"Kita tidak akan tahu, kejutan apa yang di berikan semesta pada kita."
*****
Pagi ini tidak ada hal yang berubah daripada hari - hari sebelumnya. Setelah bangun pagi, Atha berjalan menuju dapur untuk membantu Mrs.Mira memasak.
Sepertinya Atha sudah mulai terbiasa dengan rutinitas di pagi hari. Semalam saat dia ingin menuju rumah kecil itu, Atha mengurungkan niatnya. Sebab udara semakin dingin, Atha juga hanya memakai baju tipis. Dan suasana malam itu entah kenapa membuat Atha bergidik.
Oleh sebab itu, dia langsung kembali menuju kamarnya. Atha pikir jika Dominick akan berada di kamarnya, tapi ternyata tidak. Pria itu menghilang lagi entah kemana. Atha akhirnya tidur sendirian kemarin malam.
Samantha juga sudah diantarkan pulang oleh Dominick. Gadis itu sepertinya masih harus sekolah, itulah sebabnya dia tidak bisa berlama - lama di Mansion milik Dominick.
Lagi-lagi, Atha tidur sendirian di Mansion yang begitu besar. Tanpa ada siapapun yang menemani. Atha tidak bisa kabur jika malam tiba, dia takut karena pasti jalanan akan sangat gelap dan tidak ada penerangan. Jadi Atha mengurungkan niatnya.
Saat ini Atha dengan cekatan dan juga ahli, Ia menata hasil masakanya di atas meja makan. Walau hanya masakan biasa namun terlihat mengugah siapapun yang melihatnya. Sedikit demi sedikit Atha mulai belajar masakan orang-orang luar. Yang tidak butuh banyak bumbu seperti masakan di Indonesia. Jadi Atha sedikit tertolong akan hal itu.
Menu makan pagi ini adalah kentang goreng dan sandwich, karena bahan di kulkas hanya cukup untuk membuat sandwich. Namun, sandwich yang dibuat Atha terlihat sangat tebal, penuh dengan sayuran dan daging yang dipotong tipis-tipis. Jangan lupakan telurnya juga. Entah resep dari mana, tapi hasilnya lumayan untuk dimakan.
Setelah semua makanan sudah tertata rapi diatas meja makan. Terdengar bunyi derap langkah seorang menuju ke dapur. Ternyata pemilik suara itu adalah Dominick, yang datang dengan setelan jas lengkap. Baju kebesarannya sebagai seorang CEO di salah satu perusahaan besar, Atha tidak tahu apa namanya. Karena dia memang tidak ingin tahu.
'Dia ternyata tidur disini.' Gumam Atha dalam hati. Menatap Dominick dari atas hingga bawah.
"Pagi tuan." sapa Mrs.Mira pada Dominick yang baru saja datang.
"Pagi Mrs.Mira." Balas Dominick sambil duduk di kursi yang biasanya dia tempati.
Dia melihat makanan di hadapanya, sedikit menautkan alis dia menatap ke arah Mrs.Mira. Karena piring yang berisi makanan tidak seperti biasanya.
"Hari ini nona Atha yang memasak tuan, dia ingin membuat sarapan untuk semuanya." jelas Mrs.Mira seolah tahu apa yang tengah dipikirkan oleh tuanya saat menatap makanan yang tersaji.
Dominick hanya mengangguk sebagai tanda mengerti. Dia mulai memotong sandwich dan memasukannya kedalam mulut. Tidak ada suara setelahnya, hanya suara denting pisau yang bergesekan dengan piring. Sepertinya dia suka dengan makanan yang Atha buat.
Selang beberapa lama ada suara derap langkah kaki yang terdengar semakin kencang. Dan setelah suara itu berhenti nampaklah seorang lelaki dengan jaket hitam yang di kenakanya. Tersenyum manis ke arah Dominick. Namun lelaki itu masih sibuk dengan makananya, ah itu pasti karena masakan yang dibuat Atha.
"Pagi, Alkeys" sapanya sambil berdiri di samping kiri Dominic.
Dominic pun menolehkan kepalanya, mengenali suara yang berasal dari sampingnya itu.
"Raiki, kau disini?" tanyanya dengan wajah terkejut.
"Iya, aku baru saja datang" Balasnya mengangguk, dan segera menarik kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kau sudah makan? Naik apa saat menuju kemari?" tanyanya pelan. Sifatnya yang dingin bahkan kini berubah menjadi sangat lembut.
"Tentu saja mobilku, bukan taxi tenang saja jangan menatapku aneh seperti itu." balasnya.
Atha yang sejak tadi tengah mengoreng kentang hanya mengerutkan kening. Siapa pria itu? Kenapa Dominick bersikap begitu dengannya. Tapi rasa penasaran Atha hanya terpendam dalam hati, karena sekarang dia melanjutkan aktivitasnya.
Percakapan masih terus terjadi antara Raiki dan juga Dominick. Sepertinya mereka tengah menganggap bahwa di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Mrs.Mira telah beranjak dan pamit kepada Atha bahwa dia harus membeli perlengkapan makan di kota. Dan hanya anggukan yang mampu di berikan oleh Atha.
Atha terus mencoba untuk menyibukan diri. Walaupun semua pekerjaan di dapur sudah selesai. Kedua lelaki di meja makan itu masih terus asyik dengan perbincangan mereka. Membahas soal perjalanan bisnis musik atau apalah itu. Atha tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
Awalnya Atha sedikit bingung, ternyata ada orang lain yang tahu tentang mansion ini. Bisa dia tebak bahwa pria itu adalah orang yang dekat dengan Dominick, jika tidak mana mungkin pria bernama Raiki itu bisa tahu keberadaan tempat rahasia milik tuan dingin itu.
"Jadi, dia orangnya?"
"Hmmm." balas Dominick dengan deheman.
"Di terlihat sangat polos, apa kau yakin dengan pilihanmu?" tanya Raiki lagi dengan sedikit melirik ke arah Atha.
"Tentu saja, apa kau keberatan?"
Lelaki yang bernama Raiki hanya mampu menggelengkan kepalanya, kemudian menatap Atha secara diam - diam.
Atha sebenarnya masih ingin tahu banyak tentang apa yang mereka perbincangkan. Tapi pergi adalah jawaban dari kedua kakinya. Sambil membawa sandwich dan jus jeruk Atha menyingkir dari ruang makan dan menuju ke samping mansion.
"Mau kemana?" Tanya Dominick saat melihat Atha pergi.
"Makan diluar. Kalian sepertinya tidak ingin di ganggu." Terang Atha menoleh ke Dominick.
"Baiklah."
Tidak ingin berlama - lama lagi disana. Langkah kaki Atha segera berjalan menuju ke luar. Tapi, Atha melewati mereka, Raiki memberikan tatapan aneh. Entah apa itu, pria itu terus menatapnya dan mencari tahu apa yang tengah Atha pikirkan. Tapi balasan yang mampu Atha berikan hanyalah tatapan datar dan langsung melengang pergi.
Atha membiarkan mereka berdua untuk melanjutkan peebincangan, sejak dulu Atha selalu cuek tentang apapun. Dia tidak ingin mengurusi orang lain. Dan sudah banyak orang yang membenarkan akan sifatnya yang satu itu. Atha tidak akan ikut campur selama mereka tidak ingin dia ikut andil di dalamnya.
Yah, inilah hidup seorang Atha Gilbert.
Setelah kepergian Atha, ruangan yang tadinya ramai dengan perbincangan dua laki-laki kini berubah menjadi kesunyian. Tak ada yang mencoba untuk memulai pembicaraan. Sepertinya mereka tengah mempersilahkan keheningan untuk menguasai.
"Apa kau yakin semua akan baik-baik saja?" ucap Raiki pelan.
"Tentu, kenapa memangnya?"
"Aku masih tidak memahami tentang rencanamu itu Al, kenapa harus melibatkan gadis itu?" tambahnya lagi, namun kali ini ada nada sedikit tidak setuju di dalamnya.
Sementara Dominick hanya terdiam dan sesekali meminum air putih di tangan kanannya. Dia hanya mampu memberikan tatapan tak terbaca, dan membuat Raiki mengerang pelan. Karena dia sudah tahu, pertanyaanya kali ini tidak akan mendapatkan jawaban.
"Aku sudah memikirkanya, dan ini keputusanku. Kau setuju atau tidak aku akan tetap melakukanya. Membuat dia hamil anakku, mengambil bayi itu dan menyerahkannya pada Daddy. Setelah itu dia akan aku kembalikan ke tempat asalnya. Dengan sebuah perjanjian tentu saja." jelasnya panjang lebar
Penuturan Dominick membuat raut wajah Raiki berubah, terlihat sangat jelas wajah keterkejutan. Karena dia tidak menyangka lelaki dihadapannya akan melakukan hal sekejam itu.
"Kau akan memisahkan seorang ibu dari anaknya?!"
"Ya,"
"Itu sangat kejam Al, tidak adakah cara lain untuk__"
"Tidak!!" potong Dominick cepat dan langsung menatap wajah Raiki. "Hanya ini satu-satunya cara agar Daddy tidak menganggu hubungan kita, aku mencintaimu. Dan tidak ada yang bisa menghalangi aku untuk melakukanya. Sekalipun itu ayah kandungku."
Ini sebuah kejutan baru bukan?! Sebuah kenyataan dimana lelaki yang membeli Atha seharga sepuluh puluh juta dollar ternyata adalah seorang Gay! Catat seseorang yang menyukai sesama jenis. Bukan seorang wanita.
Sampai kapan lelaki itu mampu menutupi rahasia sebesar ini? Sebuah rahasia yang akan menyakiti salah satu diantara mereka. Tidak, sejak awal pun Atha sudah terluka. Tentu saja karena kebohongan yang Dominick sembunyikan.
"Lalu bagaimana rasanya bercinta dengan seorang wanita, setelah sekian lama." pertanyaan yang diajukan Raiki tidak terduga.
Dominick menghentikan kegiatannya untuk mengunyah, dia lalu menoleh ke samping tempat Raiki berada.
"Kau juga tahu jawabannya, tidak ada hal yang spesial. Aku melakukannya tanpa ada rasa lain, Raiki. Karena aku tidak merasakan apapun ketika bersamanya." terang Dominick serius.
"Mungkin saja kau berubah pikiran, Al" tambah Raiki mengedipkan bahu.
"Itu tidak akan pernah terjadi, sampai kapanpun aku tidak akan pernah berhubungan dengan wanita. Mereka terlalu merepotkan."
"Semoga saja itu benar." Balas Raiki mulai memakan sandwich milik Dominick. Memakannya dalam diam. Sesekali dia menatap ke arah Dominick.
Sebuah kejutan lagi, ternyata apa yang di lakukan oleh Dominick hanyalah sebuah acting saja. Tidak ada kesungguhan di baliknya. Semuanya palsu, untuk kepentingannya sendiri.
Perlakuanya pada Atha kemarin lusa hanyalah sebuah pengalihan agar Atha tidak memberontak dan menuruti apa maunya. Dia paham betul seperti itulah caranya mempermainkan perasaan wanita.
Hanya dengan memperlakukannya dengan lembut, lalu mereka akan terbuai sendiri.
Tanpa tahu apa maksud yang tersembunyi di balik sana. Terdengar sangat menyakitkan, tapi sebagian pria menggunakan cara picik itu untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Dan sekarang Atha yang menjadi korban nya.
Gadis polos itu tidak tahu hal apa yang akan dia terima dan rasakan selanjutnya. Yang pasti ketenangan ini tidak akan bertahan lama untukmu Atha.
.
.
.
.
.
To be continued.