KEN baru saja tiba disekolah. Namun tidak seperti biasanya yang akan langsung pergi ke kantin. Kali ini ia masih berdiam diri di parkiran, duduk di atas motornya. Menunggu seseorang "ken!! " panggil suara cempreng dengan sangat melengking. Ken langsung memutar bola matanya jengah. Cewek itu berlari kecil ke arah ken "pagi kennnnn..... " ucap bianca dengan senyum sok manis "ngapain lo disini? " tanya ken "nemuin kamu lah" "oh. Tapi gue ga pengen ketemu lo" jawab ken seenaknya sendiri. Membuat bianca memajukan bibir bawah nya dengan sok imut. Ken mengerutkan keningnya melihat ekspresi bianca "ngapain tuh bibir kayak gitu? Lo pikir bagus? Apa lo berharap kayak di sinetron sinetron yang kalau cewek nya ngambek trus cowok nya bakal nyium gitu? " bianca langsung melipat kedua tangannya didada. Ken sangat menyebalkan "tunggu, kok kamu tau kalau film sinetron kayak gitu? Wah jangan jangan kamu suka film sinetron ya? Dan tadi apa? Cewek? Cowok? Wah kamu ngakuin aku sebagai cewek kamu? Astaga aku seneng banget" bianca melompat lompat kegirangan. Ken menghela nafasnya. Ia memang salah bicara tadi Kemudian datanglah seseorang dengan motor sportnya dan helm full face warna hitam dengan gambar matahari itu. Siapa lagi jika bukan surya, alias artha surya Ken tersenyum melihat kehadiran artha. Berbeda dengan bianca yang langsung berlari meninggalkan tempat itu. Ya, bianca merasa takut pada artha. Artha memarkirkan motornya tepat di sebelah ken. Senyum ken hilang saat tidak melihat adanya ataya di boncengan artha. Artha melepas helm full face nya kemudian turun dari motornya. Ken celingak celinguk kesana kemari mencari keberadaan ataya. Artha tau sebenarnya apa yang dilakukan oleh ken. Namun artha bersikap seolah dia tidak peka dan tidak peduli. Tanpa menoleh, melirik apalagi berkata sepatah kata pun artha berjalan meninggalkan parkiran itu. Namun tiba tiba artha mendengar "woi kakak ipar... Eh artha!!" langkah artha terhenti. Ia tau siapa yang memanggilnya. Artha membalik badannya. Ken berlari ke arah artha dan berdiri didepannya. Saat sampai dihadapan artha ken langsung menunjukkan senyuman dua jari nya. Sedangkan artha tetap memasang wajah datar "lo tadi manggil gue apa? " tanya artha. Ken langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "artha! Emang lo mau gue panggil apa? " ucap ken. Artha tak peduli kemudian ia melanjutkan langkahnya lagi menuju kelas. Ken menyusul artha dan langsung menghadang jalan artha. Membuat langkah artha kembali terhenti "gue males ribut sepagi ini" ucap artha masih dengan nada datarnya "ah elo tha. Masak kalau gue ngomong sama lo selalu ngajakin ribut. Enggaklah.. " ken menepuk nepuk sebelah bahu artha dengan sok akrab dan senyum nya. Artha melirik tajam bahunya yang ditepuk oleh ken. Membuat ken langsung mengangkat tangannya "langsung to the point" ucap artha. Ken menghela nafasnya. Cowok satu ini memang tak bisa bersikap ramah padanya "gini. Gue ga mau ngajak ribut kayak hobi kita biasanya. Gue cuman mau tanya. Adek lo mana? " tanya ken "ga masuk" jawab artha "loh kenapa? " tanya ken. Namun artha sudah melangkah meninggalkannya dengan lewat jalan lain. Ken terdiam ditempatnya. Jadi gini rasanya dicuekin. Menyakitkan. ************ "bunda ataya udah kenyang" ucap ataya menahan sendok berisi bubur ayam yang akan disuapkan bundanya "yaudah. Kamu minum obatnya dulu" ataya menerima obat itu dan segera meneguknya dengan segelas air putih. "nah sekarang ataya tidur ya. Semalam katanya ga bisa tidur" ucap bundanya sambil menata bantal untuk ataya dengan senyaman mungkin "iya gigi ataya sakit banget bun dari semalem" ucap ataya dengan sedikit kesusahan karena gusinya bengkak begitu pula dengan pipi kirinya "yaudah. Sekarang ataya coba tidur ya. Siapa tau sekarang udah bisa dibuat tidur. Bunda kembaliin dulu mangkuk ini nanti bunda bawain kantung kompresnya" ataya mengangguk. Kemudian ia membaringkan tubuhnya. Bundanya memberikan boneka keledai untuk dipeluk oleh ataya. Setelah ataya terlihat nyaman. Bundanya keluar dari kamar untuk mengembalikan mangkuk bubur Di tengah tangga, bundanya berpapasan dengan artha yang baru pulang. "hai bun" sapa artha kemudian mencium tangan bundanya "sudah pulang? Ga ikut bimbel? " "em.. artha bolos bimbel bun. Hehe... Buat hari ini aja bun. Artha kepikiran ataya terus" ucap artha. Bundanya menghela nafas. Artha tidak akan bolos sekolah atau bimbel jika memang tidak dalam keadaan mendesak. Dan kali ini menurut artha sangat mendesak, karena cewek yang ia sayangi sedang sakit "yaudah gapapa. Kamu ganti baju gih terus makan" ucap bundanya "ataya gimana bun? " "ini baru selesai makan. Jangan diganggu dulu. Dia coba buat tidur. Kasian dari semalem ga bisa tidur katanya. Pipinya sampai bengkak gitu. Kamu ganti baju terus makan baru temuin dia. Oke" artha mengangguk. Kemudian artha kembali melanjutkan langkahnya untuk ke kamar begitu pula bundanya untuk ke dapur Sebelum masuk kamar artha menyempatkan untuk melihat ataya. Artha membuka sedikit pintu kamar ataya. Terlihat ataya sedang memejamkan matanya dengan memeluk boneka itu. Dari raut wajahnya masih terlihat jika ia menahan sakit. Artha merasa kasian. Artha kembali menutup pintunya. Dan kemudian masuk kamarnya sendiri. Di dalam kamar artha mengambil ponselnya untuk menghubungi dirga "halo tha" jawab dirga dari sebrang telfon "halo. Eh lo kemarin ikhlas ga sih traktir gue sama adek gue? " ceplos artha "ikhlas ga ikhlas sih hehe... " jawab dirga "adek gue sakit gigi gara gara makan coklat traktiran lo berdua yang ga ikhlas" ucap artha "sampe segitunya. Astaga gue emang sakti banget ya. Kemarin gue emang sempat nyumpahin lo sakit gigi karena lo asal nyeplos aja waktu minta traktiran. Eh kok malah ataya yang kena" "sialan lo" ucap artha "tenang. Gue bakal cabut sumpah gue. Bentar lagi dia bakal sembuh kok. Pulang sekolah gue kerumah lo deh. Jadi merasa bersalah gue" "serah lo dir serah" ucap artha dan langsung mematikan sambungan telfonnya Artha berjalan ke arah lemarinya. Mengambil pakaiannya dan mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian itu. Setelah berganti artha langsung turun ke ruang makan. Menuruti perkataan bundanya " itu makanannya. Udah bunda angetin" ucap bundanya yang sibuk sendiri "itu apaan bun? " tanya artha "ini? Buat kompres pipinya ataya" kemudian bundanya kembali ke kamar ataya. Artha segera menyelesaikan acara makannya agar bisa segera menemui ataya. Artha mencuci piringnya berbarengan dengan bundanya sudah kembali dan sedang mengambil minum. "ataya udah tidur? " tanya artha "tidur. Tapi ga nyenyak. Giginya masih sakit. Kamu temenin gih kasian" suruh bundanya. Tanpa pikir lama artha langsung menuju kamar ataya. Ia membuka pintu kamarnya perlahan dan kembali menutupnya setelah ia masuk. Artha melangkah mendekati ataya dengan setenang mungkin agar tidak mengusik ataya. Artha duduk di pinggiran ranjang ataya. Terlihat ataya masih memeluk boneka itu dengan kompres yang diberika bundanya tadi di area pipi. Artha mengusap puncak kepala ataya. Membuat ataya membuka matanya "bang artha" lirih ataya. Artha tersenyum. Tangannya bergerak ke pipi ataya. Ibu jarinya mengelus pipi itu "masih sakit ya? " tanya artha. Ataya hanya mengangguk. " ataya ga bisa tidur. Tapi ngantuk" ucap ataya. Artha menghela nafasnya. Ia tau rasanya orang sakit gigi itu bagaimana "aku temenin tidur" artha naik ke ranjang ataya. Dan membaringkan tubuhnya di belakang ataya. Artha memeluk ataya dari belakang dan ataya mencari kenyamanan dalan pelukan itu. Ia semakin menempelkan tubuhnya pada artha. Artha menciumi kepala ataya dengan sayang  "udah. Sakitnya jangan terlalu dipikirin. Nanti malah tambah sakit. Dibuat relax aja" artha mengelus lengan ataya. Ataya semakin merasa mengantuk karena kenyamanan itu. Dan benar kata artha. Perlahan nyeri di giginya berkurang. Dan ataya pun larut dalam tidurnya. Begitu juga dengan artha yang juga merasa lelah karena begitu banyak kegiatan disekolah Akhirnya mereka berdua tertidur dalam posisi yang sama. Artha yang sangat mencintai ataya, dan ataya juga sangat mencintai artha. Tidur dalam posisi seperti ini membuat mereka kerasakan kenyamanan yang luar biasa Setelah sekitar 30 menit mereka tertidur. Bunda mereka kembali ke kamar ataya. Bundanya membuka pintu kamar ataya "oh astaga ternyata mereka sudah tertidur. Maaf ya. Bagaimana kalau kamu tunggu saja atau kamu kembali besok. Karena tante ga bisa bangunin ataya. Dia baru bisa tertidur. Nanti kalau artha yang bangun pasti ataya juga ikut bangun. Gimana? " ucap bundanya dengan sangat pelan kepada seseorang yang berkunjung "em pulang dulu aja deh tante. Mungkin nanti malam saya akan kesini lagi" ucapnya "maaf ya. Kamu jadi harus bolak balik" "gapapa tante. Ini bunganya buat ataya" "oh makasih. Kamu baik sekali" "iya tante. Kalau begitu saya permisi pulang dulu tante" "ah ya. Mari tante antar kedepan. Kemudian mereka meninggalkan ataya dan artha yang tertidur itu .