SWC 4 (berbeda)

1023 Words
Ataya dan arthur duduk berhadapan di meja makan yang terdapat enam kursi itu. Namun kini kursi hanya terisi dua orang saja yaitu artha dan ataya karena ayah dan bunda mereka belum pulang "emm bang. Ceritanya hari ini kita bolos gitu" tanya ataya dengan sedikit ragu "aku sudah telfon bunda biar di ijinin ke sekolah kalau kita ga masuk" ataya membelalakkan matanya. Apa arthur mengatakan kalau ataya.... "tentu yang ada di otak cantik mu itu salah. Aku mengatakan pada bunda kalau kau demam karena terlalu banyak minum es kemarin. Tapi bunda ijin ke sekolah kalau kita ada acara keluarga." ataya mengangguk anggukkan. Kemudian artha meletakkan sendoknya dan menatap ataya yang masih lahap dengan buburnya "apa masih sakit? " tanya artha. Seketika gerakan ataya terhenti. Ia menatap artha juga kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Dan dibalas anggukan oleh artha. "kapan ayah sama bunda pulang? " tanya ataya "besok sore kalau tidak siang" jawab artha seadanya. Kemudian keheningan terjadi diantara keduanya Artha bangkit dari duduknya dan menuju dapur untuk mencuci mangkuk kotor bekas makannya. Disusul oleh ataya "sini biar ataya aja" mangkuk yang di pegang artha beralih tangan. Artha memperhatikan ataya yang sibuk mencuci piring. Ia kembali ingat akan perbuatan bodohnya semalam. Ia sadar telah menghancurkan adiknya sendiri "ataya" panggil artha "hem? " jawab ataya yang masih sibuk menyerbeti mangkuk basah itu kemudian meletakkannya di rak piring. Setelah itu ia menatap artha yang sejak tadi meperhatikannya sambil bersandar di meja bar kecil didapurnya "maafkan aku" ucap artha lagi. Ataya tersenyum miris. Sejenak ia menundukkan kepalanya kemudian menatap artha lagi "sudah terlanjur bang. Semuanya udah terjadi" ucap ataya dengan nada sedih. Artha langsung mendekat dan menarik ataya dalam pelukannya. Ia mencium puncak kepala ataya berkali kali "maaf. Aku janji aku akan tanggung jawab. Aku akan mengakui ke semua orang jika aku telah melakukannya. Tapi tidak sekarang, nanti jika sudah waktunya" ucap artha masih memeluk ataya "mau tanggung jawab gimana? Kita saudara. Ga mungkin kita... " "ga ada yang ga mungkin ataya" akhirnya ataya pun diam. Membalas pelukan artha. Tak bisa di pungkiri jika ia merasa nyaman dengan pelukan itu ********** "bang artha ayo cepat kita berangkat" teriak ataya dari teras rumahnya. Ia menunggu arthur yang masih sibuk memakai sepatunya di ruang tengah "iya bentar. Berisik. Pagi pagi udah teriak teriak" jawab artha dengan kesal "bang artha... " teriak ataya lagi. Dan kali ini artha sudah selesai memakai sepatunya dan berlari kecil menyusul ataya "ayo berangkat" ucap artha menuju motornya yang ada di garasi. Ataya menutup pintu rumah nya dan menutup pagar rumahnya setelah artha keluar dengan motornya. Ataya menaiki motor artha dan mereka berangkat bersama ke sekolah tanpa lupa memakai helm mereka masing masing. Artha menggunakan helm full face warna hitam dengan tulisan sun di salah satu sisinya sedang kan ataya memakai helm biasa dengan merek I . . warna marron Di perjalanan ataya melingkarkan tangannya di perut artha. Jaraknya sangat dekat. Dan sesekali mereka berbincang dan tertawa bersama. Saat mereka memasuki halaman sekolah seperti biasa mereka selalu menjadi pusat perhatian. Sudah menjadi rahasia umum jika artha dan ataya adalah saudara sepupu yang tinggal serumah. Hubungan mereka juga terkenal akur akur saja. Jadi saat kemarin ataya ditinggalkan oleh artha di parkiran, seketika langsung menjadi gosip satu sekolah. Dan sebenarnya banyak siswi yang tak menyukai ataya karena dianggap terlalu dekat dengan artha yang statusnya sebagai cowok paling di inginkan di sekolah. Namun artha sering mengatakan kepada banyak orang jika " seseorang yang baik sama adik gue, gue juga akan baikin dia. Jika orang itu jahat, gue juga akan jahat ke orang itu juga. Dan gue ga akan pernah biarin orang yang nyakitin adik gue hidup tenang" Kata kata itu sudah dihafal oleh seluruh siswa dan siswi di sekolah ini. Itulah sebabnya tak ada yang berani berbuat buruk pada ataya. Karena selain dikenal tampan artha juga dikenal sebagai cowok yang jago bela diri. Tapi artha bukan berandalan sekolah, yang selalu suka cari masalah. Ataya turun dari motor artha kemudian melepas helm nya dibantu oleh artha. Setelah itu seperti biasa jika hubungan mereka sedang baik baik saja artha selalu mencium pelipis ataya. Dan barulah Mereka berpisah ke kelas masing masing "heh ataya" panggil temannya yang bernama carol saat ataya baru saja duduk di bangkunya. Carol adalah satu satunya teman yang menurut ataya tulus berteman dengannya, karena yang lain hanya sok baik agar mereka bisa lebih dekat dengan artha "kenapa rol" "kemarin lo kemana? Kenapa ga masuk? " tanya carol duduk di bangku sebelah ataya "ada acara keluarga" "oh.. Pantesan gue juga ga lihat batang hidung abang lo waktu di kantin" Ataya tertawa mendengar ucapan carol. Temannya yang satu ini memang sedikit unik. Namun tawa ataya tiba tiba berhenti saat carol menatap ataya dengan serius "eh rol lan rambut kenapa sih lihatin gue segitunya" "kok perasaan lo beda ya" ucap ataya. Deggg Dalam hati ataya sangat gelisah. Apa sungguh sangat ketara jika ia sudah tidak virgin lagi. Sehingga orang lain bisa melihat perbedaannya "be.. Beda apanya sih. Perasaan.. Sama aja" ucap ataya sedikit tergagap "beda tayi, beneran deh lo kelihatan beda" "apanya yang beda? " ataya mulai geram "anting lo baru ya? Bagus. Cocok banget. Beli dimana? Gue juga mau dong" ataya menghela nafas. Dasar carol. Ia hampir membuat ataya ingin menenggelamkan diri "issh lo gue kira apaan. Ini dibeliin ayah. Gatau dimana" sedangkan carol hanya ber o ria saja "ataya.. " panggil siswa satu kelas ataya yang berdiri di ambang pintu "kenapa vin? " tanya ataya. Vino nama cowok itu "nih ada abang lo". Sontak semua siswi yanh ada di kelasnya langsung celingak celinguk ke arah luar melihat artha Ataya langsung berdiri dari duduknya dan berjalan keluar kelasnya. Terlihat artha sedang berdiri menyandarkan punggung nya di pilar balkon koridor kelas 11. "ada apa bang? " tanya ataya "nanti pulang sekolah langsung keparkiran. Aku tunggu ga usah lama" Setelah itu artha pergi meninggalkan ataya. Hanya itu? Bukankah artha bisa mengirim pesan jika hanya itu yang ingin ia sampaikan. Tidak perlu repot repot ke kelas ataya. Karena jarak kelas mereka cukup jauh Ataya kembali masuk ke kelasnya dan mulai bergabung bersama teman temannya yang sedang membicarakan diskonan baju di mall. Sebenarnya ataya tidak tertarik tapi dari pada nganggur sendirian jadi dia ikut saja
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD