SWC 33 (bukan mimpi)

819 Words
Ataya menatap layar ponselnya melihat ruang chat nya dengan artha dengan tatapan miris. Terlihat disana ataya yang selalu mengirim pesan kepada artha namun tak satu pun yang dibalas oleh artha. Bahkan dibaca saja tidak. Ataya menghela nafasnya. Ia sudah tau jika cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Namun ataya tak menyangka akan secepat ini, karena ini baru kepergian artha yang ke dua bulan. Terakhir mereka saling mengabari saat ataya mengepos foto di i********: nya satu minggu yang lalu. Setelah itu tak ada lagi pesan atau telfon yang dikirim artha. Ataya membaringkan tubuhnya diranjang. Menatap langit langit kamarnya. Ia merasa rindu kepada artha. Namun artha sama sekali tidak peduli padanya. Apa itu karena artha sudah menemukan orang baru disana? Yang lebih cantik dari dirinya? Ataya sadar jika dirinya bukan oranh yang cantik dan sempurna. Namun tak bolehkah jika ataya menginginkan seseorang seperti artha? Ataya meraih boneka keledainya. Mengingat malam dimana ia memdapatkan boneka itu. Malam saat ia berbaikan dengan artha dan menghabiskan waktu bersama. Membuat sebuah senyuman terukir dibibir ataya. Namun hanya sejenak. Dan kemudian senyum itu kembali luntur saat mengingat menghilangnya artha. Tanpa sadar air mata sudah menetes dari mata, membasahi pipinya. Ataya segera menghapus air mata itu. Ia sangat benci disaat dirinya lemah dan cengeng seperti ini. Ia ingin menjadi wanita yang kuat. Namun ia selalu merasa gagal jika berasangkutan dengan artha "ih ngeselin" kesal ataya. Kemudian ia menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya sebatas dada. Ia mematikan lampu tidurnya dan mulai terlelap. ********* Seorang pria masuk diam diam kedalam sebuah kamar yang bernuansa biru itu. Keadaan didalam sini cukup gelap. Tak ada penerangan sama sekali. Hanya ada cahaya bulan yang masuk karena gorden tak tertutup sepenuhnya. Memperlihatkan seseorang yang berbaring dan berada dibalik selimut itu. Pria itu berjalan perlahan. Kemudian duduk di pinggiran ranjangnya. Terlihat seorang gadis cantik sedang tertidur. Wajahnya yang cantik bertambah cantik saat terkena cahaya bulan. Namun dibalik itu tersirat gerutan lelah dan kawatir. Tidurnya pun tak tenang. Tangan pria itu bergerak mengelus puncak kepalanya. Dan barulah ia bisa tertidur dengan nyaman dan tenang. Dalam tidur ia tersenyum merasakan kenyamanan itu membuat pria itu juga tersenyum. "maaf" ucap pria itu. Pria itu meletakkan sebuah kotak kecil di atas nakas. Kemudian ia membenarkan posisi selimut gadis itu. Tangan nya kembali mengelus wajahnya. Setelah itu ia melangkah keluar kamar. Saat akan menutupnya ia kembali menoleh ke arah ranjang. Dan ia baru ingat jika orang itu bukan lagi gadis namun seorang wanita, dan ini semua karena perbuatan bodohnya. Pria itu menundukkan kepalanya dan menghela nafas panjang. ia kembali bergerak menutup kamar itu. *********** Ataya merenggangkan otot otot tubuhnya yang terasa kaku setelah tidur. Setelah itu ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Memikirkan apa yang terjadi semalam. Dimana ia bermimpi artha yang masuk ke kamarnya dan mengelus puncak kepalanya "hanya mimpi" ucap ataya dengan senyum mirisnya. Ataya menoleh ke arah nakas dan tak sengaja ia melihat sebuah kotak di atas nakas. Ataya segera mengambil kotak itu dan membukanya. Terlihat ada sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati. Ada sebuah surat juga disana. Ataya segera membaca To: My girl Ataya Aurora Happy Brithday. Semoga apapun yang kamu inginkan akan segera tercapai. Amin From: Artha surya Ataya segera turun dari ranjang nya dan keluar kamar. Ia membuka kamar artha. Terlihat ranjangnya berantakan itu tandanya ada seseirang yanh tidur disana. Ataya masuk kedalam kamar artha namun tak menemukan siapapun disana. Ataya segera keluar kamar dan menuruni tangga. "bunda bunda" panggil ataya menggema diseluruh rumah. Namun tak ada jawaban dari siapapun. Ataya mendengar suara orang bercengkarama dari arah halaman belakang rumahnya. Ia segera melangkahkan kakinya ke sana. Matanya melebar saat melihat artha duduk dengan tertawa bersama ayah dan bundanya. "bang artha!!" ucap ataya. Artha langsung memandang ke arah ataya. Ia segera bangkit dari duduknya dan melebarkan kedua tangannya. Ataya segera berlari kecil dan merengkuh tubuh artha. Mereka berpelukan dengan sangat hangat. Orang tuanya hanya tersenyum melihat itu  "bang artha kemana aja? Kok ga pernah bales chat ataya?" tanya ataya saat masih di dalam rengkuhan artha "maaf ya. Aku harus nyelesaiin beberapa tugas dan matkul biar bisa pulang untuk beberapa hari dan ngerayain hari ulang tahun kamu" ucap artha sambil mengelus rambut ataya. Ataya menguraikan pelukannya. Ia menatap dalam mata artha "jadi bang artha ga hubungin ataya karena sibuk sama kuliah? Jangan jangan bang artha kurang istirahat ya? Jangan kayak gitu nanti bang artha sakit. Kalau bang artha sakit atata ga bakal bisa tenang disini" ucap ataya kemudian memeluk tubuh artha lagi. "enggak kok. Aku banyak istirahat. Dan ga bakal sakit. Maaf ya" ucap artha. Ataya menganggukkan kepalanya. "ekhemm.. Ada orang loh disini" ucap ayahnya. Artha dan ataya menguraikan pelukannya. Mereka tersenyum kaku dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ataya dan artha pun ikut duduk bersama orang tuanya. Mereka menikmati pagi ini bersama dengan obrolan obrolan ringan. Bukan mereka, tapi hanya ayah dan bundanya. Sedangkan artha dan ataya hanya duduk dan saling beetatapan. Untuk melepas rindu yang dipendam selama dua bulan ini .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD