SWC 12 (Perlu Waktu)

916 Words
Ataya menoleh ke arah pintu yang terbuka itu. Menampilkan seseorang yang berdiri diambang pintu "kamu kenapa? " tanya bundanya. Ataya merubah posisinya menjadi duduk "ataya ga bisa ngerjain tugas bun. Ataya ga ngerti caranya" ucap ataya sambil sesenggukan.  Bundanya berjalan mendekat dan mendekap ataya yang sudah ia sayangi seperti putri kandungnya itu "loh kenapa nangis?  Kan biasanya bang artha bantuin kamu.  Sekarang minta bantuan gih sana" ucap bundanya sambil mengelus rambut ataya dengan sayang "kan bang artha belum pulang bun" hanya alasan saja. Jika ia bisa meminta bantuan pada artha dia tak akan menangis. Namun kali ini berbeda "artha udah pulang dari tadi. Dia di kamarnya. Mungkin tidur. Mangkannya ga denger kamu nangis" ucap bundanya. Ataya membelalakkan matanya. Kemudian mengurai pelukannya "bang artha udah pulang? " tanya ataya memastikan. Bundanya menganggukkan kepala dengan mantab 'mampus lo ataya pasti bang artha denger lo nangis'  batin ataya "yaudah sana gih temuin dia. Minta tolong sana. Jangan nangis" "tapi...  Katanya bang artha tidur. Enggak ah takut ganggu" "sejak kapan artha pernah merasa terganggu sama kamu. Ayo sana" "tapi bun.. " "ayo.!!" bundanya menarik tangan ataya untuk keluar kamar. Dan berdiri didepan pintu kamar putranya Tok tok tok "artha... Nak ini bunda. Tolong bukain pintunya" teriak bundanya. Ataya berdiri di belakang bundanya dengan menundukkan kepalanya. Kali ini ia tidak bisa menghindar. Dan ia baru sadar jika dirinya sangat bergantung pada artha Didalam kamar itu Artha baru saja selesai mandi. Ia masih mengenakan celana boxer saja dengan rambut yang masih basah. Mendengar ketukan pintu bundanya,  artha melangkah ke arah pintu itu dan membukanya. "ada apa bun? " tanya artha. Melihat bundanya berdiri didepannya dengan ataya yang menunduk dibelakang bundanya "nih adik kamu nangis. Ga bisa ngerjain tugas. Bantuin gih kasian" ucap bundanya. Artha masih diam. Ia melihat ke arah ataya yang masih menunduk dan sama sekali tidak melihat ke arahnya.  Kemudian artha menghel nafasnya "iya aku bantuin. Bentar ya artha pakai baju dulu." "yaudah kamu pakai baju dulu. Biar ataya tunggu di ruang tengah saja" artha mengangguk kemudian menutup kembali pintu kamarnya. "bunda tinggal dulu. Selesaikan tigas kamu sama abang kamu ya. Jangan nangis lagi. Kesayangan bunda jelek kalau nangis" kemudian bundanya mencium kening ataya dan meninggalkannya yang masih berdiri di depan pintu kamar artha yang terturup itu. Ataya menatap pintu itu dengan nanar. Lucu.  Saat pemilik kamar ini ada dihadapannya ia tak berani menatap sekarang saat orang nya tidak ada ia ingin melihat wajah orang itu. Dasar labil Ataya kembali kekamarnya untuk mempersiapkan keperluan belajarnya. Kali ini ia mulai menyerah untuk menghindari artha. Bagaimana pun ia juga masih bergantung pada artha. Dan itu tidak bisa ia pungkiri. Ataya berjalan keluar kamarnya untuk menuju ruang tengah rumahnya. Saat melewati kamar artha, ataua berhenti sejenak. Ia menatap pintu itu. Kemudian menghela nafasnya dan kembali melanjutkan langkahnya. Didalam kamar artha sudah memakai pakaiannya. Ia ingin keluar dari kamar untuk menemui ataya dan membantu ataya mengerjakan tugasnya. Namun tiba tiba ada rasa gugup yang menerpanya. Artha kembali membaringkan  tubuhnya di ranjang  Menatap langit langit kamarnya dan memikirkan apa yang terjadi nanti. Apakah ataya mau berbicara padanya?  Atau hanya diam saja?  Karena ia tahu,  pasti tadi bundanya yang memaksa ataya untuk meminta bantuan pada dirinya. Bahkan tadi yang mengatakan adalah bundanya bukan ataya sendiri. Artha menghela nafas. Kemudian ia bangkit dari bebaringnya dan pergi untuk menemui ataya. Ia sudah pasrh dengan apa yang terjadi nanti. Artha menuruni tangga dengan santai. Ia dapat melihat ataya yang duduk di karpet bulu dengan kepala diletakkan di atas meja. Posisi kepala ataya membelakangi artha. Artha berjalan mendekat secara perlahan. Semakin dekat artha bisa melihat jika tubuh ataya bergetar. Ia tau jika ataya menangis. Artha duduk di samping ataya. Ataya yang merasakan kehadiran seseorang langsung menegakkan tubuhnya dan mengusap air matanya "kenapa? " tanya artha dengan lembut menatap wajah sembab ataya yang sama sekali tak menatapnya. Ataya hanya menggelengkan kepalanya. Artha menghela nafas. Ternyata benar ataya masih tak mau berbicara padanya "mana tugasnya yang ga bisa? " tanya artha. Ataya membuka buku tulisnya dan menunjukkan soal soal yang ia tak mengerti dengan ujung pulpen nya Artha membaca soal itu. Kemudian ia mengambil pulpen yang ada di genggaman ataya. Tangan nya perlahan menuliskan jawaban jawaban dari soal itu dengan mulut yang memberi penjelasan kepada ataya. Ataya hanya diam mendengarkan. Jika ditanya sudah mengerti ataya akan mengangguk jika ia mengerti jika tidak ia hanya akan menggeleng. Dan artha dengan sabar mengulaingi lagi penjelasannya. Memang harus sabar memiliki adik lemot "mengertikan? " tanya artha. Ataya menganggukkan kepalanya "mana lagi yang ga bisa?  Ini aja? " ataya menganggukkan kepalanya Ataya membereskan buku dan peralatan tulisnya. Artha memperhatikan gerak gerik nya. Aaat ataya akan bangkit dari duduknya artha mencekal tangannya. Ataya menatap tangannya yang dicekal artha kemudian beralih ke mata indah artha "kamu masih marah sama aku?  Apa aku salah punya perasaan itu ke kamu yanh selama ini selalu ada di hidup aku. Jika kamu marah boleh aja. Tapi jangan diemin dan hindarin aku kayak gini. Jangan benci.Lebih baik kamu pukulin aku atau apalah yang lain tapi jangan diemin aku" ataya menatap mata artha. Terlihat tulus kata kata yang diucapkan oleh artha.  Namun ataya masih tao bisa berlaku seperti biasa pada artha setelah yang terjadi Ataya menyentak cekalan tangan artha. Ia berdiri dan menatap artha "ataya ga bisa benci sama bang artha. Ataya hanya perlu waktu. Tolong untuk sementara biarin kayak gini dulu. Ataya perlu berfikir" ucap ataya kemudian berlari kecil meninggalkan artha menuju kamarnya. Artha hanya diam menatap kepergian ataya. Y jika ataya ingin waktu artha akan berikan. Apa yang tidak untuk ataya 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD