ATAYA berusaha untuk terlelap. Namun sejak tadi sudah berbagai macam gaya tidur mulai dari tengkurap, terlentang, miring kanan kiri bahkan menungging pun ia tetap tidak bisa tertidur. Karena ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Siapa lagi yang membuat ini semua jika bukan artha. Sampai sekarang pukul 10.30 malam artha masih belum pulang. Padahal peraturan rumah dilarang untuk berada di luar rumah lebih dari jam 10 malam. Dan sekarang artha juga belum menunjukkan tanda tanda kepulangannya. Terlalu banyak berfikir membuat ataya merasa haus. Gelas yang berada di nakas samping tempat tidurnya kosong. Jadi ia harus pergi kedapur dulu. Saat ataya menutup pintu kamarnya, ia melihat lampu kamar artha masih belum menyala itu tandanya artha memang belum pulang. Ataya mendengus kesal sambil berjalan menuju dapur. Terlihat di depan televisi ruang tengah ayah dan bundanya masih berada disana sedang menonton tv bersama. Bundanya menyandarkan kepalanya di dada ayahnya itu. Terlihat romantis. Membuat ataya berfikir apakah dirinya bisa seperti itu nanti bersama artha. Ataya tersenyum miris. Menurutnya itu hal yang tidak mungkin. Ayah dan bundanya yang menyadari kehadiran ataya pun mengubah posisi mereka "loh kok belum tidur sayang" tanya bundanya "ataya haus bun. Tadi udah tidur tapi kebangun" alibi ataya "yaudah. Jangan tidur malam malam kan besok masih sekolah" ucap ayahnya kali ini "iya yah. Emm bang artha belum pulang? " tanya ataya dengan hati hati "tadi abang kamu telfon ayah katanya mau nginep dirumah temannya" ucap ayahnya "oh.." setelah itu ataya pergi kedapur untuk mengambil minum nya. Ia mengambil minum yang ada di dalam lemari es. Ataya meminum air itu sambil menyandarkan tubuhnya di lemari es itu. Kemudian ia menghela nafasnya. Artha menginap dirumah temannya? Teman yang mana? Apakah cewek yang bernama denada itu? Lagi lagi pikiran ataya berjalan kemana mana. Ia menghela nafasnya jengah. Jika seperti ini terus ia tidak akan bisa tidur sampai esok hari karena memikirkan seseorang yang tidak memikirkan dirinya. Bahkan mungkin artha tidak ingat dirinya Tiba tiba handphone ataya yang berada di saku baju tidurnya yang bergambar doraemon. Itu bergetar. Menadakan ada notif baru. Ataya membuka melihat handphone nya. Terlihat ada pemberitahuan dari i********: bahwa akun yang bernama @artha.Srya mengirim kiriman baru setelah beberapa saat. Ataya buru buru membuka akun ig nya. Melihat foto apa yang di posting oleh artha. Setelah membuka aplikasi itu ataya membelalakkan matanya sebentar. Kemudian satu tetes air mata jatuh membasahi pipinya Artha.Srya  2.056 suka Artha.Srya she Lihat semua 56 komentar Ataya segera mematikan handphone nya dan berlari menuju kamarnya. Tak peduli tatapan aneh dari orang tuanya. Didalam kamar ataya langsung menangis dengan sangat keras. Ia menyembunyika wajahnya dibantal agar suaranya tidak terdengar sampai di luar. Benar apa yang dipikirkan oleh ataya sejak tadi. Artha pergi bersama denada. Dan sekarang artha menginap dirumahnya? Apa mereka punya hubungan spesial? Mengingat kedekatan mereka saat bertemu di restoran itu. Ataya menangis bahkan berteriak. Menumpahkan kekesalahnnya. Tak peduli jika wajahnya akan terlihat kusut esok hari. Sampai akhirnya ataya tertidur saat di tengah tangisannya itu. ********* Tok tok tok "ataya bangun sayang ini sudah jam setengah enam. Kamu sekolah kan? " teriak bundanya dari luar kamar. Ataya yang mendengar teriakan bundanya itu pun menjawab "iya bun ataya bangun" kemudian sudah tak terdengar lagi suara bundanya. Ataya berusaha membuka kedua matanya. Namun karena menangis semalam dan tertidur membuat air matanya mengering. Akibatnya kedua matanya menempel terus. Ataya sampai membuka kedua matanya dengan tangan "aww" ringis ataya "duh belek gue banyak amat" ucap ataya. Ataya ke arah cermin. Memperhatikan wajahnya. Matanya terlihat sedikit bengkak. Ya ia tau ini akan terjadi setelah menangis. Ataya menghela nafas. Kemudian ia masuk ke kamar mandinya untuk bersiap siap ke sekolah *********** "ataya berangkat sama ayah ya" ucap ayahnya sedangkan ataya hanya mengangguk saja. Biasanya ia akan bersama dengan artha. Namun kali inu artha tidak ada. Ya dari pada naik kendaraan umum lebih baik diantar bukan "bunda ataya berangkat dulu ya" ucap ataya mencium tangan bundanya. Kemudian kedua pipi bundanya "hati hati" ucap bundanya. Ataya berjalan masuk kedalam mobil ayahnya. Didalam mobil ataya masih bisa melihat orang tuanya yang sedang berciuman. Pemandangan biasa untuk ataya. Setelah itu ayahnya pun masuk kedalam mobil dan mulau menjalankannya meninggalkan perkarangan rumah "gimana sekolah nya? " tanya ayahnya saat berada di perjalanan "bagus. Atay bisa ngikutin pelajaran. Ya meskipun nilai taya ga sebaik bang artha" ucap ataya. Sebelah tangan ayahnya terangkat mengelus puncak kepala ataya "gapapa yang penting udah usaha." ataya menganggukkan kepalanya "trus gimana sama cowok kamu itu? Siapa namanya? Ayah lupa. Oh iya ken" ataya membelakkan matanya. Kenapa ayahnya masih saja ingat dengan ken "dia bukan pacar ataya yah" "oh ya? Trus kemarin kenapa dia bilangnua gitu? Datang kerumah bawa bawa bungan lagi" "ya gatau. Ataya beneran ga oacaran sama dia. Tapi dianya yang ngaku ngaku. Kalau ga percaya tanya aja sama bang artha" ucap ataya dengan kesal. Membuay ayahnya tertawa "iya iya. Udah jangan ngambek. Ayah percaya kok. Putri ayah kan cantik jadu banyak yang ngejar ngejar" ataya tersenyum mendengar perkataan ayahnya. Tak terasa akhirnya mereka sudah sampai di pintu gerbang sekolah. Ataya mencium tangan ayahnya kemudian mencium sebelah pipi ayahnya. Barulah ia keluar mobil setelah berpamitan. Ataya berjalan masuk ke sekolahnya. Ia melihat lagi ke arah belakang terlihat mobil ayahnya masuh ada disana. Kebiasaan. Sejak dulu jika ayahnya mengantar dirinya atau artha, ayahnya akan menunggu putra putrinta masuk kedakam sekolah sampai tak terlihat lagi oleh pandangannya Kaca mobil nya terbuka. Menampilkan ayahnya yang tersenyum pada ataya. Ataya melambaikan tangannya kemudian memberi cium jauh pada ayahnya. Dan ayahnya bersikap seolah olah menangkap ciuman itu dan membawanya ke dada. Tiba tiba ada seseorang yang bisa dipastikan jika itu artha. Artha masuj kedalam sekolah kemudian berhentu di sebelah gerbang. Ia turun dari mobilnya dan menemui ayahnya yang masih ada disana. Ataya terus memperhatikan mereka. Terlihat artha mencium tangan ayahnya kemudian mereka terlibat perbincangan kecil. Sampai akhirnya artha kembali pada motornya dan menuju parkiran dan setelag melambaikan tangan pada ataya ayahnya pergi meninggalkan area sekolah mereka. Ataya segera berjalan cepat menuju kelasnya agar tidaj sampai bertemu artha. Ia masih belum bisa untuk bertemu dengan artha saat ini ***************** Ataya pergi ke kantin bersana carol. Ia memesan semangkuk bakso dengan segelas es jeruk untuk mengganjal perutnya. Kantin tidak begitu ramai karena sedang ada pertandingan basket antar kelas di lapangan utama sekolah. Dan banyak siswa yang berkumpul disana. "lo ga liat abang lo tanding? " tanya carol. Ataya hanya menggeleng dan tetap fokus pada makannya "kenapa? " tanya carol lagi "udah bosen" ucap ataya asal. Padahal sejujurnya ataya malas. Karena marah pada artha. Sebenarnya marahnya ataya tidak memiliki alasan yang kuat. Dirinya bukan kekasih artha dan tidak ada hak untuk cemburu. Terdengar suara dari arah pintu masuk kantin. Carol langsung melihat ke arah sana "eh liat itu abang lo sama temen temennya. Ya tuhan ganteng banget. Kerennnm" ucap carol dengan heboh. Ataya hanya melirik ke arah sana sebentar kemudian fokus dengan makannya lagi Tiba tiba ataya merasakan ada seseirang yang duduk disebelahnya. Orang itu menyenggol lengan ataya. Tanpa melihat ataya tau jika itu artha. Ataya mengangkat kepalanya. Dihadapannya ada dirga dan digo yang duduk di sebelah kanan kiri carol. Ataya tak mau menoleh ke arah sampingnya. Tepat ke arah artha. Mereka masih menggunakan seragam basket karena baru saja selesai bertanding "mau suapin dong" ucap artha. Namun ataya diam saja. Artha mengerutkan keningnya. Ia tau ada yang aneh dengan sikap ataya "yaelah masak minta suapin emak sama adek terus tha. Sesekali lah minta sama cewek lo" ceplos digo. Kemudian carol, dirga dan digo tertawa. Ataya merasa terlinganya semakin panas, begitu pula dengan dadanya saat mendengar kata ceweknya artha. Siapa ceweknya? Denada? Ataya langsung berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun. "tayi kemana? " teriak carol namun ataya tak peduli "eh dedek gemes ini minumnya masih utuh. Sayang kalau dibuang. Gur minum ya" kini ganti teriak dirga Artha diam. Memperhatikan kepergian ataya. Ia tau ataya marah padanya dan artha tak ingin menemui ataya sekarang. Karena jika ia temui sekarang dan bertanya kenapa ataya marah lada dirinya akan semakin memeperburuk keadaan. Lebih baik artha membiarkan ataya sendiri dulu "eh kenapa adek lo" tanya dirga. Artha mengangkat bahu sambil menggeleng pelan "dari tadi dia kayak badmood gitu. Matanya tadi pagi juga bengkak kayak habis nangis gitu. Ataya nangis ya kak semalam? " tanya carol pada artha "gue gatau. Semalam gue ga tidur dirumah" ucap artha. Carol hanya mengangguk anggukkan kepalanya "lo susul deh ataya" ucap dirga pada carol. Carol mengangguk singkat kemudian bangkit dari duduknya. Ia berjalan cepat menyusul ataya "eh bebeb nenek kabayan gue masih kangen" teriak digo. Namun carol hanya menoleh sebentar sambil memberi pelototan mata oada digo. Membuat digo tertawa puas. Sedangkan artha dan dirga memberi tatapan aneh padanya "lo berdua kenapa lihatin gue kayak gitu? " tanya digo "lo beneran suka sama nenek kabayan itu? " tanya dirga. Digo hanya mengankat bahunya acuh kemudian meneguk sebotol air putih yang ia beli .