"artha ini tiket kamu, jangan sampai ketinggalan" "iya yah makasih" "hem, ayo kamu sudah siap?" "sudah" "ya sudah penerbangan kamu satu jam lagi. Kita kebandara sekarang" Artha menurunkan kopernya dari atas ranjang dan menariknya keluar kamar. Hari ini adalah keberangkatannya ke amerika untuk mengikuti tes disana. "ataya bantuin" ucap ataya saat artha menuruni tanggan dengan kesulitan "terimakasih" artha dan ataya turun tangga bersamaan. Di luar sudah ada ayah dan bundanya yang menunggu. Sebenarnya ataya merasa sedih, larena harus berpisah dengan artha namun ia berusaha menyembunyikan kesedihannya itu. Setelah koper artha dimasukkan dalam bagasi mobil mobil mereka melesat meninggalkan rumah. Artha dan ataya duduk di kursi belakang. Ataya menyandarkan kepalanya di pundak artha dengan pandangan ke jalan. Suasana mobil diisi dengan suara radio dan percakapan bunda dan ayahnya saja. Sedangkan artha dan ataya hanya diam saja. Artha mengenggam erat tangan ataya. Artha membawa tangan ataya kedepan bibirnya dan mengecupnya. Ataya yang terkejut langsung menegakkan duduknya. Ia menatap artha dengan senyum tipisnya. Artha mengecup lagi tangan ataya  Membuat pipi ataya merah. Artha tertawa kecil melihatnya. Ataya menyandarkan lagi kepalanya di pundak artha. "jika disana jangan lupa menghubungiku" ucap ataya "tentu" artha mengecup puncak kepala ataya. Dan menikmati perjalanannya lagi Akhirnya mereka sampai dibandara. Mereka duduk di kursi tunggu, menunggu pengumuman untuk keberangkatan artha. Belum genap sepuluh menit mereka duduk di umukan jika pesawat akan segera lepas landas. Artha langsung berpamitan kepada ayah dan bundanya. Mencium tangan mereka dan mendapat pelukan dari bundanya "artha semoga berhasil" ucap ayahnya "terimakasih yah" kemudian pandangan artha bertemu dengan ataya yang berdiri dengan mata berkaca kaca. Artha menghela nafasnya dan tersenyum pada ataya. Ia mendekati ataya dan memeluknya. "maaf, aku sudah berjanji tidak akan menangis, tapi aku tidak bisa" ucap ataya. Artha mengelus kepala ataya "tak apa" ucap artha. Artha menguraikan pelukannya dan tangannya membingkai wajah ataya. "jaga diri baik baik ya" Cuppp  Tiba tiba artha mencium ataya. Bahkan didepan orang tuanya. Namun mereka diam saja. Setelah artha melepas kan ciumannya ataya lamgsung menunduk. Kening mereka bersatu. Artha mengelus pipi ataya "aku pergi" ucap artha. Kemudian ia berjalan mengambil kopernya dan pergi. Artha berjalan dengan sesekali menoleh ke arah belakang. Ataya melambaikan tangannya dan tersenyum meski air matanya masih menetes. Semakin jauh artha pergi hingga tak terlihat lagi oleh pandangan ataya. Ataya menghapus air matanya "sudah, artha hanya pergi selama satu minggu" ucap bundanya "tapi jika bang artha diterima itu berarti bukan hanya seminggu" "ya, tapi percayalah artha akan sering pulang. Karena dia itu anak mami. Bagaimana bisa dia terlalu lama jauh dari bunda. Iya kan?" ucap bundanya membuat ataya tertawa. "sudah ayo kita pulang" ajak ayahnya. Mereka bertiga kembali ke rumah ********** Malam in terasa sunyi. Tidak terdengar suara televisi atau petikan gitar dari kamar artha. Ataya berbaring di ranjangnya. Memikirkan apa yang dilakukan artha disana Tiba tiba handphone nya bergetar menandakan ada pesan masuk. Ataya segera membuka nya dan matanya berbinar saat melihat, ternyata itu dari artha w******p From: Bang Artha Hai, lagi apa? udah tidur? Hai. Di kamar ajabelum tidur juga. Bang artha lagi apa? Baru sampai di apartemen Kamu tidur gih, disana udah malam pasti. Besok sekolah kan? Iya. I love you I love you to More than you know Chat berakhir Ataya senyum senyum sendiri membaca pesan terakhir artha. Menurutnya itu sangat sweet. Ataya meletakkan ponselnya di nakas dan menge cas nya. Ia pun memutuskan untuk tidur karena ia harus pergi kesekolah besok. ********* "cie yang ditinggal niya. Cemberut terus" goda carol pada ataya "apaan sih lo" ataya mulai kesal "cie cie. Baru di tinggal abang aja gitu, nanti kalau di tinggal doi, beh sakitnya itu disini" ucap carol sambil menepuk bepuk dadanya. Ataya mengangkat sebelah alisnya "katanya biasa aja kalau ditinggal kak digo. Kok sekarang sakit disini? " "ya karena gue baru ngerasain, ga enaknya di tinggal. Selama dia ada disini, gue selalu ngajakin ribut eh sekarang malah kangen" carol bertopang dagu. Ataya menoyor kepala carol "mangkannya jangan sok jual mahal sama cowok sendiri. Ditinggal sedih kan lo" carol hanya mengangguk anggukkan kepalanya "emang kak digo berangkat kapan?" tanya ataya "besok" jawab carol "lah berarti sekarang masih di indo dong" "ya iya. Masak di akherat" "terus kenapa lo kangen?" "ya kan gue ngabayangin aja" Ataya memutat bola matanya jengah. Untung sahabat. Jika bukan ataya pasti sudah meninggalkannya. Siapa yang tidak pusing jika berbicara dengan cewek yang terkadang otaknya didengkul ******** Hari ke 8 artha berada di amerika. Dan saat ini ataya, ayah dan bundanya sedang duduk bersama di ruang tengah dan membuka web pengumuman universitas artha. Mereka mencari cari nama artga di daftat mahasiswa baru yang diterima. Ataya terus mencari nama itu dan saat di no urut 25 ataya melihat sebuah nama yang familiar tertera disana "Artha Surya" . "wah bang artha diterima. Ini namanya masuk daftar" "coba lihat, wah benar. Syukurlah" bundanya pun berteriak hebohm sedangkan ayahnya menghela nafas lega. Kemudian mereka bertiga berpelukan "ataya coba telfon abang kamu" Ucap ayahnya "video call aja ya" ataya pun membuka aplikasi untuk video call di laptopnya beberapa detik menunggu dan akhirnya panggilan itu diterima oleh artha "halo..." sapa mereka bertiga bersamaan. Terlihat artha baru saja bangum tidur "kalian kenapa?" tanya artha bingung. "kamu baru bangun? Astaga ini jam berapa artha. Kamu disana ngebo terus ya" ucap bundanya "aduh bun disinikan masih jam 6 pagi" ucap artha sambil mengucek matanya "jam 6 pagi itu udah siang artha" "ya kalau di indo kalau di amrik ini masih subuh" "terserah kamu deh. Kamu sudah lihat pengumuman?" "pengumuman apa?" "kamu ini bagaimana artha. Bun putramu ini kenapa jadi lemot seperti ini" ucap ayahnya. Sedangkan ataya yang duduk diantara ayah dan bundanya hanya cekikikan saja "oh astaga pengumuman penerimaan mahasiswa baru ya" artha langsung menegakkan tubuhnya. Ia melempar begitu saja handphone nya dan mengambil laptop nya. Kemudian ia mengambil lagi handphone nya "bentat artha cek dulu" ucap nya. Tangan kirinya memegang handphone dan tangan kanannya menari di atas keyboard laptop. Ia fokus mencari cari namanya disana. Dan kemudian artha melebarkan matanya "artha diterima!!" teriak nya. Kemudian ia tersenyum lebar ke arah kamera handphonenya. Namun senyum nya surut saat melihat ekspresu ayah,ataya dan bundanya biasa saja "telat. Kita udah tau" ucap ataya. Kemudian mereka bertiga melakukan tos. Artha menggaruk tengkuknya yang tak gatal "selamat ya kamu diterima, baik baik disana. Jangan bergaul dengan sembarang orang. Ingat budaya mereka dengan kita berbeda. Dan ada beberapa pola hidup mereka yang ayah ga suka dan kamu jangan tiru. Tiru yang baik bain aja" ucap ayahnya "iya. Jaga pola makan sama tidurnya juga. Kalau capek cuci baju, di laundry aja. Jangan kebanyakan minum cofe dan soda. Jangan makan junkfood oke" ucap bundanya Artha hanya mengangguk anggukkan kepalanya saja. Sedangkan ataya hanya diam. Memandangi arth di layar laptopnya itu "kalai kangen ataya ngomong ya kangan diem aja nanti bang artha galau" ucap ataya tiba tiba. Membuat mereka tertawa. Mungkin bagi ayah dan bundanya itu hanya lelucon. Namun bagi ataya kata kata itu tulus dari dalam hatinya. Dan artha mengerti itu. Bunda dan ayahnya terus membicarakan berbagai hal. Namun artha dan ataya hanya fokus saling berpandangan dalam diam tanpa mengatakan sepatah kata apapun Ataya mencium telapak tangannya kemudian ia menium telapak tangan itu ke arah artha. Artha bersikap seolah meraih ciuman atay yang ditiup tadi dan mengenggamnya. Kemudian artha menempelkan genggamannya di dadanya. Seolah ciuman ataya itu ia masukkan kedalam dadanya. Kemudian mereka tersenyum "kamu denger kan yang ayah bilang" ucap ayahnya. Namun artha masih fokus dan tersenyum pada ataya "artha!!" "eh iya yah. Denger kok denger" ucap artha gelagapan. Padahal ia sama sekali tidal mengerti apa yang ayahnya katakan " kamu ga jadi pulang dong" ucap bundanya "iya bun. Nunggu liburan semester baru bisa pulang" "yaudah gapapa. Nanti kalau ayah ada waktu longgar, kita bertiga bakalan jenguk kamu" ucap ayahnya "iya yah" "udah kamu mau ke kampus kan? Siap siap gih" ucpa bundanya. Artha mengangguk "bye bye" ucap mereka bertiga sambil melambaikan tangan pada ataya. Kemudian sambungan video call itu terputus "bun ayah buatin teh dong. Ayah mau ngelanjutin kerjaan. Nangi tolong ke ruang kerja ayah ya" "oke ayah sayang" kemudian ayah dan bundanya pergi meniggalkan ataya sendiri disana. Ataya melamun. Memikirkan lama dirinya tidak bertemu dengan orang yang ia cinta. Tapi lamunan ataya buyar ketika handphone nya bergetar w******p From: Bang Artha I miss you Me too Selamat ya bang kamu keterima Makasih. Ini semua karena kamu Hehe.. Ataya sayang sama bang artha Aku juga. Dan akan selalu begitu . . . . .