SWC 8 (ungkapan) 21+

842 Words
Ataya berbaring di ranjangnya. Tubuhnya sangat lemas. Ia menunggu kedatangan artha yang pergi membeli obat untuk nya. Pintu kamarnya terbuka dan menampakkan sosok artha yang membawa segelas air putih dan kantong plastik putih. Ia berjalan ke arah ataya kemudian duduk di tepi ranjang. "ayo minum obatnya" artha membantu ataya untuk bangkit dari tidurnya dan merubah posisinya menjadi duduk bersandar dikepala ranjang. Artha mengeluarkan obat dari kantong kresek itu. Kemudian mengambil sekapsul obat itu dan memberikannya pada ataya. Ataya menerima obat itu, namun untuk sejenak ia memperhatikan obat yang ada di telapak tangannya itu. Ia seperti pernah melihat obat ini. Dan beberapa detik kemudian ataya ingat jika ini adalah obat yang rutin di konsumsi oleh bundanya. Apalagi jika bukan obat pencegah kehamilan. Ataya menatap obat itu dengan tangan bergetar dan mata nya sudah memburam karena tertutupi air mata yang siap jatuh menetes. Artha menatap wajah ataya yang terlihat sangat tertekan itu. Ia tau ia salah. Ia sadar jika disini dirinya lah yang jahat. Artha mengulurkan tangannya dan memegang pundak ataya. Tatapan ataya langsung beralih pada artha. Artha menganggukkan kepalanya memberi isyarat agar ataya meminum obatnya. Kemudian dengan tangan bergetar ataya memasukkan obatnya kedalam mulutnya kemudian ia langsung meneguk air yang diberikan oleh artha. Ataya kembali di baringkan oleh artha di ranjang. Ataya menutup matanya karena kepalanya pusing. Usapan lembut diberikan oleh artha pada ataya di puncak kepalanya Artha menyikap selimut yang menutupi tubuh ataya. Kemudian ia menurunkan celana panjang ataya yang bergambar doraemon itu. Ataya terkejut dan menatap artha dengan tatapan memohon agar artha tidak melakukannya lagi "tenang saja. Aku tak akan melakukannya lagi. Aku hanya ingin memberikan salep pada vaginamu" ucap artha sambil menunjukkan salep yang ia beli tadi. Akhirnya ataya pasrag dengan apa yang dilakukan oleh artha. Ataya membiarkan artha melucuti pakaian bagian bawahnya Artha membuka paha dan duduk diantara keduaya. Sehingga v****a ataya bisa terlihat jelas. Artha membuka penutup salep itu. Kemudian mengambil sedikit salep itu dengan jarinya. Artha membuka belahan v****a ataya dan kemudian dengan telaten ia memberika salep pada bagian dalam v****a ataya. Usapan lembut jari artha membuat ataya memejamkan matanya. Jujur saja jika ataya merasakan nikmat meski juga ada sedikit rasa perih. Artha kembali mengambil sedikit salep dengan ujung jarinya kemudian mengusapnya tepat di lubang v****a ataya yang merah itu. "ahh shhh" desis ataya saat jari artha menyentuh bagian itu "perih? " tanya artha sambil menatap ataya. Ataya menganggukkan kepalanya "aku akan pelan tahan ya. Memang akan sakit, tapi ini agar vaginamu tidak sakit lagi" artha kembali mengoleskam salep itu dengan sangat pelan, lembut dan telaten. "nah sudah selesai" ucap artha. Ataya merapat kan kembali pahany namun di cegah oleh artha "jangan dulu. Biarkan kering dulu" ucap artha sambil bangkit dari posisinya. Akhirnya ataya tetap pada posisi mengankang seperti itu. Memang vaginanya terasa lebih baik pada posisi ini. Ia bisa merasakan angin yang menerpa vaginanya yang diberi salep itu. Artha masuk kedalam kamar mandi dan mencuci tangannya. Kemudian ia kembali kepada ataya yang masih diam diposisinya tadi. Jujur artha sejak tadi mati matian menahan nafsunya. Apalagi saat melihat paha putih mulus ataya dan v****a ataya yang merah dengan bulu bulu tipis itu. Dan kini posisi ataya benar benar menggoda imannya. Namun artha tetap menahannya karena ia tau ataya sedang kesakitan dan ia tidak sekejam itu menyetubuhi adiknya yang sedang sakit Artha duduk di tepi ranjang itu. Tamgannya membelai pipi ataya. Ataya bisa melihat jika artha sedang ingin mengatakan sesuatu, namun artha tidak kunjung mengatakannya. Tangan ataya bergerak mengenggam tangan artha yang membelai pipinya itu "ada apa bang? Kalau mau ngomong, ngomong aja. Ataya dengerin kok" ucap ataya dengan lembut Artha menundukkan kepalanya. Namun tiba tiba artha terisak kecil. Membuat ataya panik. Ataya menarik tangan artha sehingga posisi artha menunduk lebih dekat padanya yang sedang berbaring itu. Ataya membingkai wajah artha dan menatap mata artha yang memerah itu "bang kenapa? " tanya ataya. Artha mengenngam kedua tangan ataya yang membingkai wajahnya. Dan menegakkan kembali tubuhnya "maaf. Aku tau aku cowok brengsek. Seorang kakak yang brensek. Maafin aku ataya" ucap artha dengan suara seraknya "kapan sih ataya bisa marah lama lama sama bang artha? Meski awalnya ataya benci sama bang artha tapi kemudian ataya kembali kehilangan rasa itu. Ataya ga pernag bisa untuk benci sama bang artha. Karena ataya sayang sama bang artha" ucap ataya dengan senyum manisnya "kamu sayang sama aku? " tanya artha. Ataya mengangukkan kepalanya "aku juga sayang. Tapi ketahuilah sayang ku berbeda darimu ataya" ucap artha. Membuat ataya mengerutkan keningnya tak mengerti "maksudnya? "tanya ataya "aku sayang sama kamu. Bahkan aku cinta sama kamu. Tapi bukan sayang dan cinta sebagai adik tapi sebagai seseorang pengisi hatiku" Degg Ataya terdiam mendengar ucapan artha. Jadi artha mencintainya sebagai wanita? Bukan sebagai adik? Bagaimana bisa? Mereka saudara dan tidak seharusnya seperti ini. Ya meskipun mereka adalah sepupu namun tetap saja ini salah Artha dan ataya tetap sama sama diam. Mereka beradu pandangan satu sama lain. Dengan pikiran berkelana kemanapun. Artha berfikir apakah ataya bisa menerima perasaannya? Atau setidaknya menghargai perasaanya? Dan ataya memikirkan bagaimana bisa ini terjadi? Apakh yang harus ia lakukan setelah ini? . . . .  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD