SWC 14 (amplop)

829 Words
Membaca novel adalah hobi ataya yang selalu ia lakukan jika ada waktu senggang atau saat weekend seperti ini.  Menurutnya membaca novel lebih menyenangkan dari pada membaca rumus fisika maupun kimia. Mungkin itu sebabnya ataya menjadi lemot di pelajaran itu. Langkah kaki ataya membawanya menuju halaman belakang rumahnya. Ia berjalan sambil membaca novel kesayangannya yang entah sudah berapa kali ia baca itu. Saat sampai di depan ambang pintu belakang yang menuju halaman belakang rumah ,fokus ataya teralihkan dengan suara bola yang di pental kan. Membuat langkahnya terhenti. Memang di halaman rumah mereka,  ada sebuah lapangan basket kecil. Karena sejak dulu ayahnya hobi bermain basket,  begitu pula dengan artha dan ataya. Tunggu! Bukan kan ayahnya tadi bilang jika pergi ke bengkel untuk membenarkan mobilnya?  Lalu siapa yang bermain?  Bundanya?  Tidak mungkin. Bundanya satu satunya orang yang tidak bisa bermain basket dikeluarga ini. Itu berarti dia adalah... Ataya langsung mengalihkan pandangannya dari novel ke arah lapangan basket itu. Matanya menagkap sosok artha yang berlari mengitari lapangan sambil mendribble bola basketnya. Artha belum menyadari kehadiran ataya disana. Seketika hati ataya merasa damai melihat ataya. Karena sejak kemarin kejadian di kantin itu ataya sama sekali tidak melihat sosok artha disekolah maupun dirumah. Artha berlari kecil kemudian melompat dan memasukkan bolanya le dalam ring. Posisinya membelakangi ataya. Bolanya berhasil masuk dengan sempurna. Bola itu menggelinding dan terpental lagi saat menabrak tembok pagar rumah. Membuat artha harus membalik badannya untuk mengambil bola yang menggelinding melewatinya. Artha berlari mengambil bolanya kemudian barulah tatapannya bertemu dengan tatapan ataya yang masih berdiri ditempat yang sama. Mereka terdiam. Sama sama terdiam. Tatapan beradu satu sama lain. Entah berapa lama sampai akhirnya artha yang memutuskan tatapannya terlebih dahulu. Artha berjalan mendekati ataya dan ataya hanya diam saja. Rasanya ataya ingin mengataka kata maaf. Entah kenapa ia hanya ingin mengatakan itu. Namun lagi lagi lidahnya kelu. Ataya melihat artha yang berjalan ke arahnya dengan nafas yang memburu. Ia merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Lima langkah lagi artha akan sampai dihadapannya dan... Ternyata artha hanya melewatinya saja. Artha masuk ke dalam rumah lewat di sebelah ataya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan meliriknya pun tidak. Ataya membalik kan badannya menatap punggung artha yang semakin lama semakin menjauh. Entah kenapa hatinya sakit. Bukankah ini yang ia inginkan?  Namun kenapa ketika semua sudah benar benar terjadi dirinya malah merasa tersakiti. Lebih sakit dari apa yang artha lakukan waktu itu. Saat artha merebut mahkotanya "ataya!! " ataya tersadar dari lamunanya saat mendengar suara panggilan bundanya "iya bun" jawab ataya. Kemudian ia berlari kecil menemui bundanya yang ada di dapur itu ********** Saat ini sudah pukul 5 sore. Artha baru saja terbangun dari tidurnya dan menyelesaikan mandi sorenya. Seharian ini ia habiskan didalam kamar dengan bermain playstation saja. Ia malah keluar kamar apalagi keluat rumah. Artha belum mengenakan pakaiannya dan ia hanya memakai celana sebatas lutut saja. Tangannya memegang handuk kecil yang ia gosokkan dirambut agar rambut nya kering.  Artha berdiri didepan cermin dan menyemprotkan minyak wangi ketubuhnya. Dari pantulan cermin itu artha melihat ada sebuah amplop berwarna merah di atas ranjangnya. Artha membalik badannya dan berjalan mendekati ranjangnya. Ia mengambil amplop itu. Membolak balik nya sebelum ia membuka isi dari amplop itu. Seingatnya sebelum ia mandi tadi amplop itu belum ada. Mungkin amplop itu diletakkan disana saat ia mandi. Artha membuka isi amplop itu. Ada sebuah kertas berwarna pink didalamnya. Artha mengeluarkan kertas itu dan membuka lipatannya. Matanya membaca isi dari surat itu. Setelah membaca surat itu artha terdiam sejenak. Memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah ini. Kemudian ia kembali melipat kertas itu dan memasukkan nya kembali kedalam amplop itu. Artha berjalan ke arah meja belajarnya. Membuka lemari meja belajarnya itu kemudian mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang yang berwarna merah dengan gambar sang surya atau matahari. Artha membuka kotak itu. Disana ada banyak foto foto nya bersama ataya. Dari foto sejak mereka masih di sekolah TK saat mama dan papa ataya masih hidup,  sekolah dasar ketika ataya sudah tinggal bersamanya hingga foto ulang tahun artha dan ataya tahun lalu. Artha menyimpan amplopnya ke dalam kotak itu. Di sana juga bukan hanya ada amplop itu saja. Ada banyak sekali amplop amplop lain yang berisi surat juga. Semua itu disimpan dengan baik oleh artha di dalam kotak itu. Itu sebabnya artha sangat menjaga kotak itu karena kotak itu berisi kenangan kenangan bersama orang orang yang artha sayangi. Artha mengembalikan kotaknya kedalam lemari meja belajarnya. Kemudian ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Rasanya berat. Sangat berat. Entah kenapa ini bisa terjadi padanya. Jika tidak pastu semuanya akan baik baik saja. Bukan kan sepandai pandainya menyimpan rahasia akan terungkap juga suatu saat nanti.  Bagaimana reaksi orang tuanya saat memgetahui apa yang ia lakukan?  Apakah ia akan di usir dan di coret dari KK?  Atau bahkan ayahnya akan membunuhnya? Pasrah adalah yang dilakukan oleh artha. Bagaimana pun ini juga adalah kesalahannya. Murni kesalahannya dan artha harus bertanggung jawab. Itulah yang selalu dikatakan oleh ayahnya. Apapun yang terjadi jika itu memang murni kesalahannya ia harus berani bertanggung jawab .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD