Page-02

1197 Words
Keesokan harinya, Celina langsung menemui Maira sahabatnya di salah satu kedai kopi dekat kampus. Di atas meja sudah ada dua minuman dan juga cemilan yang hampir habis mereka lahap. Disini Celina pun mulai menceritakan apa yang membuat perempuan itu tidak bisa tidur nyenyak. Dari dia pergi belanja ke supermarket, sampai bertemu Keenan dan cowok itu yang mengantar Celina pulang ke kos. Ditambah lagi dia tidak mau pulang dan memilih duduk di depan kos dengan rasa nyaman dan aman. Sampai kalimat yang sama sekali tidak enak didengar, jika cowok itu mau menjadi kekasih kedua Celina. Keenan juga menawarkan banyak hal, keuntungan apa saja yang akan Celina dapat jika mereka pacaran. Tidak hanya uang, tapi Celina akan mendapatkan kasih sayang, perhatian dan apapun yang Celina inginkan. Semacam promosi yang menyakinkan tapi Celina butuh waktu untuk berpikir. Keenan juga tidak keberatan dengan hal itu, dia malah meminta Celina untuk memikirkan matang-matang. Jika perempuan itu mau, dia bisa langsung mengirim pesan Keenan. Padahal dari caranya tersenyum, Celina tahu cowok itu sama sekali tidak berniat berhenti mengganggunya. Entah apa maksud dari niatnya mengajak Celina untuk menjalin hubungan di belakang Ezra. Maira tidak terkejut, dia lebih memilih mendengarkan cerita Celina sampai habis. Setelah itu mempertimbangkan sesuai dalam pikirannya. “Terus?” “Ck!! Apanya?” Celine menatap aneh. “Lo mau?” Sejauh ini Celina tidak memberi jawaban pasti. Apalagi Keenan itu teman Ezra sendiri sudah pasti jika dia mengiyakan ajakan Keenan itu tandanya ngajak mati bersama. Celina takut jika suatu ketika nanti disalahkan karena Keenan dan Ezra pasti akan bertengkar hanya masalah Celina. Sedangkan perempuan itu sedang tidak ingin mereka bertengkar satu sama lain. Meskipun dia tahu jika Ezra juga memiliki hubungan dengan Vanya. “Gue belum jawab iya.” “Tapi Lo ngasih dia pertanyaan anjir. Untungnya apa kalau Lo selingkuh sama dia?” Seketika itu juga Celina langsung diam, dan hal itu membuat Maira tertawa kecil. Itu bukan pertanyaan untuk orang yang benar-benar menolak. Meskipun endingnya Celina penasaran apa yang dia dapat, itu seperti setitik harapan kecil untuk Keenan. Tapi jika rasa penasaran Celina cukup besar, mungkin dia bisa mencoba menjalin hubungan dengan Keenan. Apa yang cowok itu katakan beneran atau mungkin sekedar basa basi di awal seperti Ezra dulu. Celine menatap Maira tidak percaya. “Kok Lo malah mendukung sih Mai?” Maira malah mengambil sedotan minumannya dengan santai. “Menurut gue, lo sama Ezra juga udah aneh dari awal. Lo tahu dia sama Vanya, tapi lo tetap bertahan. Ezra juga tahu lo tahu, tapi dia tetap ngasih lo uang tiap bulan.” “Terus?” “Ya kalau Keenan mau masuk, kenapa nggak? Kalau gue jadi lo, gue gas sih.” Celina menatap ke arah meja. Masalahnya cowok itu terlalu percaya diri. Dia bahkan tidak merasa bersalah sama sekali setelah mengatakan hal itu. Seperti menawarkan sesuatu yang enteng untuk Celina. Maira menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Lagipula, katanya dia bisa kasih lo duit, perhatian, kasih sayang, sama apapun yang lo mau?” Celina mendongak. “Dia yang bilang.” Maira tersenyum, “Coba aja dulu. Kalau Lo gak coba lo gak akan tau rasanya punya pacar dua kayak Ezra.” Temen b*****t memang begitu!!! *** Sore itu, halaman kampus mulai dipenuhi mahasiswa yang bergegas pulang. Celina baru saja keluar dari gedung fakultas bersama Maira ketika sebuah mobil yang sudah sangat dikenal berhenti tidak jauh dari gerbang. Ezra turun dari dalam mobil, begitu melihat Celina, cowok itu langsung berjalan menghampirinya. “Sayang.” Celina menghentikan langkah. “Mau pulang bareng?” Celina belum sempat menjawab ketika matanya menangkap sosok perempuan yang masih duduk di kursi penumpang, siapa lagi jika bukan Vanya. Perempuan itu selalu ada dimanapun Ezra berada. Celina hanya menghela napas kecil..Ezra mengikuti arah pandangannya. “Aku sebenarnya mau nganterin kamu dulu. Tapi aku harus nganterin Vanya pulang dulu sayang.” Celina mengangguk santai. “Ya udah, anterin aja.” Ezra terlihat sedikit lega karena Celina tidak mempermasalahkannya. Selalu seperti itu jika melihat Ezra bersama dengan Vanya. “Kamu pulang sama siapa?” “Sendiri.” Ezra langsung menoleh ke belakang. Dia rasanya tidak tega jika memijat Celina pulang sendiri ke kosnya. Sampai akhirnya dia baru saja melihat Keenan yang baru saja keluar dari gedung kampus bersama beberapa temannya. “Nan!” panggil Ezra cepat. Keenan menoleh dan langsung menghampiri Ezra. “Apa?” “Antarin Celina pulang.” Keenan berjalan mendekat. Tatapannya berpindah dari Ezra ke Celina, lalu kembali kepada Ezra. Apalagi ketika Keenan tahu di dalam mobil itu ada Vanya yang duduk santai di tempatnya. “Gue?” katanya tidak percaya sambil menunjuk dirinya sendiri. “Iya. Rumahnya searah sama tempat lo.” Keenan diam beberapa detik. Kemudian sudut bibirnya terangkat. Anggap saja dia mencuri kesempatan dalam kesempitan. Kapan lagi kan boncengan Celina tanpa harus sembunyi kayak kemarin malam? “Boleh.” Celina langsung menatapnya tajam. Sudah jelas cowok itu kesenangan makanya dia tidak berpikir lama, apa dia tidak takut jika Ezra menaruh curiga padanya setelah ini? Keenan membalas tatapannya dengan senyum menyebalkan. “Kenapa?” “Nggak kenapa-kenapa.” ketua Celina. Sumpah pulang dengan Keenan bukan pilihan yang tepat. Dia bisa saja pulang naik ojek online atau taksi online kenapa juga harus pulang sama Keenan. “Padahal kelihatannya senang.” “Siapa yang senang?” “Gue.” Celina mendengus, dia melirik Ezra yang sama sekali tidak memperhatikan percakapan mereka. Dia hanya menyerahkan helm miliknya kepada Keenan. Dan meminta Keenan untuk cepat mengantar Celina. Perempuan itu pasti sudah lelah dan ingin istirahat cepat. “Jangan lama-lama. Gue mau cepat nganter Vanya.” “Tenang aja,” jawab Keenan santai, meskipun dalam hati dia sudah menyusun rencana jika mereka tidak akan pulang cepat ke kos Celina. Mungkin keliling kota atau mampir kemana dulu gitu. Ezra kembali masuk ke mobil, Sebelum pergi, dia sempat membuka kaca jendela. “Sayang nanti aku telepon.” Celina hanya mengangguk. Mobil itu akhirnya meninggalkan halaman kampus. Celina berdiri diam sambil memperhatikan mobil Ezra menjauh. Di sebelahnya, Keenan memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Dia terus memperhatikan mimik wajah Celina yang tidak berubah sama sekali. Terlihat datar, karena hampir dua tahun ini hal itu yang Keenan perhatikan dalam hubungan mereka. “Pacar lo ninggalin lo lagi.” Celina menoleh. “Dia cuma nganter Vanya.” Bedanya apa? Bukannya Celina yang lebih berhak untuk diantar pulang? Mereka sepasang kekasih, tapi Ezra lebih mementingkan Vanya ketimbang Celina selama mereka menjalin hubungan. Dan hal itu seolah wajar dalam hubungan mereka bagi Celina. Apa dia tidak sakit hati dengan sikap Ezra selama ini? Bahkan jika dilihat Ezra hanya sebatas pelukan dengan Celina itu saja tidak lebih. Tapi bisa melakukan banyak hal jika bersama dengan Vanya. Semua orang tahu itu, tapi mereka memilih diam karena menghargai hubungan Celina dan Ezra selama ini. “Ayo.” “Mau ke mana?” tanya Celina dengan polosnya. “Ngantar pacar orang pulang.” Celina mengernyit. “Jangan mulai.” Keenan tertawa. “Gue belum mulai apa-apa, Cel.” dia memasang helmnya, kemudian menatap Celina yang masih berdiri disampingnya. “Tapi gue senang Ezra sering kasih gue kesempatan buat berduaan sama lo.” Celina memutar bola mata. Dan untuk pertama kalinya, dia mulai curiga bahwa keputusan Ezra mempercayakan dirinya kepada Keenan adalah keputusan paling bodoh yang pernah dibuat sahabatnya itu. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD