SWC 27 (Perasaan Ken)

1404 Words
KEN menyusuri koridor kelas sebelas dengan menenteng sebuah kotak kado yang berukuran lumayan besar. Senyum terus tercetak dibibirnya. Semua siswa dan siswi yang berpapasan dengan ken pun, langsung berbisik bisik. Membicarakan apa yang akan di lakukan ken. Ken memberhentikan langkahnya didepan kelas 11 mipa 2. Ia menghela nafasnya seperti orang yang sedang menenangkan diri sebelum melakukan sesuatu. Kemudian ken melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kelas. Ken berdiri di depan papan tulis menghadap seluruh siswa kelas 11 mipa 2 yang sedang sibuk memasukkan bukunya kedalam tas karena bel pulang sudah berbunyi. Senyum ken belum luntur juga. Semua siswa siswi yang ada disana langsung terdiam dan melihat ke arah ken yang berdiri disana dengan senyum merekah itu. Kecuali bianca yang terus berteriak memanggil ken namun tak dihiraukan oleh ken. Ken mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan terhenti pada satu titik. Yaitu pada ataya yang sedang menyapu di bagian belakang kelas. Ataya sedang melaksanakan tugas piket Ataya juga menatap ken dengan bingung. Ken berjalan ke arah ataya. Kemudian berdiri di depan ataya. Ken membuka box itu, terlihat ada sebuah boneka unicorn warna pink yang sangat lucu. Tak disangka setelah itu ken berlutut di depan ataya. Ataya yang terkejut langsung menjatuhkan sapunya. Ken mendongak menatap ataya "ataya aurora gue suka sama lo" ucap ken.  Ataya mengerjabkan matanya. Sedangkan bianca seperti matanya ingin keluar dari tempatnya "kan kemarin baru putus" ucap ataya dengan lirih "yang kemarin? Gue mutusin hubungan yang kemaren karena gue ingin nembak lo dengan cara yang lebih berfaedah. Kemarin gue jadiin lo cewek hanya karena niat untuk bikin abang lo tambah kesel ke gue. Tapi entah kenapa gue jadi suka beneran sama lo. Dan sekarang gue mau nembak lo. Lo mau gak jadi cewek gue" Buggg "akkkhhhh" jerit siswi yang ada disana saat melihat artha tiba tiba memberi bogem mentah dirahang ken. Ken langsung tersungkur. Kemudian ia menatap tajam artha dengan berusaha bangkit. Kini artha dan ken berdiri berhadapan dengan ataya yang ada di tengahnya. Bianca sedah berdiri di belakang ken. Ia tidak terima dengan ini semua. Tatapan  artha dan ken sama sama tajam sekan dengan tatapan mereka bisa saling membunuh.  Ataya menggigit bibir bawahnya. Bingung dengan situasi ini "berani berani nya lo permainin adek gue" ucap artha dengan marah "emang kenapa? Ini semua karena lo" Bugggg Satu bogeman pun didapatkan oleh ken lagi dari artha. Kali ini ken tak tinggal diam,  ia pun membalas artha. Mereka saling pukul memukul. Ataya berusaha memisahkan mereka berdua begitu pula dengan siswa yang ada disana. Bianca juga berusaha menarik narik seragam ken "udah bang udah jangan diterusin" ucap ataya berusaha menenangkan artha yang kedua tangannya dicekal oleh dua siswa teman sekelas ataya.  Begitu pula dengan ken "gue ga akan biarin lo jadi pacar ataya sampai kapan pun" ucap artha menahan marah "lo kenapa?  Ga terima?  Emang lo siapanya bisa ngelarang larang adek lo pacaran ha?  Lo itu abang nya bukan cowoknya" kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir ken. Artha semakin tersulut emosi.  Ia berusaha mendekati ken lagi namun di tahan oleh beberapa siswa disana. Dan ataya yang melihat artha ingin memukul ken lagi langsung memeluk nya. Sedangkan bianca berdiri didepan ken soperti menghadang artha agar tidak memukul ken lagi "udah bang udah please hiks hiks" isak ataya saat memeluk artha. Wajahnya ia sembunyikan didada artha. Bahunya bergetar. Seketika artha langsung luluh. Ia menghempaskan cekalan di tangannya kemudian membalas pelukan ataya. Ia mengelus rambut ataya. Ken memperhatikan mereka dengan sangat kesal. Ia mendorong tubuh bianca agar menyingkir dari hadapannya. Bukan bianca jika menyerah. Ia beralih melingkarkan tangannya dilengan ken. Melihat kedekatan artha dan ataya yang seperti itu membuat ken merasa kesal. Ken langsung menghempas kan tangan bianca yang melingkar di lengannya. Ken menendang kotak berisi boneka yang akan ia berikan pada ataya itu sehingga bonekanya keluar dari dalam kotak. Artha masih berusaha menenangkan ataya yang masih sesenggukan. Tidak peduli lagi dengan ken. Ataya tidak bisa melihat artha terluka.  Itu sebabnya ia menangis sampai seperti ini. Karena sudut bibir artha berdarah Bianca memandang kepergian ken. Wajahnya yang selalu sok, centil dan Songong itu berubah. Kini wajahnya memeperlihatkan raut kekecewaan. Kemudian ia memandangi boneka yang tergeletak di lantai itu. Bianca mengambilnya dan menepuk nepuknya untuk menghilangkan debunya yang menempel disana karena berada dilantai. Bianca memandangi boneka itu. Tanpa satu orang pun yang tau,  disana bianca memandangi boneka itu dengan senyum miris dan air mata menggenang dipelupuk mata. "kenapa bukan gue?  Kenapa orang lain yang lo suka?  Kenapa lo ga bisa melihat perasaan gue yang sangat besar buat lo?  Kenapa lo berusaha deketin cewek yang sama sekali ga ngeharapin lo padahal ada gue disini yang selalu berharap akan kehadiran lo disisi gue" batin bianca. Kemudian bianca langsung mengambil tas nya dan berjalan keluar kelas. Tak peduli dengan teriakan teman se geng nya "ayo pulang" ucap artha setelah ataya sudah tidak sesenggukan lagi. Artha mengambil tas ataya kemudian berpamitan pada carol dan pergi meninggalkan sekolah.  ********** Sampai di kamarnya bincan langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang. Ia menangis. Rasanya sakit saat merasakan perasaannya yang tulus tidak dihargai.   Ia memandangi ke langit langit kamarnya. Air matanya terus mengalir. Hatinya terasa perih. "bianca kamu kenapa sayang" teriak mamanya dari luar kamar "gapapa ma" balas bianca "beneran gapapa? " "iya bianca cuman capek. Mau tidur aja" "yaudah kamu istriahat ya" kemudian tak terdengar lagi suara mamanya. Bianca beralih tidur tengkurap. Ia menyembunyikan wajahnya di bantal kemudian berteriak sekencang mungkin. Namun suara tentu tak terdengar karena bantal itu. "gila,  gue ga pernah suka sama cowok sampai segininya. Gue emang pernah suka sama artha tapi rasanya ga sesakit ini. Dan biasanya cowok yang ngejar gue. Bukan gue yang ngejar cowok. Apa ini karma? Iss Nyebelinnnn" bianca memukul mukul kasurnya. Meluapkan segala amarahnya sampai akhirnya ia tertidur *********** "bang artha tadi kenapa marah? " tanya ataya. Kini ia dan artha sudah duduk diayunan halaman belakang rumahnya. Artha memandangi ataya. Kemudian tangannya terangkat untuk menyelipkan anak rambut ataya ke belakang telinga "aku ga suka kamu jadi milik orang lain" ucap artha. Ataya mengangguk anggukkan kepalanya "bang artha sayang sama ataya? " tanya ataya lagi. Artha tersenyum dan mengangguk "ga perlu tanya seberapa besar. Kamu tau sendiri besar sayang aku sama kamu" ucap artha. Ataya tersenyum. Kemudian ia menyandarkan kepalanya di bahu artha.  Tatapannya lurus kedepan. Begitu pula dengan artha "bang artha mau kuliah di amerika? " tanya ataya. Artha berdeham artinya ya "bang artha mau ninggalin ataya? " "enggak. Itu ga mungkin. Kamu juga ikut kesana " ataya langsung mengangkat kembali kepalanya. Ia menatap mata artha mencari kebenaran disana "maksudnya? " tanya ataya "satu tahun kita jauh. Kemudian tahun berikutnya kamu harus ikut aku kuliah disana juga. Ayah sama bunda ga akan menolak" ucap artha. Ataya kembali menyandarkan kepalanya "bukan masalah boleh atau enggak. Yang jelas pasti dibolehin. Tapi ataya ga yakin ataya mampu. Otak ataya kan pas pasan. Ga kayak bang artha yang cemerlang" artha terkekeh. Ia mengelus kepala ataya "belajar yang rajin. Ga ada kata ga mungkin" ucap artha. Ataya tersenyum dan mengangguk pelan. Mereka kembali menikmati pemandangan disore hari ini "artha!! " panggil ayahnya dari arah belakang.  Membuat mereka langsung menoleh "kenapa yah? " tanya artha dan mulai bangkit menemui ayahnya "ini lampu tamannya kamu pasang ya.  Ayah kebelet. Tuh biar dibantuin ataya" kemudian ayahnya langsung pergi begitu saja. Ataya bersorak senang. Ternyata keinginnanya untuk memeri lampu di taman belakang tersampaikan "ayo bang kita pasang" ucap ataya dengan semangat "iya. Nih bawain dulu. Aku ambil tangganya" artha berjalan ke arah gudang untuk mengambil tangga lipat. Kemudian ia menyandarkan tangga itu di pohon yang ada ditaman. Ataya memegangi lampu itu dan artha meluai memasang lampunya disana  Sekitar satu jam mereka sibuk memasang lampu lampu itu. Kahirnya pekerjaan mereka selesai. "wah bagusnya" ataya melompat lompat kemudian memeluk artha. Artha tertawa dan membalas pelukan ataya. Ia sedikit mengangkat tubuh ataya dan membawanya berputar putar. Ataya tertawa bahagia disana. Begitu pula dengan artha.  Bahkan mereka tak tau ada seseorang yang berdiri di ambang pintu yang menuju taman itu sedang memeperhatikan mereka "loh kok berdiri disini aja" ucap bundanya pada ken yang ternyata masih berdiri disana "oh tadi udah ngobrol kok sama  ataya.  Sekarang saya mau pulang aja tan" ucap ken "kok buru buru" tanya bunda artha dan ataya "iya saya ada urusan lain. Lagipula urusan saya dengan ataya udah selesai. Saya permisi" ken langsung pergi. Tanpa menemui ataya. Sebenarnya ia ingin menyatakan cintanya lagi pada ataya namun saat melihat kedekatan artha dan ataya entah kenapa membuat ken ciut. Dan memutuskan untuk pergi darisana "shittt" umpat ken saat sudah didalam mobilnya   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD