SWC 15 (yang sama)

1037 Words
Artha sudah berada di tempat yang sesuai dengan apa yang di tulis di surat itu. Yaitu di sebuah cafe outdoor yang berada di pusat kota.Artha tau surat itu dari siapa. Meski disana tidak tertera siapa penulisnya sudah bisa dipastika jika penulisnya adalah ataya. Sejak kecil jika ataya merasa melakukan kesalahan padanya ia akan memberikan surat yang selalu di letakkan secara diam diam didalam kamarnya. Itu karena ataya merasa malu jika meminta maaf secara langsung. Sedangkan bunda dan ayahnya selalu mengajarkan agar selalu meminta maaf meski sekecil apapun kesalahan kita. Biasanya setelah membaca surat dari ataya, artha akan pergi menemui ataya dan bersikap seolah tidak terjadi apapun. Namum apakah kali ini ia akan melakukannya juga? Tapi untuk apa ataya mengatakan maaf jika ia tidak melakukan kesalahan? Memang artha merasa sakit ketika mengetahui ataya adalah kekasih ken. Tapi bukankah itu hak ataya mau berpacaran dengan siapa saja? Artha melihat ada sebuah boneka di salah satu kursi yang ada disana. Boneka keledai. Itu adalah boneka satu satunya yang pernah artha punya waktu kecil. Dan boneka itu pun di berikan oleh ataya pada ulang tahun artha yang ke 10 tahun. Artha baru mengingat. Tempat ini adalah tempat dimana artha dan keluarganya merayakan ulang tahun nya yang ke 10 tahun juga. Namun waktu itu masih berupa taman saja. Belum ada cafe yang berdiri disini  "bang artha" panggil ataya. artha melihat ataya berjalan mendekat padanya. Kemudian ataya berdiri didepan artha. Ataya menundukkan kepalanya. Bibirnya bergerak seakan ingin mengatakan sesuatu namun selalu diurungkannya "kenapa? Mau ngomong apa? Abang dengerin kok" ucap artha dengan memegang kedua bahu ataya. Ataya mendongak menatap artha yang lebih tinggi darinya. Mata ataya berkaca kaca. Pandangannya sudah memburam karena air mata yang menggenang di pelupuk matanya "ataya.... " ucap ataya dengan sangat pelan "iya, ataya kenapa? " tanya artha masih menatap mata ataya dengan intens "ataya mau minta maaf. Ga seharusnya ataya bersikap acuh sama bang artha. Padahal bang artha selalu baim dan sayang sama ataya. Ataya.. Ataya.. Hiks" ataya mulai terisak dan artha langsung menariknya dalam pelukannya. Rasanya sangat nyaman. Seperti bertemu seseorang yang sekian lama tidak berjumpa. Ataya terisak didada artha. "ssttt udah jangan nangis di lihatin orang tuh" bisik artha di telinga ataya "bang artha maafin ataya kan? " tanya ataya dengan sesenggukan "ataya ga salah. Bang artha yang salah. Yang seharusnya minta maaf itu abang bukan kamu, karena abang udah..." jari telunjuk ataya berada di bibir artha menghentikan apa yang akan dikatakan oleh artha "jangan bahas itu lagi" ucap ataya dengan menatap mata artha. Ataya berjinjit mendekatkan wajahnya dengan wajah artha. Kemudian Cupp satu kecupan diberikan oleh ataya dibibir artha. Artha terdiam. Otaknya memcerna apa yang baru saja terjadi. Ataya menciumnya? Dibibir? Biasanya ataya hanya akan mencium pipi nya. Namun apa ini Ataya kembali menjauhkan wajahnya dari wajah artha. Dengan mata saling beradu ataya menjelaskan sesuatu pada artha "bang, aku ga pacaran sama ken. Aku gatau kenapa tiba tiba dia ngaku ngaku kalau dia pacar aku. Padahal dia ga pernah nembak aku dan aku juga ga merasa nerima cinta dia. Aku bingung harus gimana. Aku takut bang artha marah sama ataya karena ini. Aku... " "kawatir? " ucapan ataya terpotong oleh artha. Ataya terdiam. Menganggukkan kepalanga untuk apa yanh dikatakan artha barusan "kenapa kamu kawatir sama perasaan ku? " tanya artha. Ataya mengerjapkan matanya. Matanya menatap kearah lain. Ya, pertanyaan artha benar. Kenapa ia kawatir tentang perasaan artha? Tentang apa yang ada dipikiran artha soal dirinya. Ataya kembali menatap mata artha. Begitu pula dengan artha yang tak pernah melepaskan pandangannya dari ataya. Orang yang sangat ia sayangi dan cintai "mungkin aku juga memiliki rasa yang sama dengan bang artha" ucap ataya pelan. Ataya mengakui cintanya pada artha. Jadi selama ini mereka sama sama jatuh cinta. Kakak adik sepupu yang saling jatuh cinta? Artha tersenyum. Ia merengkuh pinggang ataya agar mendekat padanya. Kemudian tangannya beralih membingkai wajah ataya "aku tau kamu memiliki rasa yang sama. Jika kamu tidak memiliki rasa itu, kamu pasti sudah menceritakan apa yang aku lakukan padamu waktu itu pada ayah dan bunda. Kemudian kamu akan membenciku. Tapi nyatanya? Tidak. Kamu sama sekali tidak membenciku. Benarkan? "ucap artha memastika. Ataya menganggukkan kepalanya. Membuat artha tersenyum "boleh aku minta satu hal sama kamu? "tanya artha. Dan lagi lagi diangguki oleh artha "jika setelah ini aku masih menyakitimu. Baik perasaan maupun fisikmu. Tolong belajarlah untuk membenciku" ataya membelalakkan matanya. Bingung dengan apa yang dikatakan oleh artha "maksud bang artha? " tanya ataya. Tangannya mengenggam tangan artha yang masih membingkai wajahnya "ya. Jika aku melakukan kesalahan kamu harus membenciku. Karena jika kamu tidak membenciku, aku bisa mengulangi kesalahan yang sama. Dan aku akan menyakitimu lagi. Aku tidak mau kamu selalu merasa tersakiti" ucap artha. Membuat ataya menitikkan air matanya lagi. Ataya melepas bingkaian tangan artha diwajahnya. Kemudian memeluk artha dengan sangat erat. "ga bisa. Ataya ga bisa" artha menguraikan pelukan ataya kemudian ia memegang kedua bahu ataya "harus bisa" tegas artha. Akhirnya ataya hanya menganggukkan kepalanya. Artha tersenyum dan mengusap air mata ataya "ini dari kamu? " tanya artha. Ataya melihat boneka itu. Kemudian ia mengerutkan keningnya "bukan. Aku kesini ga bawa boneka. Bang artha pengen boneka? Ini boneka siapa? " tanya ataya "kakak kakak" panggil seorang anak kecil yang menarik narik baju baju arta dari belakang. Otomatis artha membalik kan badannya. Ia menundukkan badannya agar lebih dekat dengan gadis cilik itu "itu punya ataya" gadis kecil itu menunjuk boneka yang dibawa artha "ataya? Nama kamu ataya? " tanya artha pada gadis cilik itu. Gadis cilik itu mengangguk "sama dong. Nama kakak juga ataya" ucap ataya kemudian berjongkok didepan gadis cilik itu "oh ya? Wah nama kita sama. Ataya seneng deh punya kembaran" artha dan ataya tersnyum. Gadis cilik yang berusia sekitar tujuh tahunan itu sangat menggemaskan. "ini boneka kamu" artha memberika bonekanya kepada gadis cilik itu. Kemudian anak itu menerimanya "ini buat kakak aja. Karena nama kita sama" ataya menerima boneka itu kemudian mencubit kecil pipi gembul anak itu "terimakasih. Kamu baik deh. Cantik juga" gadis cilik itu tersenyum. Kemudian berlari meninggalkan artha dan ataya disana. Ataya berdiri kemudian berbalik menghadap artha. Dilihatnya artha sedang memperhatikannya sambil melipat kedua tangannya didada. "kenapa bang? "tanya ataya "kamu juga cantik" ucap artha kemudian dengan langkah cepat artha mencium bibir ataya. Ataya berjinjit untuk membalas ciuman itu   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD