Ataya berjalan memasuki rumahnya. Ia baru saja pulang sekolah diantar oleh corel dan supirnya. Rumahnya terlihat sepi. Ataya berjalan menaiki tangga untuk memasuki kamarnya. Namun langkahnya terhenti di tengah anak tangga saat bundanya memanggilnya "ataya sudah pulang? " tanya bundanya. Ataya berbalik kemudian kembali turun tangga untuk menemui bundanya "iya bun. Ataya kira bunda ga dirumah" kemudian ataya mencium tangan bundanya "bunda didapur masak. Terus abang kamu mana? "tanya bundanya "emm itu bun. Mulai sekarang kan kelas 12 ada pelajaran tambahan untuk persiapan UN" ucap ataya. Memang artha ada pelajaran tambahan disekolanya. Namun seandainya tidak ada pelajaran tambahan ataya akan tetap pulang sendiri. Ia butuh waktu untuk memikirkan semua yang terjadi belakangan ini antara dirinya dan artha "oh iya bunda lupa. Tadi artha udah bilang sih. Terus kamu tadi pulangnya sama siapa? " "sama carol bun. Carol kan antar jemput supirnya" "kok ga diajak mampir? " "enggak bun. Katanya lain kali aja" "yaudah kamu sekarang ganti baju terus kita makan ya" "siap bunda" ucap ataya dengan tangannya yang hormat seperti saat upacara bendera. Bundanya tertawa kemudian meninggalkan ataya. Ataya kembali menuju ke kamarnya sesuai perintah bundanya untuk berganti baju ********** Artha terus menatap layar ponselnya. Ia menunggu pesan dari ataya. Tadi ia sudah mengirim pesan jika ia ada pelajaran tambahan. Namun ataya tidak membaca pesannya. Ingin menelfon tapi artha takut menganggu ataya atau diabaikan oleh ataya. Ia tidak siap untuk itu "artha!" panggil guru nya yang sedang menjelaskan di depan. "eh iya bu? " artha langsung gelagapan "kerjakan soal ini. Ayo! " artha menghela nafas nya. Ya karena ia tidak fokus jadilah mendapat hukuman seperti ini. Digo dan dirga yang duduk di depan nya menoleh ke arah artha dibelakangnya kemudian tertawa cekikikan. Artha tidak peduli. Ia berjalan kedepan dengan santai "ini spidolnya. Kerjakan soal yang ada dipapan itu. Jika salah saya akan terus memberikan soal yang lebih untuk kamu" artha menerima spidol itu. Ia membaca soal nya kemudian memahaminya. Barulah tangannya bergerak menulis kan angka dan rumus fisika yang digunakan untuk menyelesaikan soal itu "ini bu" artha memberika spidolnya kepada bu tatik wanita paruh baya guru fisikanya itu "ya jawaban kamu benar. Untung kamu pandai. Jika tidak kamu akan muntah muntah dapat soal dari saya. Lagian kalau ada guru menjelaskan itu perhatikan jangan sibuk sama ponsel kamu. Mentang mentang kamu pandai. Tapi kalau kamu tidak mendengarkan guru menjelaskan kamu bisa pandai dari mana? Ngerti Artha? " artha menundukkan kepalanya mendengarkan wejangan dari gurunya itu. "iya bu saya mengerti" "ya sudah kembali ke tempat duduk kamu" artha kembali ke tempat duduknya. Dan ia melihat dirga dan digo memberinya jempol dan artha hanya tersenyum saja. Kemudian artha duduk kembali di bangkunya dan kali ini berusaha fokus pada pelajarannya ***** Laptop menyala, buku terbuka, dan soal soal kimia sudah ada dihadapan ataya. Ia mengusal usal rambutnya frustasi. Sungguh ataya menyerah dengan soal soal ini. Ia merasa otaknya sudah buntu tidak ada jalan keluarnya. Biasanya jika seperti ini ia akan menemui artha untuk meminta bantuan dan artha selalau berhasil menyelesaikannya. Tapi kali ini apa harus ataya meminta bantuan pada artha? Ia belum siap untuk bertemu artha. Apalagi berbicara padanya. Ataya membanting tubuhnya di ranjang. Kemudian mengambil gulingnya dan memeluknya erat. Menyembunyikan wajahnya di guling itu. Ataya menangis disana. Sungguh sebenarnya ini sangat menyiksa. Ataya tak bisa seperti ini dengan artha. Tapi ia juga tidak sanggup untuk bersama artha saat ini Ataya bangkit dari berbaringnya. Kemudian ia mengambil lagi buku soalnya. Ia mencengkram buku nya sampai kusut. Kemudian kembali terisak "hiks ataya kesel kesel. Ngeselin... Kenapa sih punya otak kok bego banget. Soal gini aja ga bisa. Buat apa sekolah kalau bego terus. Dasar ataya hih kesel hiks hiks" Artha yang baru saja pulang dan ingin membuka pintu kamarnya. Mengerutkan keningnya saat mendengar suara ataya di dalam kamarnya yang berada di sebelah kamar artha. Artha mendekat ke arah pintu kamar ataya yang berwarna biru itu. Ia mendekatkan telinganya ke pintu itu untuk mendengar lebih jelas suara ataya "hiks bego bego bego... Ataya bego. Gimana sih ni soal hiks. Kalau ini belum selesai besok pasti kena hukum sama pak warso hiks gimana nih" Artha mendengarkan semuanya. Ternyata ataya sedang kesulitan mengerjakan soal. Artha tau jika ataya memang sedikit lemot jika di pelajaran matematika, fisika dan kimia. Dan biasanya dia yang akan membantu ataya. Artha ingin membuka pintu itu dan masuk ke dalam sana. Untuk membantu adiknya itu. Tapi ia merasa ragu. Ia takut ataya akan marah padanya. Akhirnya artha memilih kembali lagi ke kamarnya saja Di dalam kamarnya artha membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu. Ia memejamkan matanya. Hatinya terasa ngilu mendengar isakan ataya didalam kamarnya. Ia masih bisa mendengar itu. Karena memang kamar mereka Bersebelahan. Bahkan terkadang mereka sering mengobrol dari kamar masing masing. Dan suara mereka masih bisa terdengar dengan jelas Ini menyiksa artha. Ingin artha mengakhiri ini tapi ia tak bisa. Jika ini yang di inginkan ataya artha harus bagaimana lagi. Biarkan ataya memiliki waktu untuk memikirkan semua ini. Isakan ataya masih terdengar oleh artha. Artha yakin ataya tidak tau jika dirinya sudah ada di rumah. Karena jika ataya tau ataya tidak akan menangis seperti ini. Ia akan menyembunyikan isakannya. Artha mencengkram rambutnya karena merasa kesal. Ia sudah tidak tahan mendengar isakan ataya. Ini menyiksanya. Dengan langkah cepat artha berjalan menuju pintu itu. Ia sudah tidak bisa terus terusan berdiam diri di atas ranjangnya mendengar isakan ataya Ceklek Ataya yang berubah tidur menjadi tengkurap di ranjangnya itu menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Dan menampilkan seseorang yang berdiri di ambang pintu itu .