Aku jadi uring-uringan. Bolak-balik dapur-kamar-dapur-ruang tamu-kamar-dapur dengan siklus yang tidak jelas. Mama yang sore itu kembali lebih cepat dari toko karpet karena tidak enak badan jadi semakin gerah melihat kelakuanku. “Setrikaan yang kerjaannya mondar-mandir aja masih lebih jelas gerakan maju mundurnya ketimbang kamu, Maureen,” sindir Mama yang sedari tadi duduk selonjoran di depan ruang tamu sambil menonton acara gosip favoritnya. Tapi aku mengabaikan sindiran Mama. Pikiranku masih berkecamuk tentang Pram. Jadi aku benar-benar dicium Pram? Jadi kejadian di rumah sakit waktu itu bukan mimpi? Aku benar-benar tidak tahu harus bahagia atau marah sekarang. Lebih dari siapapun, aku yang paling tahu bagaimana aku menggilai Pram sekarang ini. Tapi lebih dari siapapun juga aku ta

