Seorang gadis cantik sedang berjalan tergopoh gopoh menyusuri koridor sekolah karena tangan kananya di tarik kasar oleh seorang pria. Gadis itu adalah Ataya Aurora  Seorang gadis cantik yang masih duduk di bangku kelas 11 SMA. Dan pria yang menarik tangannya itu adalah Artha Surya  Seorang pria tampan yang menjadi kakak sepupu dari ataya. Ia duduk di bangku kelas 12 SMA. Mereka bersekolah di tempat yang sama. Entah apa yang membuat artha sangat marah sehingga ia menarik adik sepupu nya itu dengan sangat kasar. Ia membawa adiknya menuju parkiran sekolah. Sampai di motornya dalam diam artha memakai helmnya dan memakaikan helm milik ataya ke kepala ataya. Kemudian artha menaiki motornya disusul ataya yang duduk di belakangnya. Mereka meninggalkam area sekolah. Di perjalanan tak ada yang membuka pembicaraan. Ataya tau jika artha sedang marah padanya. Namun ia tak tau apa penyebabnya. Jadi ataya memutuskan untuk diam saja. Sampai di garasi rumah artha langsung turun dari motornya tanpa menunggu ataya turun terlebih dahulu. Artha memasuki rumahnya tanpa peduli ataya yang kesulitan turun dari motor besarnya "hei anak bunda udah pulang" sapa bunda artha yang melihat putranya datang. Artha mencium tangan bundanya kemudian pergi masuk ke kamarnya yang berada di lantai dua. "hai bunda.." sapa ataya yang baru masuk ke rumahnya. Kemudian mencium tangan bundanya "hai sayang. Artha kenapa? Kalian berantem? " tanya bundanya "eh.. Engg enggak kok bun. Mungkin bang artha lagi capek" ucap ataya. Sebenarnya ia juga tak tau apa yang terjadi "yasudah. Ayo ganti baju. Terus makan ya. Ajakin artha juga" "siap bunda" kemudian ataya menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar artha Ataya memang tinggal di rumah artha. Karena ataya adalah anak yatim piatu. Orang tuanya sudah meninggal. Mamanya meninggal saat melahirkannya, dan papa nya meninggal satu minggu kemudian karena syok di tinggalkan oleh istrinya. Dan jadilah ataya di rawat oleh bibi dan pamannya yang tak lain ayah dan bunda artha. Karena sudah dirawat sejak kecil mereka berdua seperti orang tua kandung ataya, dan ataya memanggil mereka sama seperti artha yaitu ayah dan bunda ******** Ataya sudah mengganti seragam sekolah nya dengan kaos longgar dan celana sedikit diatas lutut. Ia keluar dari kamarnya untuk menuju ruang makan. Namun ia berhenti melangkah saat di depan pintu kamar artha. Pintu berwarna hitam yang memiliki gambar matahari itu adalah pintu kamar artha. Ataya ingat pesan bundanya untuk mengajak artha makan Tok tok tok "bang di suruh bunda makan" teriak ataya Cukup lama ataya berdiri disana. Namun tak ada sautan dari artha. Ataya akan mengetuk kembali pintunya namun tiba tiba pintu itu terbuka. Menampilkan artha yang hanya memakai celana selututnya tanpa memakai atasan. Ia menatap ataya dengan sengit dan ataya yang ditatap seperti itu jadi ketakutan. Ia menundukkan kepalanya tak berani membalas tatapan artha "bang itu... Di.. Disuruh bunda.. Makan" ucap ataya. Namun artha hanya diam. Tiba tiba ia menarik tangan ataya masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya. Artha mengurung tubuh ataya di pintu yang sudah tertutup itu. Wajahnya sangat dekat dengan wajah ataya "bang.. Kamu... kamu kenapa? "tanya ataya gugup. Karena posisinya terlalu intim dengan artha. Tubuhnya bahkan sudah menempel dengan artha. Kening dan hidungnya juga. Hanya bibirnya saja berjarak beberapa inci. Dan akhirnya Cupp Artha mengecup bibir pink alami ataya. Ataya membelalakkan matanya. Ia terkejut atas perlakukan artha. Tubuhnya kaku. Ia tak bisa berpikir jernih bahkan untuk bergerak menolak pun tak bisa Cupp Artha kembali mengecup bibir ataya, bahkan kali ini melumatnya. Menyecap bibir ataya. Ataya hanya diam tak membalas. Cukup lama artha melakukan ciuman yang hanya dia saja yang bergerak tanpa balasan dari ataya, sampai akhirnya ataya merasa kehabisan nafas dan ia memukul dada artha. Akhirnya artha melepas pagutan bibir mereka. Tubuh mereka masih menempel, kening dan hidung mereka pun sama "jangan dekat dekat dengan pria lain. Aku tak suka" ucap artha. Dan ataya hanya diam. Artha mendekatkan wajahnya ke leher ataya. Menghirupnya dalam aroma tubuh ataya. Ataya memejamkan mata merasakan nafas artha yang mengenaik kulit lehernya. Sampai akhirnya ia sadar jika ini salah. Ia mendorong tubuh artha sekuat tenaga menjauh darinya. Membuat artha mundur beberapa langkah "bang kita ga boleh kayak gitu. Ini salah. Kita saudara seharusnya ga kayak gini" ucap ataya. Wajahnya sudah memucat. Sebuah seringaian muncul di wajah artha. Kemudian ia melangkah mendekat lagi ke ataya. Ataya beringsut menjauh namun tak bisa karena ia terpojok di pintu kamar "jadi jika aku bukan saudaramu kau mau? Itu artinya jika ada pria lain yang melakukan itu kau akan mau begitu? " tanya artha. Ataya menggelenglan cepat kepalanya. Tentu bukan itu yang ia maksud. "bu.. Bukan begitu bang. Aku.. Aku.." "artha.. Ataya.. Ayo turun kita makan siang bersama. Ini sudah jam 1 lebih kalian belum makan. Ayo cepat" teriak bundanya dari arah ruang makan. Menghentikan ucapan ataya. Artha mendekatkan tubuhnya lagi ke ataya. Bahkan kali ini menekannya. Tangannya berani meremas payudara ataya "aww bang hentikan" ucap ataya berusaha menyingkirkan tangan artha dari payudaranya. Matanya sudah berkaca kaca atas perlakuan artha "jika kau membicarakan ini pada ayah dan bunda. Lihat apa yang akan ku lakukan padamu nanti" ucap artha mengancam ataya. Ataya hanya mengangguk patuh "ya sudah keluar sana" kemudian ataya segera keluar dari kamar artha. Ia berjalan perlahan menurunu tanggan sambil mengusap matanya yang basah karena perlakukan artha. .