Byurrrr Satu ember air berhasil diguyurkan di tubuh ataya saat ataya keluar dari toilet sekolahnya. Tubuhnya basah seluruh nya. Dari atas kepala sampai ijung kaki "hei" Brakk Saat ataya ingin protes tubuhnya langsung didorong ke belakang hingga menabrak kaca toilet "lo kemarin habis ngapain sama ken? " tanya bianca. Ya itu adalah ulag bianca "ken? Gue ga ngapa ngapain" jawab ataya. "bohong! Lo habis kencan kan sama dia? " bentak bianca "kencan? Siapa yang kencan? Gue ga kencan sama ken" Plakk Satu tamparan mendarat di pipi kanan ataya. Bianca menampar pipinya dengan sangat keras "lo pikir gue bego? Gue tau kalau ken keluar sama lo. Masih aja ngebantah" Ataya memegangi pipinya yang terasa panas. Ia sangat geram pada bianca. "emang kenapa kalau seandainya gue kencan sama ken? Lo cemburu? Kenapa? Apa karena ken ga pernah ngajakin lo? Sampai lo harus ngelakuin ini ke gue" jawab ataya dengan amarahnya "s**t! Jaga mulut lo ya. Dasar anak pembawa sial" ucap bianca "eh lo jangan sembarngan. Atas dasar apa lo ngatain gue anak pembawa sial? " "lo pikir gue gatau. Mama lo meninggal sehari setelah ngelahirin lo kan? Dan papa lo meninggal seminggu kemudian. Jadi kalau seandainya lo ga lahir orang tua lo pasri masih hidup. Lo ga ngerasa bersalah? Dasar gatau diri" Satu tetes air mata ataya terjatuh. Bianca malah senang saat melihat air mata itu. Ataya mendorong sekuat tenaga tubuh bianca hingga terhuyung kebelakang. Kemudian ia lari keluar dari toilet itu. Ataya berlari sekuat tenaga dengan air matanya. Hatinya hancur. Ataya memang sensitif jika tentang masalah orang tuanya "ataya!! " panggil carol yang melihat ataya berlari menuruni tangga dengan tubuh nasah kuyup Carol segera mengambil ponselnya. Ia harus segera menghubungi seseorang. Karena jika dirinya yang memberhentikan ataya tidak mungkin "halo! " "..." "kak artha, tadi gue lihat ataya lari sama badan basah kuyup. Dan dia turun tangga. Kayaknya ke arag luar sekolah" Tut Telfon itu langsung di tutup secara sepihak oleh artha. Carol menatap layar handphone nya dengan nanar "di tutup gitu aja? Sedihnya dedek di cuekin abang" ucap carol. Artha segera berlari keluar kelasnya dan tak menghiraukan panggilan dari dirga dan digo. Artha berlari menuruni tangga koridor sekolah nya dan tak sengaja beberapa kali menabrak siswa yang lewat. Artha berlari ke arah gerbang sekolah. Dan menemui satpam disana "pak tadi ada siswi yang keluar tidak? " tanya artha pada satpam sekolah "oh.. Nona ataya? Ya barusan keluar. Katanya mau pulang ganti seragam. Tapi tadi kayaknya dia lagi nangis gitu" ucap pak satpam "yaudah pak makasih" artha langsung berlari ke parkiran dan mengambil motornya. Kemudian ia meninggalkan sekolah. Pak satpam mengijinkannya keluar dengan alasan menyusul Ataya tentunya. Pak satpam yang tau keadaan ataya sedang tidak baik akhirnya mengijinkan Artha melajukan motornya menyusuri jalan dari sekolah menuju rumahnya. Jika memang benar ataya pulang, pasti ia akan menemukan ataya. Dan benar. Dari kejauhan dapat dilihat Ada seorang anak perempuan menggunakan seragam sekolah sma berjalan di pinggiran jalan. Artha melajukan motornya sedikit cepat kemudian langsung berhenti didepan ataya. Ataya yang awalnya menundukkan kepalanya terkejut dan otomatis langsung memberhentika langkahnya "bang artha" ucap ataya dengan suara serak nya. Khas seperti orang menangis. Artha turun dari motornya. Menggenggam tangan ataya yang dingin itu "kamu kenapa? Kenapa nangis? Kok bisa basah gini? Siapa yang ngelakuin? " tanya artha bertubi tubi. Namun itu malah membuat ataya semakim terisak. Ataya masih belum bisa menceritakan masalahnya. Ia hanya bisa menangis saat ini. Artha menarik ataya kedalam pelukannya. Mengelus punggung ataya yang bergetar karena menangis. Untung jalan nan sedang sepi. Sedikit orang yang berlalu lalang. Setelag ataya sedikit tenang artha mengajak ataya untuk pulang. Dan ataya hanya menurut saja. Sampai dirumahnya, ataya yang sudah turun dari motor artha tidak langsung masuk rumah. Ia masih berdiri dengan menundukkan kepalanya di samping artha yang masih di atas motornya. "kenapa? " tanya artha "ataya takut" "takut kenapa? " "nanti bunda marah. Ataya berantakan gini terus kita bolos sekolah" ucap ataya. Artha menghela nafasnya. Kemudian ia turun dari motornya. Setelah itu ia menarik pelan tangan ataya untuk masuk kedalam rumah Di dalam rumah ternyata bundanya sedang menonton tv di ruang tengah. Bundanya terkejut saat melihat putra dan putri nya yang tiba tiba muncul. Dan penampilan ataya yang berantakan. "loh kalian kenapa? Ataya kamu kenapa? " tentu saja bundanya panik. Ataya langsung melepas cekalan tangan artha dan berlari kecil memeluk bundanya. Ataya menangis didalam pelukan bundanya Bundanya mengelus rambut putrinya. Kemudian menatap artha dengan tatapan bertanya. Namun artha mengedik kan bahunya tanda tak tau. Dan memberi isyarat agar bertanya pada ataya nanti saja "ssttt udah sayang. Jangan nangis. Kamu kekamar ya ganti baju. Nanti masuk angin. Bunda angetin makanannya buat kalian ya" ataya mengangguk. Kemudian ataya berjalan ke arah tangga menuju kamarnya. Setelah ataya pergi, bundanya menatap artha dengan berkacak pinggang "artha adek kamu kenapa? Kok bisa kayak gitu ha? " "artha juga gatau bun" "lah kamu kan abangnya. Kalian satu sekolah. Terus pulangnya barengan kok bisa gatau" "bun kelas artha sama ataya kan jaraknya jauh. Tadi itu artha di telfon sama teman nya ataya si carol katanya ataya lari keluar sekolah. Yaudah artha susul aja. Artha nemuin dia dipinggir jalan" jelas artha Bundanya menghela nafas. Memang perempuan sedikit lebih sensitif. Disaat begini ataya belum bisa bercerita tentang apa yang terjadi. Dan bundanya harus sabar menunggu penjelasan putrinya "yaudah kamu masuk kamar sana. Ganti baju. Terus ajakin ataya makan" artha mengangguk kemudian berjalan ke kamarnya. Ia berjalan sambil mengubungi carol agar memebereskan barang barang ataya dan membawa tas nya pulang. Kemuduan barulah ia menghubungi dirga untuk melakukan hal yang sama ************ Artha keluar dari kamarnya setelah berganti pakaian. Ia mengetuk kamar pintu kamar ataya yang ada di sebelahnya "ataya" panggil artha. Kemudian pintu kamar terbuka. Menampilkan ataya yang sudah berganti pakaian "ayo makan. Di tungguin bunda" ucap artha yang dibalas anggukan oleh ataya. Mereka berjalan ke arah ruang makan dengan artha merangkul pundak ataya. Ya itu jika dirumah. Berbeda jika mereka berdua saja Ternyata bundanya sudah menunggu mereka di meja makan. Kemudian merek akhirnya makan bertiga karena ayahnya belum pulang dari kantor. Mereka makan dalam keheningan. Tak lama akhirnya mereka selesai dengan acara makannya. Ataya di ajak bundanya ke halaman belakang rumahnya. Untuk bersantai disana. Artha menyusul mereka setelah mencuci piringnya. Mereka duduk melingkari sebuah meja "ataya" panggil bundanya "iya bun? " jawab ataya. Itu berarti mood ataya sudah membaik "kamu kenapa? Kok tadi bisa kayak gitu? Ayo ceritain ke bunda" tanga bundanya. Ataya langsung menundukkan kepalanya. Artha memegang pundak ataya untuk memberika kekuatan pada ataya agar bisa menceritakan yang terjadi "tadi itu ataya.... " ataya menceritakan semuanya. Dari ia yang diguyur oleh bianca, perkataan bianca yang menyakitkan hati sampai ia bertemu dengan artha di pinggie jalan. Bundanya mendengarkan cerita ataya dengan serius dan tenang. Berbeda dengan artha yang mengepalkan tangannya kuat kuat. Ia semakin membenci ken setelah kejadian ini. Dan bertambah satu lagi, bianca. "ataya, dengerin bunda. Orang tua kamu meninggal bukan karena kamu anak sial atau apalah itu. Tapi itu memang sudah takdir mereka yang dituliskan oleh Tuhan. Jadi kita tidak boleh menyalakan diri sendiri atas apa yang terjadi. Bunda, ayah dan banga artha sayang sekali sama ataya. Ataya ga perlu sedih seperti itu. Bunda senang, ataya bisa jadi putri bunda. Jadi jangan pernah sedih lagi ya" ucap bundanya. Kemudia memeluk putrinya itu. Artha yang awalnya rahangnya mengeras seketika mengendur saat melihat ataya tersenyum dalam pelukan bundanya "udah udah. Jangan sedih sedih lagi. Ataya harus bisa tunjukin ke semua orang kalau ataya itu orang yang kuat oke" ucap bundanya dan di angguki oleh bundanya handphone artha bergetar menunjukkan ada sebuah pesan yang masuk. Dilihatnya tertera nama "ayah" disana "bun foto yuk. Tunjukin ke ayah. Kayak nya ayah dapat telfon dari sekolah dan artha sama ataya dikira keluyuran" "yaudah ayo foto tunjukin ke ayah kalau kita dirumah bang" ucap ataya bersemangat. Artha memberikan handphone nya pada ataya dan Jebrettt