bisa berburu tidak pula bisa menyiapkan rencana berburu. Bubur telah tanak, air telah panas, ikan telah selesai di bakar.
"Kau sudah bangun jagoan?" ujarnya kepada sosok setengah mati yang terkapar beberapa hari itu.
"Aku masih hidup ?" sang prajurit meraba wajah dan luka-lukanya.
"Kau ini aneh jagoan... kau sendiri yang kemarin malam meminta tolong untuk hidup, sekarang kau bertanya apakah masih hidup (tawa sang pemburu membahana), kalau kau tidak mengiba pasti kau sudah mati dimakan hewan buas"
".........(sujud menundukkan kepala memberi hormat dan tanda terima kasih) aku berhutang banyak pada anda yang tidak mungkin bisa aku tebus." Ungkap hati prajurit penuh haru.
"Aku ini prajurit yang tidak berguna, kabur di saat tuanku dan keluarganya dibantai, aku ketakutan sampai-sampai harga diri dan kesetiaanku sebagai prajurit seakan tidak pernah ada" lanjutnya.
Suasana hening, pemburu hanya menyantap bubur beserta lauk seadanya, membuat teh dan meneguknya.
"Kau sudah beberapa hari terbaring, makanlah dulu... menyesalnya nanti saja" sindir sang pemburu.
Dengan kepala tertunduk dan tatapan kosong kearah mangkuk sang prajurit menyuapkan bubur ke mulutnya.
Hening sudah lama hinggap diantara keduanya sejak sang prajurit mengangkat mangkuknya. Tiba-tiba...
"Kau tahu jagoan, hanya yang hidup yang bisa membuat rencana dan membalas, membuat rencana itu harus matang dan sabar. Mengaplikasikan rencana juga butuh kesabaran dan ketenangan" celetuk sang pemburu.
"Saat aku remaja bapak dan ibuku mati dibunuh pemburu lainnya. Tepatnya teman-teman bapakku sendiri. Kami sekeluarga dibantai, Adik perempuan dan ibuku di perkosa, bapakku di cincang, sedang aku lari ketakutan seperti dirimu kemarin. Aku selamat.... Karena aku selamat, mereka yang membantai keluargaku tidak ada yang hidup 10 tahun setelah kejadian itu. Bayangkan jika aku ikut mati saat itu."
Suasana kembali hening. Tidak lama suara seruput teh dari sang prajurit memecah keheningan.
"Ingatlah jagoan, hanya yang hidup yang bisa membalas. Setiap perburuan dan kemenangan perlu kesabaran. Kesabaran itu bukan diam mati, tetapi diam berkreasi (tertawa terbahak)"
"Menurutku tindakanmu untuk mundur... hm... ya mundur.. aku tidak menggunakan istilah lari walaupun kau memang lari. Tapi bagiku kau mundur dari pertempuranmu (tersenyum)". Sang pemburu teringat keluarganya yang hilang dan termakan oleh kecemburuan dan keserakahan.
"Pemburu tua, menurutmu kematianku akan sia-sia jika aku tidak pergi dan lari ke hutan saat itu ?" ujar sang prajurit.
"YA, tentu... Kematian itu pasti, kehidupan atau kematian akan menjadi sia-sia jika itu konyol. Kehidupan manusia akan sia-sia jika pemikirannya rusak lebih sia-sia dari luka yang menganga. Sudah habiskan buburmu, setelah ini bantu aku membereskan halaman belakang, tidak ada yang gratis jagoan (kembali sang pemburu tertawa terbahak)".