Sesampainya di sekolah artha langsung berjalan cepat ke arah kelas ataya. Ataya berlari kecil dibelakangnya untuk menyusul langkah lebar dan cepat artha. Ataya berusaha memberhentikan artha, namun artha sama sekali tidak menghiraukan ataya. Artha ke kelas ataya untuk menemui bianca yang sudah berbuat buruk pada ataya kemarin "bang artha udahlah jangan dibahas lagi. Biarin aja. Bang artha dengerin ataya. Bang artha!! " artha tetap melanjutkan langkahnya. Ataya sangat kebingungan. Akan sangat menghebohkan sekolah jika sampai artha mengamuk hari ini karena dirinya lagi Di ambang pintu kelas ada dimas teman sekelas ataya yang berdiri disana. Artha memberhentikan langkahnya karena dimas menghalangi jalannya "eh ataya lo kemarin tiba tiba ngilang, kenapa? " tanya dimas. Ataya hanya diam. Artha menatap dingin ke arah dimas membuat nyali dimas ciut dan perlahan beringsut mundur. "bianca ada? " tanya artha pada dimas "ada! " jawab dimas dengan cepat. Artha langsung melangkah masuk ke dalam kelas ataya. Terlihat bianca sedang berbincang dengan teman temannya. Brakk "aakkhhh" seketika karena gebrakan meja oleh artha membuat bianca dan teman teman nya menjerit terkejut. Keadaan kelas seketika hening. Bianca yang awalnya ingin marah langsung ciut saat melihat artha yang melakukannya. Bianca langsung bangkit dari duduknya "eh artha" ucap bianca dengan senyuman sok manisnya. Padahal artha menatapnya dengan sengit. Ataya berdiri dibelakang artha dengan menarik narik lengan seragam artha agar artha tidak melakukan ini. Carol yang baru datang terperangah melihat drama dikelasnya ini "lo apain adek gue kemarin? " tanya artha dengan datar. Seketika senyum bianca hilang. Ia menatap ataya yang berada dibelakang artha dengan kesal "ataya? Gue ga ngapa ngapain dia" Brakk Artha kembali menggebrak meja bianca. Membuat bianca semakin ketakutan " gausah bohong" ucap artha "itu.. Gue.. " bianca mulai kebingungan. Artha sudah kehilangan kesabarannya. Jika bianca seorang cowok pasti artha sudah menghajarnya habis habisan. "dengerin gue ngomong" ucap artha dengan mengarahkan jari telunjuknya tepat didepan mata bianca. Membuat bianca sedikit memundurkan wajahnya "kalau sampai gue tau lo nyakitin adek gue lagi. Baik fisik ataupun perasaanya gue ga bakalan biarin hidup lo tenang. Dan ya memang orang tua ataya udah meninggal. Tapi itu sama sekali bukan salah ataya. Jangan berani lo ngata ngatain ataya lagi. Asal lo tau, meskipun orang tua ataya udah meninggal tapi dia tetap mendapat kasih sayang yang lebih, dari orang tua gue dan tentunya dari gue. Ga kayak lo. Yang keluarga lengkap tapi kurang kasih sayang sampai lo harus melakukan perbuatan menjijikkan hanya untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Lo jauh lebih menyedihkan dari ataya, bianca" ucap artha. Bianca terdiam. Perkataan artha benar benar membuat bianca merasa di tusuk tusuk hatinya. Carol yang mendengar ucapan artha tersenyum bahagia. Berbeda dengan ataya yang semakin menundukkan kepalanya. "bang udah lah" lirih ataya. "diem ataya" ucap artha dengan nada tegasnya. Ataya jadi ciut juga "sekarang lo minta maaf ke ataya" ucap artha. Bianca membelalakkan matanya. Seorang bianca meminta maaf pada musuhnya? Oh no! Itu bencana untuk bianca. "minta maaf atau gue laporin ke guru bp atas perbuatan lo kemarin biar sekalian lo dikeluarin dari sekolah" ancam artha. Bianca semakin ketakutan. "iya iya gue minta maaf" bianca melangkah mendekati ataya yang sedari tadi masih berada dibelakang artha dan menggenggam lengan seragam artha. "ataya gue minta maaf" ucap bianca dengan cepat. Seolah ia sudah tidak kuat menahannya. Bianca mengulurkan tangannya pada ataya dengan senyum dipaksakan. Ataya menerima uluran tangan itu dengan senyum tulusnya. Artha menatap ataya. Entah terbuat dari apa hati ataya. Ini yang membuat artha sangat sayang pada ataya melebihi sayang pada seorang adik. Bianca segera melepas tangannya. Kemudian langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Namun tiba tiba ada seorang siswi dari kelas 10 yang datang ke sana "permisi kak, ada yang namanya kak bianca? " tanya siswi itu. "gue bianca. Kenapa? " tanya bianca dengan judesnya. Siswi itu terkejut dan takut pada bianca "itu kak, kak bianca sekarang diminta ke ruang bp. Hanya itu saja. Saya permisi" siswi itu segera pergi. Bianca membelalakkan matanya. Kemudian menatap artha dengan tatapan bertanya "lo bilang kalau gue minta maaf lo ga bakalan laporin gue? Kok lo bohongin gue sih tha" ucap bianca dengan marah "yang bilang kan kak artha. Bukan gue. Gue kemarin yang lapor ke guru bp. Dan guru bp udah nge cek cctv di depan toilet" ucap carol. Ataya membelalakkan matanya kemudian ia mendekati carol "rol lo apa apaan sih" ucap ataya "biarin aja. Biar di tau rasa" ucap carol dengan santai pada ataya. "karma tiba" ucap artha pada bianca yang masih terbengong. Kemudian artha melangkahkan kakinya keluar kelas ataya untuk ke kelasnya sendiri Bianca pun keluar kelas dengan menghentak hentakkan kakinya. Saat artha dan bianca sudah keluar. Semua teman ataya langsung mengerubungi ataya. Bertanya tentang apa yang terjadi. Ataya hanya diam. Malah carol yang bersemangat bercerita dengan hebohnya. ******** "ken kata anak anak bianca masuk bp tuh " ucap nico temannya. Kini ken dan nico berada di kantin. Seperti biasa. Hidup untuk dikantin "terus? Urusannya sama gue? " ucap ken "yeh elo ken. Dia kan jodoh lo" ucap nico dengan nada mengejek "diem lo. s**t! " umpat ken "eh lo tau ga kenapa bianca masuk bp? Sama kayak lo. Kalau lo karena artha, bianca karena adeknya" ken seketika menjadi kepo dengan cerita nico "ataya maksud lo? " tanya ken. Dan di beri jawaban anggukan oleh nico "kok bisa? " tanya ken "ya gue denger sih kemarin katanya bianca ngebuli ataya di toilet dan ngata ngatain ataya sampai ataya nangis dan lari untuk pulang. Terus katanya sih disusulin sama artha" "sialan tuh si bianca" ucap ken "kok lo malah ngatain bianca? Bukannya seharusnya lo seneng ya? Artha kan musuh lo? " tanya nico. Ken menatap nico dengan serius kemudian memberikan senyuman manis pada nico yang membuat nico bergidik ngeri "bukan musuh. Tapi calon kakak ipar" . . . .