ARTHA merasa terusik dalam tidurnya. Ia mendengar suara kegaduhan yang entah dari mana. Membuat artha terpaksa membuka kedua matanya yang terasa begitu berat. Artha mengerjabkan mata nya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk Pertama kali yang artha lihat adalah wajah ataya yang tidur dalam damai. Ataya berubah posisi dengan tidur miring menghadapnya. Artha merasakan ada sesuatu yang melingkar di perutnya. Saat artha melihatnya ternyata itu adalah tangan ataya. Tangan artha bergerak mengelus puncak kepala ataya. Terlihat ataya bergerak kecil untuk mencari kenyamanan yang lebih. Artha tersenyum kemudian mengecup singkat bibir ataya. Kecupan itu terhenti saat artha kembali mendengar suara gaduh. Suara itu ternyata berasal dari kamarnya Artha mengerutkan keningnya. Siapa yang ada dikamarnya saat ini? Tidak ada orang lain dirumah ini kecuali dirinya, ataya dan bundanya. Apa ayahnya sudah pulang? Namun apa yang ayahnya lakukan dikamarnya? Itu tidak mungkin. Artha kembali mendengar suara. Kali ini suara tawa. Apa itu hantu? Artha percaya jika ada kehidupan lain didunia ini. Namun artha tidak percaya jika hantu bisa tertawa seperti itu Tidak ingin terus menerka nerka. Artha memutuskam untuk melihat apa yang terjadi di kamarnya. Perlahan artha melepaskan pelukan ataya diperutnya dan mengganti dengan guling. Artha membenarkan posisi ataya agar nyaman dalam tidurnya. Dengan sangat perlahan artha bangkit dari tidurnya dan turun dari ranjang. Artha mengelus puncak kepala ataya sejenak kemudian melangkah tanpa suara keluar kamar ataya. Artha menutup pintu kamar ataya dengan sangat hati hati Di depan sini suara itu semakin jelas. Artha mendekati pintu kamarnya. Tangannya perlahan bergerak membuka pintu kamarnya. Saat pintu sudah terbuka, artha langsung membelalakkan matanya. Serasa matanya ingin keluar dari tempatnya. Bagaimana tidak. Kamarnya yang awalnya bersih, wangi dan rapi berubah 180°. Kini kamarnya berubah menjadi sangat berantakan. Ranjang yang berantakan, bungkus makanan berserakan dimana mana dan remahan remahan makanan ringan juga ada dimana mana. Dan terlihat si pelaku sedang sibuk bermain playstation dengan asyiknya dan tak sadar akan kehadiran artha disana "wah bagus ya lo. Masuk kamar orang tanpa izin pemiliknya terus di acak acak kayak gini" dua orang itu langsung menoleh ke arah artha dan langsung menunjukkan senyum pepsodent nya " Eh artha. Udah bangun. Mau join? " ceplos digo dengan entengnya "gilak, lo tidur apa mati suri. Kita udah kesini dua kali dan lo masih molor" ucap dirga tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tv "siapa suruh lo beruda kesini" ucap artha dan berjalan mendekati mereka "ya karena aku cuma punya hati" ceplos digo. Dirga dan artha langsung menatap digo dengan tatapan bertanya "dasar lemot. Maksud gue karena kita merasa bersalah mangkannya kita jenguk ataya" jelas digo. Kemudian artha dan dirga mengangguk angguk paham. "oke, karena kalian cuma punya hati sekarang bersihin kamar gue. Harus bersih seperti awal" ucap artha "iye bentar nanggung nih" mereka berdua masih sibuk dengan playstation nya. Artha yang merasa geram berjalan cepat ke arah stop kontak dan langsung mencabut semua kabeh yang ada disana. Kemudian artha berdiri di depan televisi dengan melipat kedua tangan didada "bersihin sekarang atau ga ada contekan selamanya" ucap artha dengan nada datarnya. Dirga dan digo saling bertatapan. Mereka langsung berdiri dan berjalan cepat keluar kamar artha. Artha tersenyum puas. Ia tau jika dirga dan digo keluar untuk mengambil alat kebersihan. Dan benar kini mereka kembali dengan membawa sapu, kebus dan serok sampah. "baiklah rapikan kamarku dan aku akan mandi" artha mengambil handuknya kemudian masuk kedalam kamar mandi yang ada didalam kamarnya. Saat artha sudah masuk ke kamar mandi dirga dan digo langsung bernafas lega " lo sih bikin rusuh" ucap digo "lah kok gue. Kan lo yang makan" sela dirga "lo kan juga ikut" "woi beresin cepetan. Atau ga ada contekan selamanya" teriak artha dari dalam kamar mandi "iya princessss" ucap dirga dan digo "sialan lo berdua" teriak artha lagi ********* Artha, dirga dan digo turun dari kamar artha menuju ruang keluarga. Mereka merasa bosan jika berada di dalam kamar terus. "hei kalian. Ayo makan sama sama sini" teriak bunda artha dari ruang makan yang menjadi satu dengan ruang keluarga yang hanya dibatasi sekat kaca saja. "tuh bunda gue ngajakin makan. Kalian mau ga? " tanya artha "mau lah. Rezeki kok ditolak" dirga dan digo malah menuju ke ruang makan mendahului artha. Artha menggeleng gelengkan kepalanya. Kemudian ia menyusul dirga dan digo. Tak sengaja artha melihat ada bunga di atas meja dekat ruang makan  "tumben bun beli bunga ginian. Biasanya juga beli bunga dipasar" ucap artha, kemudian duduk disalah satu kursi meja makan "itu ayah yang beliin" ceplos ayah artha yang memang sudah pulang "wah om dan tante so sweet banget" ucap digo dengan heboh "ya, ayahmu memang pandai sekali mengarang cerita. Jika dia memberikan bunda bunga mahal seperti itu pasti ada maunya. Itu dari seseorang yang tadi datang untuk menjenguk ataya. Dia bilang dia teman mu" ucap bundanya pada artha. Artha mengerutkan keningnya "teman ku? Siapa? " tanya artha "tidak tau. Bunda lupa menanyakan namanya. Dia sepertinya baik. Dia juga sangat ramah" "siapa tha. Tante teman artha yang baik dan ramah itu hanya aku saja" ucap digo "oh astaga kau diamlah" ucap dirga dengan kesal Perbincangan dilajutkan oleh dirga, digo, ayah dan bunda artha. Sedangkan artha sendiri masih memikirkan siapa yang datang Tiba tiba bel rumah berbunyi. Bunda artha langsung pergi untuk membukakan pintu. Sedangkan si kembar, artha dan ayahnya tetap melanjutkan makan. Tak lama bundanya kembali "ha lihat siapa yang datang. Wah kita akan makan malam ramai ramai. Untung bunda masak banyak. Ayo silahkan duduk" Dirga dan digo yang posisinya menghadap pintu masuk ruang makan melongo saat melihat siapa yang datang. Artha yang posisinya membelakangi langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang datang. Dan saat itulah "hai semuanya. Selamat malam" "lo!! " ucap artha dengan terkejut "ayo duduk. Jangan berdiri saja. Kita makan malam bersama. Ah tunggu siapa namamu? " "Ken tante. Ken Made" "oh ken. Ayo duduk. Kita makan" Tanpa merasa canggung ken mengambil duduk di samping artha. Artha,dirga dan digo menatap ke arah ken dengan tatapan heran. Ken yang merasa diperhatikan sama sekali tak merasa sungkan. Ken dengan santainya ikut makan bersama disana "Ken apa kau teman sekelas artha,dan si kembar ini? " tanya ayahnya "tidak om. Saya anak ips" "lalu bagaimana bisa kenal dengan artha? " kini bundanya yang bertanya "sebenarnya saya kenal artha melalui ataya" ucap ken "ataya? " tanya bunda dan ayah artha bersamaan "iya. Ataya itu pacar saya" ucap ken. Dirga, digo dan artha langsung tersedak makanan mereka. "hei kalian ini kenapa? Makan pelan pelan" ucap bundanya "iya kalian ini kenapa. Pelan pelan saja bro" ucap ken sambil menepuk nepuk punggung artha. Artha langsung menghempaskan tangan itu "kok ataya tidak pernah cerita? Artha kamu tau adek kamu punya pacar? " tanya ayahnya pada artha "ataya masih malu om" jawab ken langsung "oh tante mengerti. Itu sebabnya kamu membawakan bunga tadi untuk ataya. Oh so sweet sekali" ucap bundanya. Artha memutar bola matanya jengah. Dalam hati sudah ribuan kali artha mengumpati ken "bunda!!" panggil ataya yang baru turun dari tangga. Mereka semua langsung menoleh ke arah suara ataya "iya sayang? Bunda di ruang makan. Ayo kesini kita makan bersama juga" teriak bundanya Ataya melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Penampilannya sama seperti tadi. Rambut acak acakan dan kompres nya masih melingkari kedua pipinya. Terlihat ada banyak orang disana. Saat ataya sudah sampai diambang pintu "kok rame banget ada siapa aja" ataya hanya bisa melihat bundanya yang duduk bersebelahan dengan sikembar, ayahnya yang duduk di ujung meja makan. Artha yang memunggunginya dan disebelah artha.... Ataya mengerutkan keningnya. Ia penasaran siapa yang ada disamping artha. Dan saat artha dan orang itu menoleh ataya langsung membelalakkan matanya. "ken!!" ucap ataya dengan lirih. Kemudian ataya langsung berlari meninggalkan tempat itu. Dan masuk ke kamarnya "loh ataya kemana? " teriak bundanya "ataya masih ngantuk males makan" teriak ataya kemudian terdengar suara pintu kamar tertutup dengan sangat keras Artha menghelas nafasnya. Ken melihat ataya lari hanya mengangkat pundaknya dengan acuh. Artha melirik tajam ken. Dan ken hanya tersenyum tanpa dosa. Seandainya jika tidak dirumah bisa dipastika akan oerang dunia antara ken dan artha. Dirga dan digo yang merasakan hawa hawa yang tidak enak hanya diam saja