SWC 29 (janji)

1638 Words
" udah tenang. Jangan nangis terus, lo ga cantik waktu nangis. Hidung lo merah, mata sembab trus ingusan lagi" ucap ken seenak jidatnya pada ataya. Ataya menatap ken dengan kesal. Apakah cowok didepannya ini tidak bisa sehari saja tidak menyebalkan. "lo bisa nggak sih ga bikin gue kesel" ucap ataya dengan sengit meski ia masih sesenggukan. "lah. Emang ya cowok itu serba salah. Bohong salah ngomong jujur juga salah" ataya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tak ingin menanggapi ken lagi. Kini mereka berada di kantin rumah sakit. Ataya melihat ada seorang cowok yang sedang makan disalah satu meja kantin sendirian. Ataya kembali teringat pada artha yang di operasi saat ini "lo mau makan?" tawar ken karena melihat ataya terus memperhatikan orang yang sedang makan. "nggak" jawab ataya. "ya kalau ga mau jangan lihatin orang lagi makan terus. Nanti dikiranya gue ngajakin cewek tapi ga mau keluar duit" "diem deh lo" sentak ataya. Ken langsung terdiam. Padahal niat ken hanya menghibur ataya namun ternyata ataya malah semakin badmood. Telfon ataya berbunyi. Ia segera mengambilnya dari saku bajunya. Terlihat nama bunda di sana. Ataya segera menerima panggilan itu "hali bun" "..." "syukurlah. Atay kesana sekarang" Kemudian sambungan telfon tertutup. Ataya segera bangkit dari duduknya dan berlari menuju ruang operasi karena kara bundanya operasi telag selesai. Ken mengukuti ataya dibelakangnya "bun gimana?" tanya ataya saat sudah didepan ruang operasi. Disana sudah ada ayahnya dan seorang dokter yang melakukan operasi pada artha "semua lancar" ucap dokter itu dengan senyum nya. Ataya langsung bernafas lega "kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat. Saya permisi" ucap dokter itu lagi "terimakasih dok" ucap ayahnya menyalami dokter itu Kemudian ada beberapa perawat yang mendorong ranjang artha untuk menuju ruang rawatnya. Terlihat artha masih dalam pengaruh obat bius. Melihat artha terlelap seperti itu membuat hati ataya merasa sakit. Air matanya mulai menggenang namun segera ia hapus. Ayah dan bundanya mengikuti perawat itu yang membawa ranjang artha. Saat ataya juga akan melangkag mengikuti mereka, tiba tiba ken memberhentikannya. "ataya!" otomatis ataya langsung melihat ke arah ken dengan tatapan bertanya "gue balik dulu ya. Gue ada urusan. Nanti atau besok gue pasti kesini lagi. Oke" ucap ken kemudian mengusal rambut ataya. Ataya hanya diam memandangi kepergian ken "lo gak balik juga gue ga masalah." lirih ataya mengedik kan bahu. Kemudian ia berlari kecil untuk menyusul ayah dan bundanya ********** "kamu gak pulang?" tanya ayahnya pada ataya yang sejak tadi masih duduk di kursi samping ranjang tempat artha berbaring. Ataya yang awalnya menyandarkan kepalanya di pinggir ranjang kembali mengangkat kepalanya. "ataya disini aja yah" "kalau gitu biar bunda sama ayah aja yang pulang bentar. Bersih bersih sama ambil baju ganti buat kamu sama artha ya" ucap bundanya. Ataya menganggukkan kepalanya "ayah pergi dulu. Kamu baik baik disini" ucap ayahnya mengecup puncaj kepala ataya. Kemudian ayah dan bundanya pergi meninggalkan ruangan itu. Kini tinggal ataya dan artha saja. Ataya mengenggam erat tangan artha yang tak di infus. Ataya membawa tangan itu ke pipinya sambil menatap wajah artha yang terlihat pucat.  ataya kembali terisak. Ia menundukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya di kasur itu. Tubuhnya bergetar karena menangis. Tiba tiba ataya merasakan ada sebuah tangan yang mengelus puncak kepalanya. Ataya langsung mendongak dan saat itu lah tatapannya bertemu dengan tatapan artha. Ternyata artha sudah sadar. Namun tak ada senyum diwajah artha. "kamu sudah sadar?  Mau minum atau apa? Ada yang sakit?" tanya ataya bertubi tubi menghawatirkan keadaan artha. Namun artha masih diam dan menatap datar ke arah ataya. Membuat ataya juga ikut terdiam. Ataya menundukkan kepalanya. Lagi lagi ia terisak "kamu kenapa sih kayak gini? Kenapa bisa? Kenapa? Aku takut. Jangan kayak gini. Aku takut kamu ninggalin aku. Kenapa kamu ga bisa jaga diri kamu sendiri? Kenapa kamu ga hati hati. Aku takut. Aku takut bang artha aku takut. Aku takut kehilangan kamu" isak ataya. Artha masih diam tidak berbuat apapun. Ia masih melihat ke arah ataya yang terisak "kenapa diem aja? Ha? Jawab aku" ucap ataya mulai kesal. "bukan nya kamu sendiri yang mau ninggalin aku?" ucap artha. Ataya terdiam. Memikirkan apa yang dimaksud oleh artha. Setelah ia mengerti maksudnya ataya menghela nafasnya. "bang artha. Aku ga bisa nolak bunda. Selama ini bunda selalu ada buat aku. Bunda selalu sayang sama aku. Bunda selalu nurutin apapun kemauan aku. Untuk pertama kalinya bunda minta sesuatu dari aku. Dan bagaimana bisa aku menolak. Apalagi tatapan bunda penuh dengan harapan. Aku tidak bisa. Maafkan aku." jelas ataya. "kita sudah melakukan kesalahan besar. Aku tau suati saat nanti meski serapat apapun kita menutupi rahasia itu pasti akan terbongkar juga. Dan pasti ayah bunda akan kecewa dengan ku. Itu sebabnya, sebelum mereka benar benar kecewa padaku karena mengetahui sebuah kebenaran setidaknya biarkan aku membuat bunda bahagia karenaku. Karena bisa saja nanti mereka aka mengusirku atau membuangku karena aku bukanlah seorang anak yang baik. Tapi setidaknya biarkan aku pernah memberi mereka kebahagiaan. Tolong mengertilah" ataya mulai terisak kembali. Artha mengerjabkan matanya beberapa kali. Sejauh itu ataya memikirkannya. Ini semua salahnya. Namun ataya yang menderita. Artha merasa sangat bersalah. Ia adalah kakak terbrengsek didunia. Arth benar benar merasa gagal. "maafkan aku" ucap artha. Ataya langsung menatap mata artha yang ternyata sudah sangat merah "kenapa?" tanya ataya kawatir saat melihat air mata menggeng di mata artha "aku yang salah. Aku yang seharusnya dihukum. Aku yang seharusnya meerima beban ini, bukan kamu. Aku yang seharusnya menderita bukan kamu. Maaf kan aku. Aku bukan orang yang baik. Aku gagal menjadi seorang kakak. Aku adalah kakak terbrengsek. Aku tidak bisa memberimu kebahagiaan namun hanya derita dan luka saja. Maafkan aku ataya. Maaf" ataya langsung memeluk tubuh artha yang masih berbaring. Artha juga membalasnya. Ataya menangis disana. "bang artha memang gagal untuk jadi kakak. Karena bagi ataya bang artha bukan hanya sekedar kakak tapi bang artha itu hidup ataya. Ataya sayang sama bang artha, ataya cinta sama bang artha. Bang artha bukan cowok brengsek. Jangan pernah bilang jika kamu hanya memberikan derita dan luka. Itu salah. Kamu selalu memberi lebahagiaan untuk ku, memberi warna dihidupku, pembangkit senyum diwajahku. Tolong jangan salahkan diri bang artha karena semua ini. Karena ataya juga menginginkannya saat melakukan itu. Bukan salah bang artha tapi ataya juga" isak ataya sambil memeluk erat artha. Artha mengelus kepala ataya yang ada di dadanya. Membiarkan ataya menangis sepuasnya disana. Karena dengan begini artga juga merasakan ketenangan dalam dirinya. Cukup lama mereka berpelukan dan akhirnya ataya menguraikan pelukannya. Ataya menatap wajah ataya yang cukup dekat dengannya. Tangannya bergerak menghapus sisa air mata ataya. Sebuah senyuman terbit dibibir artha dan membuat ataya juga menerbitkan senyumannya. "jangan pernah tinggalin aku. Apapun yang terjadi. Kamu orang yang kuat. Dan aku juga akan berusaha untuk selalu menjadi milikmu. Itu janjiku. Tapi Jika nanti kita sudah terpisah oleh jarak dan aku mulai keluar dari jalurku dan melupakan janjiku padanu. Tolong berusahalah untuk membawaku kembali padamu. Ingatkan aku akan janji yang pernah aku ucap ini. Kamu mau kan?" ucap artha penuh harap. Ataya mengangguk mantap. Artha tersenyum. Artha menyelip kan tangannya di tengkuk ataya. Kemudian mendorong nya mendekat padanya. Artha mengecup bibi ataya. Namun kemudia melumat bibir itu. Ataya pun membalas. Ia mengikuti permainn artha dan berusaha mengimbanginya. Beberapa saat mereka saling melumat dan akhirnya artha melepaskan tautan bibirnya karena suara ketukan pintu. Ataua langsung berdiri tegak dan mengusap bibirnya yang basah "masuk" ucap ataya. Dan muncul lah seorang perawat wanita yang terlihat masih muda. Ataya mengerutkan dahinya saat melihat perawat itu malah berjalan seperti model model saat berada di catwalk. Bukan seperti perawat yang ada dirumah sakit. Perawat itu tersenyum sok manis pada artha namun artha hanya menatap nya datar "ini saya bawakan obatnya. Setelah ini tolong makan kemudian minum obatnya agar tidak terasa nyeri" ucap perawat itu dengan nada bicara dibuat buat sok kalem. Ataya melipat kedua tangannya didepan dada. "iya sus" ucap artha. "jangan panggil suster. Panggil saja anna, umur kita tidak jauh beda" ataya membelalakkan matanya. Sedangkan artha mengangkat sebelah alisnya. Kemudian melirik ataya yang menatap perawat itu dengan tatapan sengit. Artha menahan senyumnya "iya anna. Terimakasih" ucap artha berniat menggoda ataya. Kini tatapan sengit ataya beralih pada artha. Namun artha malah memasang wajah tak bersalah. "apa kakinya tidak terasa nyeri sekarang ataua bagaimana?" tanya perawat itu yang bernama anna "e sedikit terasa panas mungkin tepat dijahitannya" anna akan menyentuh kaki artha namun segera ditepis oleh ataya "mbak jangan modus ya, pakai pegang pegang" "loh kok modus. Saya itu hanya ingin memeriksa dek" what!! Adek? Sejak kapan bunda ataya melahirkannya. Akhirnya ataya membiarkan saja anna menyentuh kaki artha yang diperban. Toh itu kan diperban tidak bersentuhan kulit langsung "nanti setelah minum obat akan hilang sakitnya" ucap anna lagi pada artha. Ataya merasa tak dianggap ada "kalau begitu saya permisi. Kalau ada apa apa panggil saja. Saya ada di ruang perawat"  artha ingin membuka suara namun sudah didahului oleh ataya "iya! Terimakasih atas kebaikan anda dan sekarang tolong keluar" ucap ataya. Anna menatap ataya dengan sengit kemudian kembali tersenyum pada artha dan berjalan lagi seperti model catwalk untuk keluar ruangan Setelah kepergian anna tawa artha pecah saat melihat wajah kesal ataya "kenapa ketawa?" tanya ataya dengan sengit "gapapa" jawab artha masih dengan tawanya. Ataya memukul mukul kecil lengan artha membuat artha mengaduh kesakitan "rasain. Udah sakit tapi masih sempat sempatnya ganjen sama cewek lain. Sama tante tante lagi yang ga ungat umur. Dasar playboy cap keledai" ucap ataya masih memukul li artha "eh iya iya ampun. Tadi cuamn niat bikin kamu cemburu kok" ucap artga sambil mengelus elus lengannya. "oh jadi gitu. Awas kamu ya. Nanti aku bakal bikin kamu cemburu. Aku bakalan ganjen sama cowok lain" "eh apa apaan. Gak ada gitu gitu an awas kamu" "biarin aja. Salah sendiri kamu yang mulai. Lagian kalau kamu sakit gini aku bebas bisa sama siapa aja" "ataya!!" "apa? Marah? Marah aja. Ga peduli" ucap ataya memberikan juluran lidah nya pada artha. Membuat artha semakin kesal. mereka terdiam. Dan sesaat kemudian mereka tertawa. Menertawakan sikap mereka seperti anak kecil.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD