Pagi ini ataya lagi lagi berangkat sekolah tanpa artha. Sudah selama seminggu ini ataya selalu berangkat dengan naik bemo dan pulang bersama carol. Ataya masih sama seperti kemarin. Bersikap cuek kepada artha. Di rumah ataya dan artha hanya akan bertemu saat makan saja. Setelah itu mereka sama sama saling menjauh Bukan karena ataya benci tentunya alasan ia menjauh tapi karena ingin waktu untuk memikirkan semuanya. Dan artha hanya ingin menuruti apa yanh di inginkan ataya. Agar ataya tidak semakin marah padanya Ataya berjalan dengan santai menyusuri koridor sekolahnya. Seperti biasanya banyak siswa siswi yang menyapanya dan tentu di balas ataya dengan senyum manisnya. Atau jika ia cukup akrab dengan mereka ataya juga akan balas menyapa mereka. Karena tidak mungking ataya bisa mengenal seluruh siswa disekolah ini. Dan ia juga heran beberapa dari mereka bisa mengenalnya padahal mereka tak pernah berinteraksi. "woi!! " panggil seseorang dari arah belakang ataya. Entah panggilan itu untuk siapa tapi membuat ataya otomatis menoleh ke arah belakang. Ataya membelalakkan matanya saat melihat ken yang berlari kecil ke arahnya. Ataya minggir untuk memberi jalan ken. Namun ternyata ken malah berhenti di hadapan ataya "kenapa kak? " tanya ataya saat ken sudah ada di depannya "lo tadi berangkat sendirian kan? Ga sama artha? "tanya ken "sama bang artha kok" bohong ataya "alah ga usah alesan. Gue udah tau. Tadi artha sampai sekolah barengan sama gue" ataya langsung terdiam. Matanya bergerak kesana kesini dengan gelisah "ikut gue" ken menarik tangan ataya. Tentu saja ataya berusaha melepaskannya namun cekalan tangan ken begitu erat. Akhirnya ataya hanya pasrah saja. Ataya yakin sebrandal brandal nya ken, ken tidak mungkin tiba tiba akan membunuhnya tanpa alasan. Kecuali jika ia baru saja ribut dengan artha tadi. Oh astaga "mau kemana sih? Lepasin tangan gue" teriak ataya namun tidak di hiraukan oleh ken Ataya melihay ternyata ken membawanya ke arah kantin sekolah. Dalma hati ataya bersyukur. Karena area kantin tentu sangat ramai dan ken tidak mungkin macam macam disini Ken membawa ataya masuk ke kantin. Seluruh siswa dan siswi disana langsung melihat ke arah ataya dan ken yang terlihat berjalan bergandengan padahal jika ditelitik ataya di tarik paksa oleh ken "duduk" ucap ken. Ataya akhirnya menurut. Ia duduk di kursi kantin yang berada di pojok yang memang biasanya di tempati oleh ken dan teman teman nya saja. Tak ada yang berani menududki tempat ini kecualu atas perintah ken "lo makan apa" tanya ken. Ataya membelalakkan matanya sambil melihat ken yang berdiri disampingnya. "lo mau makan apa? Gue bayarin tenang aja" ataya mulai berfikir. Kebetulan tadi ia belum sempat sarapan di rumah "nasi goreng aja deh" ucap ataya. Kemudian ken memesan makanan untuk mereka. Setelah memesan makanan ken duduk di kursi yang ada di hadapan ataya. Ken terus memperhatikan ataya. Dan ataya yang merasa diperhatikan menjadi tak nyaman. Ia bergerak gelisah "hahaha... " tiba tiba ken tertawa cukup keras membuat ataya kebingungan " hei lo kenapa? " tanya ataya dengan berbisik. Karena semua orang melihat ke arah mereka "wajah lo lucu banget" ataya mengerutkan keningnya. Ia sungguh tak mengerti dengan cowok didepannya ini Pesanan mereka datang. Ataya menerimanya dengan semangat. Kemudian ia segera menyantap nasi goreng itu. Mengingat 15 menit lagi bel masuk akan berbunyi. Jika tidak habis kan sayang. Ini rezeki. Setelah makan mungkin ataya akan berterima kasih kemudian ia akan langsung pergi meninggalkan ken Tanpa ataya sadari ken terus memperhatikannya. Senyum tipis terukir di bibirnya. Ken melihat ke arah sekitar. Kantin masih sangat ramai. Kemudian ken berdiri dari duduknya. Tapi ataya tidak peduli. Ia tetap makan nasi gorengnya "halo semua gue minta perhatiannya sebentar" ucap ken dengan suara yang keras. Otomatis seketika suasana kantin jadi hening dan semua pandangan tertuju pada ken. Ataya masih sama. Ia tak peduli dengan apa yang dilakukan oleh ken "kalian bisa lihat. Gue disini bersama duduk berdua dengan seorang cewek. Dan kalian pasti ngerti dong artinya apa? " seketika gerakan ataya terhenti. Ia mulai mencium sesuatu yang tidak beres disini. Ataya memdongak melihat ke arah ken yang berdiri didepannya "ya, sekarang dia adalah cewek gue. Dan untuk merayakan hari jadi kita, gue bakalan traktir kalian semua. Pesen apapun yang kalian mau dan gue yang akan bayar" semua orang disana mulai dari siswa siswi dan penjual kantin bersorak senang. Sedangkan ataya terkejut sampai bola matanya akan keluar Brakkk "eh maksud lo apa? " teriak ataya didepan wajah ken "bukannya kata kata gue udah jelas ya? " "lo gila. Kapan kita jadian coba" "dengan lo makan nasi goreng itu berarti lo udah nerima tawaran gue" ucap ken dengan santai "tawaran? Kapan lo ngasih tawaran ke gue? " "gue belum sempat sih emang. Tawaran gue adalah lo mau ga jadi cewek gue. Kalau lo mau makan nasi itu kalau ga ya buang aja. Tapi ternyata respon lo sangat baik dan antusias ya? Sampai gue belum ngomong aja lo udah ngasih kode untuk nerima gue" jelas ken. Ataya merasa gregetan sendiri. Ia mengacak acak rambutnya dan mencak mencak tak jelas. Seharusnya ia tau jika ken tidak mungkin tiba tiba baik padanya "gue ga peduli. Pokoknya bagi gue lo bukan cowok gue. Titik" ucap ataya kemudian pergi dari sana meninggalkan ken. Tidak peduli ucapan selamat yanh dilontarkan siswa siswi disana Langkah ataya terhenti di depan pintu kantin. Di sana ada artha yang berdiri dengan tatapan sangat datar dan mata tajam nya. Artha berdiri di tengah pintu dan menatap ataya. "bang artha" lirih ataya Artha melirik ke arah ken yang masih berada di bangku pojok kantin dan menatap artha dengan senyum miring itu. Kemudian artha kembali menatap ataya. Tatapan yang artha berikan membuat ataya merasa bersalah. Ia tau jika ia telah menyakiti artha. Tatapan itu menunjukkan rasa kekecewaan. Ataya ingin mengatakan sesuatu namun lidahnya kelu. Bahkan rasanya untuk bernafas saya sulit Beberapa lama mereka saling bertatapan. Sampai akhirnya artha membalik badannya dan meninggalkan ataya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Saat itulah air mata ataya terjatuh. Entah kenapabia merasa sakit saat melihat tatapan artha. Ingin mengejar namun serasa kakinya kaku. Ataya hanya diam di tempat sampai matanya tak melihat lagi sosok artha yang hilang dibalik gedung sekolah