Tok tok tok "masuk aja, ga dikunci" teriak ataya dari dalam kamar. Kemudian muncullah artha dari balik pintu. "ngapain?" tanya artha pada ataya setelah ia duduk di kursi meja belajar ataya. Sedangkan ataya berada di atas ranjangnya dan memandangi laptopnya "cuci baju" jawab ataya. "ha?" tanya artha tak mengerti dengan maksud ataya. Ataya menghela nafasnya kemudian mengepause film yang ia putar di laptop itu "bang kan udah kelihatan kalau ataya lagi nonton. Kenapa masih tanya?" ucap ataya kesal. Artha hanya manggut manggut saja. Kemudian ataya kembali melanjutkan menontonnya "sekarang tanggal berapa sih?" tanya artha "13" "oh pantesan" "pantesan kenapa?" tanya ataya heran "kamu galak. Lagi pms ya?" tanya artha. Ataya berfikir sejenak kemudian menganggukkan kepalanya. Oke, sekarang tugas artha untuk membuat ataya tudak uring uringan "ga bosen di rumah terus? Ga mau jalan jalan? Mumpung lagi liburan" tawar artha. Ataya berfikir sejenak. Kemudian ia langsung mematikan laptopnya dan turun dari ranjang "yuk jalan" ajak ataya pada artha. Artha tertawa kecil kemudian melihat penampilan ataya dari atas sampai bawah. Ataya hanya memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan saja "yakin kayak gini keluar? Ganti celana gih, dimarahin ayah nanti" ucap artha. Ataya memukul kening nya. Bagaimana ia bisa lupa hal itu. "iya bentar ya" ataya mengambil celana nya didalam lemari kemudian masuk kedalam kamar mandinya. Artha memandangi pintu kamar mandi itu. Ia bangkit dari duduknya dan mendekati pintu itu. Ternyata pintunya tak dikunci. Tangan artha bergerak akan membuka pintu itu namun tiba tiba pintu itu sudah dibuka dulu oleh ataya "hayo mau ngintip ya?" tuding ataya. Artha menggaruk tengkuknya yang tak gatal "bang artha tercyduk mau ngintip" ucap ataya dengan ekspresi ngeri. Artha berdecak sebal kemudian ia langsung meraih tengkuk ataya agar mendekat padanya dan langsung melahap bibir ataya. Awalnya ataya terkejut namun akhirnya ia bisa mengimbangi ciuman artha. Tangan artha meremas pinggang ataya membuat tubuh ataya semakin menempel padanya. Setelah berciuman mereka menempelkan dahi mereka dengan nafas yang menderu "kita berangkat sekarang?" tanya artha dengan kening masih bersatu dan mendapat balasan anggukan kepala oleh ataya. Mereka pergi setelah meminta izin kepada bundanya. Didalam perjalanan ataya sibuk dengan mengganti ngganti musik yang diputar di mobil, sedangkan artha fokus pada jalannya. Jika lagunya sesuai barulah mereka bernyanyi bersama hingga tak terasa mereka sudah sampai ditempat tujuan. Yaitu kesebuah wahana wisata "kita beli tiket dulu" ucap artha. Ataya mengikutinya. Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Lebih tepatnya para gadis melihat ke arah artha. Ataya merasa kesal. Ia menggandeng tangan artha. Menunjukkan kepada mereka jika artha datang bersamanya. Kemudian mereka masuk kedalam tempat wisata itu "wahhh seru. Kita naik yang itu ya? Yang itu juga. Itu!! Ha... Yang itu juga. Nanti kita foto disana juga ya. Terus kesana" cerocos ataya kepada artha menunjuk wahana dan tempat yang ingin ia kunjungi. Artha hanya tersenyum dan megiyakan apa yang dikatakan ataya. Akhirnya mereka mencoba semua wahana permainan. Tapi satu yang tidak dikunjingi oleh mereka, rumah hantu. "ayo kesana yang lainnya udah kan?" tawar artha. Sebenarnya ia tau jika ataya sangat takut, namun apa salah nya sedikit menggoda ataya "gak mau" jawab ataya dengan tegas "ayolah..." mohon artha "enggak!" setelah itu ataya langsung pergi begitu saja meninggalkan artha. Artha tertawa melihat ataya yang marah padanya. Ataya membalikkan badannya kemudian berkacak pinggang dan memberi juluran lidah pada artha seperti sedang mengejek. Artha berlari ke arah ataya dan ataya berlari menjauhi artha. Dan terjadilah aksi kejar kejaran diantara mereka. "udah udah capek" ucap ataya memberikan lima jarinya tanda agar artha berhenti mengejarnya karena ataya sudah ngos ngosan. Meskipun artha tampak biasa saja dan tidak lelah sedikit pun "mau foto?" tanya artha. Ataya nelihat ke sekelilingnya. Kemudian ia mengangguk. Mulailah ataya bergaya seperti biasanya didepan kamera. Dan artha senantiasa menjadi fotografer gratisannya "foto sama bang artha dong" ucap ataya. Artha mencari seseorang. Dan tak sengaja ada seorang petugas kebersihan tempat wisata. Artha meminta pada orang itu untuk memfotonya dengan ataya. Artha memberikan handphone nya kepada orang tersebut "siap ya 1 2 3" ucap orang itu dan  Beberapa foto mereka ambil dengan berbagai macam gaya. Setelah itu artha meminta lagi handphone nya dan mengucapkan terimakasih pada orang itu. Tak terasa hari sudah gelap. "pulang?" tawar artha "ayuk. Udah malem nanti dicari bunda" "yaudah. Ayo kita pulang" "gendong" ucap ataya dengan menjulurkan kedua tangannya. Artha tertawa kecil. Kemudian ia berjongkok dan ataya naik ke punggungnya. Mereka keluar dari wahana itu dengan ataya yang di gendong belakang oleh artha. Jangan tanyakan padangan orang orang yang ada disana. Tapi ataya dan artha bersikap cuek saja.  "yeay!! Gendong..." teriak ataya. Artha hanya tertawa saja. Melihat ataya seceria ini membuatnya hanya ingin tersenyum dan tertawa saja. *********** "ataya bangunin abang kamu, ini udah siang" ucap bundanya sambil mengaduk adonan tepung untuk ayam. Sedangkan ataya sedang memotong motong sayuran "iya bun bentar tinggal dikit" jawab ataya. Setelah ia selesai memotong sayurnya ia pun berjalan menuju kamar artha. Tok tok Saat diketuk pintu kamar artha terbuka sedikit. Tandanya tidak dikunci. Ataya masuk kedalam kamar artha. Dan melihat artha masih berada di balik selimutnya. Ataya berdiri disamping ranjang artha. Ia berkacak pinggang saat melihat artha masih sangat lelap. Hingga muncullah sebuah ide jail dari ataya. Ia membuka selimut bagian bawah artha. Ataya menggelitik ki telapak kaki artha. Awalnya artha hanya bergerak sedikit saja namun ia melanjutkan tidurnya lagi. Ataya terus mencoba hingga akhirnya artha merasa jengah dan terbangun dari tidurnya. Artha mengucek matanya kemudian melihat ke bawah dan mendapati ataya "la... Hayo ga bangun bangun. Di marahin bunda tuh" artha pun terduduk dengan bersandar di kepala ranjangnya. Ataya melihat koper artha sudah ada di depan lemari "bang artha udah selesai packingnya?" tanya ataya. Artha mengangguk. Hari ini adalah hari keberangkatan artha untuk ke amerika lagi. "yaudah" ada nada sedih disana. Artha tau itu, namun berbeda dengan apa yang dilihatnya. Ataya justru tersenyum pada artha. "sini deh" ucap artha menepuk nepuk ranjang sebelahnya. Ataya pun datang dan berbaring disana dengan berbantalan tangan artha " selama aku pergi kamu baik baik ya dirumah. Belajar yang bener. Sekarang udah kelas dua belas. Bentar lagi ujian nasional. Harus bisa dapet nilai bagus. Jangan suka keluar malam apalagi kalau sama cowok. Jangan bergaul sama teman teman kamu yang kurang baik. Jangan lupa juga hubungi aku. Dan yang paling penting jaga hati buat aku" ucap artha. Entah kenapa kalimat terkhir artha membuat hati ataya bergetar. Ataya hanya bisa mengangguk saja. Artha mengecupi puncak kepala ataya dengan sayang "bang artha juga jaga kesehatan disana. Jangan suka tidur terlalu malam nanti bisa punya mata panda. Jangan lupa kabari aku kalau ada waktu senggang ya. Dan jaga hati juga buat aku." ucap ataya sambil mendongak untuk menatap mata artha. Artha mengecup sekilas bibir ataya "artha ataya!! Jangan bilang kalian tidur lagi. Ayo bangun!!" teriak bundanya menggelegar. Artha dan atay tertawa kecil. Kemudian mereka bersama sama keluar dari kamar artha untuk menemui bundanya ********** "jangan lupa pesan ayah, kuliah yang bener biar kamu bisa sukses nantinya" ujar ayahnya kepada artha saat artha akan menuju ke pesawatnya "iya yah" kemudian artha dan ayahnya saling berpelukan. Ayahnya menepuk nepuk punggung putranya itu "jaga kesehatan ya. Jangan lupa hubungi bunda. Kalau kangen bisa vc ga usah nangis kalau kangen bunda" ucap bundanya sambil membingkai wajah artha. Artha tertawa kecil mendengar tuturan bundanya. Padahal yang menagis adalah bundanya bukan dirinya. Artha memeluk bundanya itu. Di sela pelukan mereka bundanya mengecupu pipi artha. Dan kini saat nya artha dan ataya. Sejak tadi ataya hanya diam menyaksikan dengan mata berkaca kaca. Artha mengulurkan tangannya tanda agar ataya masuk dalam pelukannya. Ataya langsung bergerak cepat memeluk artha. Ataya menangis sesenggukan didada artha. Artha mengelus rambut ataua sambil mengecupi puncak kepala ataya  "jaga diri baik baik ya. Ingat belajar yang benar. Semoga sukses un nya" ujar artha. Ataya hanya mengangguk. Setelah cukup lama berpelukan artha mengurai pelukan ataya. Ia menghapus sisa sisa air mata ataya. Kemudian mengecup kening ataya dalam. Artha mengambil kopernya. Dan berjalan meninggalkan mereka. Ataya, ayah dan bundanya melambaikan tangan pada artha yang tentu di balas oleh artha. Hingga akhirnya artha sudah hilang dari pandangan ataya. Ataya menghela nafasnya. Matanya masih berkaca kaca. Ayahnya mendekati ataya dan mengusal puncak kepala ataya dan mencium puncak kepala itu. "yuk kita pulang" ajak ayahnya. Sebelah tangan ayah nya memeluk bundanya dan sebelah lagi menggamdeng tangan ataya. Mereka pergi meninggalkan bandara. Mobil mereka pun melesat meninggalkan area bandara. Dan saat itulah ataya yang duduk di kursi belakang melihat sebuah pesawat yang lepas landas. Ia mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil memandangi pesawat itu. Dalam hati ataya mengucapkan selamat jalan pada artha "ataya jangan gitu bahaya" ucap bundanya. Akhirnya ataya memasukkan kembali kepalanya. Di sisi lain, didalam pesawat artha terus memandangi jendela yang menunjukkan pemandangan dibawah sana. Ia menghela nafasnya. Inu berat namun ia harus melakukannya demu cita cita nya. Dan jika ia sukses nanti juga untuk ataya. Biarlah untuk saat ini mereka terpisah. Asalkan suatu saat nanti kembali bersama. ************ Artha.Srya  2.896 suka Artha.Srya Happy with you Lihat semua 125 komentar .