"elo" ucap ataya "iya , kenapa? Kaget lo" ucap ken Ya cowok itu adalah ken. Seketika wajah riang artha menjadi kesal melihat ada kehadiran ken disini. Baginya ken adalah mood buruknya "ngapain lo disini? " tanya ataya "nah lo yang kenapa disini. Sama cowok lain lagi. Lo selingkuhin gue?" ataya membelalakkan matanya. Sungguh ken benar benar menjengkelkan. Bisa bisanya ia berkata seperti itu "dih ,selingkuhin lo? Emang lo siapa gue? " ketus ataya. Artha masih diam dan menatap datar pada berdebatan ken vs ataya yang kemungkinan akan semakin memanas "gue cowok lo, gue ingetin kalau lupa" "cowok gue? Kapan jadiannya? Emang lo pernah nembak gue? Nyatai cinta lo ke gue? " tanya ataya bertubi tubi " lo ngode gue untuk nyatai cinta? " tanya ken dengan alis terangkat sebelah. Ataya kembali membelalakkan matanya " oke" ucap ken kemudian maju selangkah mendekati ataya. Membuat ataya juga otomatis mundur dan kakinya tak sengaja menginjak kaki artha yang berdiri dibelakangnya "gue mau lo jadi pacar gue, jadi cewek gue" ucap ken dengan sedikit kencang. Membuat mereja jadi pusat perhatian orang orang disekitar mereka. "ga mau" jawab ataya dengan cepat. Ken kembali menaik kan sebelah alisnya dan tersenyum miring "emang gue tanya lo mau apa nggak? " ucap ken. Ataya kembali dibuat kesal. "gue ga terima penolakan. Dan.. Eh siapa nama lo? Gue lupa" ataya bertambah kesal. Bisa bisanya ken meminta cewek yang bahkan namanya saja tidak bisa ia ingat dengan baik untuk menjadi kekasihnya "ataya... A... Ta... Ya... Inget baik baik" ataya mengeja namanya agar lebih jelas. Melihay raut kekesalan diwajah ataya malah membuat artha menahan senyumnya. Ia sedari tadi diam karena terpesona dengan ekspresi adik sepupunya yang mungkin sekarang menjadi kekasihnya. Namun entahlah, hubungan mereka serasa abu abu "nah lo minta gue inget baik baik nama lo kan? Itu tandanya lo nerima gue jadi cowok lo" ataya mencak mencak tak jelas. Kemudian ia menoleh ke arah artha dibelakangnya. Memberi artha tatapan memohon "bang usir cowok miring ini" bisik ataya. Namum artha malah mengangkat bahunya acuh. "dia cowok kamu. Ga sopan kalau ngusir" bisik artha. Ataya membelalakkan matanya kemudian mencubit kecil lengan artha. Membuat artah mengaduh kesakitan. Ken yang melihat nya mengerutkan keningnya. Ia tau apa yang dibicarakan oleh artha dan ataya "wah artha. Kau memang kakak ipar yang baik. Terimakasih telah mendukung ku" ken memberikan senyuman manis pada artha. Namun artha tentu tetap pada wajah datarnya. Ataya menghela nafas panjang "oke. Jadi gini. Lo bilang kalau lo cowok gue kan? " tanya ataya dan dibalas anggukan oleh ken. "oke berarti kita pacaran gitu? " tanya ataya lagi dan dibalas anggukan lagi oleh ken "kalau gitu. Mulai sekarang kita... Pu.. Tus" ucap ataya. Kemudian ia lamgsung menarik tangan artha untuk pergi meninggalkan ken "woi.. Ga bisa gitulah. Kalau lo mutusjn gue harus dengan alasan yang jelas, sebab akibatnya. Woi" teriak ken. Namun tak dihiraukan oleh ataya. Ia terus menarik artha menuju mobilnya dan langsung masuk kedalam mobil. Ken melihat ke sekelilingnya. Ternyata teriakannya membuat krang orang melihatnya dengan tatapan aneh. Ken menunjukkan cengiran kudanya dengan tangan menggaruk tengkuknya yang tidak gagal. Merutuku kebodohannya Didalam mobil ataya duduk di kursi penumpang sebelah pengemudi. Wajahnya terlihat kesal. Bibir bawahnya sedikit maju. Artha tersnyum melihat ataya yang sedang ngambek begini "jadi ceritanya lagi ngambek nih? " tanya artha. Namun ataya diam "maaf deh. Maaf ya? Maafin ya" artha memohon pada ataya. Ataya menatap artha dengan sengit "kamu sih ngeselin. Bukannya nolongin dengan ngusir dia atau gimana kek. Malah diem aja" "hehe iya deh maaf. Mau dikasih apa nih biar ga nganmbek? " tanya artha. Ataya masih diam. Artha yang gemas melihat bibir ataya yang dimajukan itu langsung menyambarnya. Otomatis ataya langsung menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi untuk memberikan akses pada artha. Artha melumat bibir ataya. Menyecapnya dan berusah memasukkan lidahnya ke dalam mulut ataya. Tangan kanan nya meraih tengkuk ataya agar lebih dekat padanya  Artha mengankat tubuh ataya dan menduduk kannya dipangkuannya dengan bibir saling bertautan. Kini posisi ataya mengangkangi artha. Ciuman mereka semakin panas. Ataya memeluk kepala artha membuat ciuman mereka semakin dalam. Udara dalam mobil itu seketika berubah menjadi panas. Padahal AC sedang meyala. Artha melepas tautan bibirnya saat meraskaan nafasnya dan ataya hampir habis. Ataya merasa kehilangan saat itu juga. Namun langsung digantikan oleh kecupan kecupan artha dilehernya. "ahh" satu desahan lolos dari bibir ataya. Membuat artha semakin gencar mengecupi lehernya. Kecupan artha semakin kebawah. Kedada ataya. Tanggannya mulai masuk ke dalam kaos hitam ataya. Mengelus perut rata ataya. Ataya memejamkan matanya menikmati sentuhan artha. Tangan artha semakin ke atas dan saat akan menyentuh payudara ataya gerakan artha dihentikan oleh ataya Ataya dan artha terdiam. Terpaku pada tatapan satu sama lain. Ataya menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Tangannya masih menggenggam tangan artha yang masuk kedalam kaosnya. Perlahan artha menurunkam tangannya dan mengeluarkan dari kaos ataya. Tiba tiba ataya memeluk artha. Menyembunyikan wajahnya di leher artha "jangan bang jangan. Ataya ga mau lagi. Ataya takut" lirih ataya Artha membalas pelukan ataya. Mengelus punggung ataya. Artha sedikit memundurkan kepalanya agar bisa mengecup kening ataya Cupp Satu kecupan mendarat dikening ataya. Membuay ataya semakin mengeratkan pelukannya. Ia merasa nyaman dengan artha. Dengan sentuhan halus artha. Namun ia tidak mau lagi terlalu jauh. Ia takut. "aku ga akan melakukannya jika kamu ga mau. Aku ga akan maksa lagi" ucap artha mengelus rambut ataya. Ataya menganggukkan kepalanya. "ayo pulang" ucap ataya yang di iyakan oleh artha. Ataya turun dari pangkuan artha dan kembali duduk di kursinya. Kemudian artha mulai melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Dalam perjalanan ataya memutat lagu lagu kesukaan mereka. Kemudian mereka bernyanyi bersama dan sesekali tertawa Sampai di rumah. Ternyata ayah dan bundanya sedang menikmati waktu bersama dengan duduk sambil berbincang di kursi teras rumah. Ataya keluar mobil terlebih dahulu kemudian disusul oleh artha "hai yah hai bun ataya pulang" sapa ataya. Kemudian mencium tangan ayah dan bundanya. Artha yang baru datang juga melakukan hal yang sama "kok kalian barengan pulangnya? Tadi kan berangkat nya ga bareng" tanya ayahnya "itu tadi ataya sama teman ataya ke cafe taman kota trus ketemu bang artha disana. Jadi pulang nya barengan aja" "bukannya kalian marahan ya? " kali ini bundanya yang bertanya. Artha dan ataya saling bertatapan sejenak "enggak kol bun" ucap ataya "bunda kira. Soalnya bunda perhatikan akhir akhirn ini kalian jarang ngobrol. Jarang ketemu. Trus berangkat dan pulang sekolah juga ga barengan" "ya kan artha yang jadwalnya lebih padet bun" ucap artha meyakinkan Kemudian artha dan ataya juga mengambil kursi untuk duduk. Mereka duduk dengan posisi melingkari sebuah meja bundar yang diatasnya terdapat camilan "artha" panggil ayahnya setelah meneguk teh hangatnya "iya yah? " tanya artha "belajar yang benar. Berusahalah mendapat nilai yang sempurna. Agar rencana kamu untuk kedepannya bisa lancar Degg Ataya yang menikmati camilannya tiba tiba terdiam. Hatinya tiba tiba terasa ngilu. Rencana... Rencana untuk kuliah di amerika? Ataya merasa sedih setiap kali ayahnya dan artha membahas masalah kuliah di liar negeri itu. Karena artinya ia dan artha akan segera terpisahkan oleh jarak . . .