SWC 28 (UN)

1253 Words
Empat hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan untuk semua siswa kelas 10 dan 11. Karena mereka mendapatkan hari libur. Sedangkan kelas 12 harus berjuang untuk mendapatkan nilai terbaik di ujian nasional ini. Meskipun ataya adalah siswi kelas 11, ia tidak bisa sesantai teman temannya. Ia malah jauh lebih gugup dari pada siswa kelas 12 yang menjalankan ujian. Kenapa? Karena ia tidak bisa bersenang senang sementara artha harus berjuang. Ya, artha mengikuti ujian nasional karena ia siswa kelas 12. Dan artha sudah merasa siap dan bisa santai dan setenang mungkin. Karena jika ia gugup malah akan membuatnya melupakan materi yang sudah ia pelajari "bang artha ini dimakan nasi gorengnya, terus jangan lupa minum susu. Habis minum susu minum air putihnya juga ya karena orang kurang minum bisa gagal fokus. Dan semangat untuk hati terakhir ujiannya" cerocos ataya sambil mengoleskan selai coklat di roti tawar. Sedangkan artha hanya berpangku dagu sambil nenatap ataya dengan senyum merekah "kok lihatin aku terus sih? Ayo cepat makan. Nanti bang artha telat loh" ucap ataya lagi kemudian melahap rotinya yang sudah ia beri coklat itu. Coklat yang dioleskan ataya begitu banyak sehingga meluber dan menodai sudut bibirnya. Artha mengambil tisu yang ada di meja makan itu kemudian tangannya terulur untuk membersihkan sudut bibir ataya "kamu tau? Mungkin orang akan gagal fokus kalau kurang minum. Tapi aku berbeda" ucap artha dengan senyum manisnya. Ataya masih sibuk mengunyah rotinya dengan sebelah alis terangkat "oh ya?" ucap ataya dan artha mengangguk "iya. Tapi yang bikin aku gagal fokus adalah bayang bayang kamu yang selalu berputar putar di otak aku. Dan suara batinku yang selalu menyebut namamu" ataya menatap artha dengan mulut terbuka sedikit lebar. Matanya bahkan tidak berkedip. Artha tertawa renyah melihat ekspresi ataya "bang artha nggombal?" tanya ataya dengan tatapan datar. Artha semakin tertawa dengan keras sampai terbatuk batuk dan saat itu lah ataya malah tertawa "heh kalian ini ribut ribut di meja makan. Artha makanan kamu masih utuh. Ini udah jam 7 kurang 5 menit 48 detik loh. Nanti kamu telat" ucap bundanya yang baru tiba ke ruang makan. "tau tuh bun bang artha. Pagi pagi udah bikin ataya diabetes" ucap ataya dengan entengnya. "ha? Diabetes? Artha kamu kasih adek kamu makan apa? Racun? Apa gula sepabrik?" tanya bundanya beruntun. Artha memutar bola matanya jengah. "aduh bun ya enggak lah" ucap artha. Kemudian bundanya duduk di kursi sebelah ataya "ini kenapa sih?" tanya ayahnya yang juga baru datang dan sudah rapi dengan setelan jas kerjanya. Dan duduk di kursi yang ada di ujung meja makan. "ini nih yah katanya ataya, artha bikin ataya kena diabetes" ucap bundanya pada ayahnya. Kemudian ayahnya mengangkat sebelah alisnya "kamu emang dikasih micin seberapa banyak sama abang kamu ataya?" tanya ayahnya pada ataya. Ataya, artha dan bundanya mengerutkan keningnya "kok micin yah?" tanya mereka bertiga "iyalah. Kan sekarang musimnya kids jaman now over dosis micin" ucap ayahnya kemudian melahap nasi gorengnya "ya kali yah diabetes kebanyakan micin" ucap artha dengan kesal kemudian mereka semua tertawa "artha sekarang hari terkhir kamu ujian kan?" tanya ayahnya mulai serius saat artha sudah di suapan terakhirnya. Artha segera mengunyah dan menelannya "iya hari ini terakhir" ucap artha. "kerjakan dengan benar. Usahakan kamu bisa masuk universitas itu" ucap ayahnya. Artha dan ataya yang duduknya berhadapan langsung saling bertatapan. "em... Yah, ataya boleh nggak kalau setelah lulus kuliah disana" tanya artha dengan hati hati. Ayahnya langsung menatap artha dan kemudian menatap ataya. "boleh. Kalau ataya mampu." ataya tersenyum begitu pula dengan artha. Itu tandanya mereka hanya akan berpisah selama satu tahun saja. Ya meskipun satu tahun itu bisa dibilang lama "makasih yah" ucap ataya senang. Ayahnya tersenyum "tapi jujur saja ataya, bunda lebih senang kamu kuliah di indo. Karena kamu anak gadis. Ga enak kalau jauh dari orang tua" ataya yang sedang minum susu coklatnya dan bersamaan dengan artha yang juga meneguk air putihnya langsung terbatuk batuk. Ayah dan bundanya langsung mengerutkan kening heran "kalian ini kenapa?" tanya bundanya sambil menepuk nepuk punggung ataya. Ataya tersenyum kaku. Anak gadis? Oh astaga ataya bahkan bukan lagi gadis, meskipun ia masih dibilang anak anak. "kan ada artha bun" ucap artha dengan cepat. "iya artha bunda tau. Tapi tetap saja bunda kawatir. Kamu kuliah di indo saja ya ataya. Bunda mohon. " ucap bundanya menatap dalam ataya. Ataya yang melihat itu pun jadi tak tega. Bundanya selalu menuruti semua kemauannya, dan kali ini bundanya menginginkan sesuatu darinya. Apakah ia harus menolak? "kalau ataya inginnya disana ya biarkan saja bun lagian kan ada ar.." "ataya akan kuliah di indo kok bun" ucap ataya memotong perkataan ayahnya. Ataya tersenyum pada bundanya. Meyakinkan bundanya atas perkataannya tadi. "jadi tambah sayang deh" kemudian mereka berpelukan. Ayahnya hanya geleng geleng kepala saja. Sedangkan artha wajah nya langsung datar dengan rahang mengeras menahan marah. "artha berangkat" ucap artha langsung bangkit dari duduknya. Kemudian mencium tangan ayah dan bundanya. Saat ataya mengulurkan tangannya ingin mencium tangan artha seperti biasanya artha malah langsung nyelonong pergi. Ataya menatap kepergian artha dalam diam. Sedangkan ayah dan bundanya sibuk berbicara Ataya tau, artha pasti marah karena keputusannya. Namun ataya tak bisa menolak permintaan bundanya yang selama ini selalu menyayanginya meski dirinya bukan putri kandung. Ataya langsung pamit ke dalam kamar untuk menyelesaikan tugas yang diberikan gurunya. Ayah dan bundanya menginyakan saja ************* Kring kring.. "bunda ada telfon" teriak ataya kepada bundanya. Bundanya segera berlari kecil mengangkat telfon itu. Sedangkan ataya masih sibuk menggoreng nuget kesukaannya. "apa!!!" teriak bundanya tiba tiba. Teriakannya begitu keras hingga membuat ataya terkejut. "dimana anak saya sekarang?" Degg Pertanyaan bundanya baru saja membuat ataya terdiam. Tangannya yang memegang sudip langsung bergetar. Ia segera mematikan kompornya dan berlari ke arah ruang tengah dimana bundanya berada. Saat ataya sudah sampai disana, bundanya menatap ataya dengan mata merah dan berlinang air mata. Kemudian memeluk ataya dengan erat. "kenapa bun?" suara ataya mulai bergetar "artha kecelakaan saat pulang sekolah" *********** Ataya dan bundanya sedang menunggu di depan IGD. Mereka sangat cemas. Kini bukan bundanya yang menangis. Melainkan ataya. "anda keluarganya?" tanya seorang perawat "iya saya bundanyanya" "mari ikut kami" hanya satu orang yang diperbolehkan masuk. Ataya memandang lewat pintu kaca igd. Tirai yang digunakan untuk menutup bangkar artga sudah terbuka sehingga ataya bisa melihat artha. Meskipun sedikit karena tertutupi beberapa perawat yang menangani artha. "sayang, kamu gapapa kan?" tanya bundanya pada artha. Artha meringis menahan sakit di kakinya. Kakinya tadi sempat terjepit dan mengalami luka cukup serius. "ini bagaimana? Apa tidak ada obat untuk menghilangkan nyerinya?" tanya bundanya pada perawat perawat disana.  " ini nyonya surat izin untuk melakukan operasi. Putra anda harus menjalankan operasi di kakinya" ucap salah satu perawat dengan menyodorkan selembar kertas . Bundanya langsung menerima dan menandatangani nya "kenapa dengan kakinya?" "luka nya cukup dalam. Dan ada sedikit tulang yang retak. " mendengar ucapan dari perawat itu embuat bundanya kembali terisak. "kamu yang kuat ya. Harus kuat. Kamu jagoan bunda" ucap bundanya dengan mengelus kening artha. "bunda tolong bilang ke ataya, kalau artha sayang sama ataya" ucap artha dengan susah payah karena menahan sakit dan selang oksigennya. Bundanya mengangguk kemudian mengecup kening putranya "kami harus membawanya ke ruang operasi dokter sudah menunggu" ucap perawat. Kemudian artha langsung di pindahkan. Sesaat pandangan artha bertemu dengan ataya yang ternyata sedari tadi memperhatikannya dari luar. Artha menyesal. Karena ia tidak tau ada ataya disana. Jika ia tau ia akan menyembunyikan rasa sakit luar biasa ini. Setelah artha pergi ataya kembali terisak dengan cukup keras. Sampai sesenggukan. Tiba tiba ada yang mengelus punggung nya. Ataya mendongak. Dan mendapati ken yang sudah ada di samping nya dengan masih menggukan seragam sekolah dan senyum manisnya  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD