Bagian 9

1555 Words
"Maksud kamu apa, Bim? Selama ini ibu kira kamu tidak sedang dekat dengan siapa-siapa. Lalu tiba-tiba kamu meminta ibu untuk melamarkan seorang perempuan untuk kamu?" Bagaimana Darma tidak kaget dan bertanya-tanya tentang permintaan Bima yang secara mendadak memintanya untuk mengantarkan Bima melamarkan seorang perempuan. Dan perempuan yang ingin dilamar Bima tidak dikenal sama sekali oleh Darma. Darma sudah heboh dan langsung memborbardir Bima dengan pertanyaan. Darma tidak habis pikir dengan pola pikir Bima. Ada apa ini sebenarnya? "Bim, kamu tidak melanggar sesuatu kan? Bim, jawab ibu!" Darma mulai berpikir yang tidak-tidak terhadap pilihan Bima. "Ndak, buk. Bima nggak melakukan apa yang ibu pikirkan." "Lalu kenapa kamu buru-buru ingin menikahi perempuan itu?" "Ada sesuatu hal, buk. Nanti ibu akan tahu sendiri. Tapi tidak untuk saat ini. Nanti ibu akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bima sebenarnya juga tidak ingin hal ini terjadi pada Bima, tapi Bima harus melakukannya, buk." "Kamu diancam seseorang?" Darma yang paham maksud putranya langsung menanyakan to the point apa yang sedang terjadi pada putranya. "Buk, Bima mohon. Bima berjanji tidak akan menikah dengan orang ini. Bima hanya melamarnya saja." "Bima! Kamu jangan main-main dengan sesuatu yang serius ya!" Teriakan Darma menggema di seluruh rumah. Untungnya kondisi jantung Darma sedang baik-baik saja sehingga membuat wanita paruh baya ini tidak sampai membuat kondisi jantungnya semakin parah. "Buk, Bima mohon. Kali ini saja. Ya, buk ya,” ucap Bima dengan pelan dan penuh permohonan. Bima memohon dengan berlutut di hadapan ibunya. Dia terpaksa melakukan hal ini karena tidak ingin membuat kehidupannya semakin rumit dan orang yang dia cintai sampai terluka. Dia tidak masalah jika ibunya marah dengannya asal tidak membuat banyak orang celaka. "Buk, kali ini saja ya, buk. Please, buk. Bima mohon.” "Oke, ibu akan turuti permintaan kamu. Tapi ibu tidak akan ikut bertanggung jawab jika sesuatu hal terjadi sama kamu." "Iya, buk. Terima kasih, buk. Bima akan menjaga semua apa yang Bima miliki." Bima langsung memeluk ibunya. Darma yang tidak paham maksud perkataan Bima hanya membalas pelukan Bima. Namun sebagai ibu dia paham jika terjadi sesuatu hal dengan putranya. Dia hanya berharap apa yang menimpa pada putranya segera terselesaikan dengan baik. "Buk, tapi jangan sampai keluarganya Sabrina tahu akan hal ini ya, buk. Terutama Sabrina. Kalau bisa kita hanya pergi berdua ke rumah wanita yang ingin Bima lamar." Darma semakin bingung terhadap jalan pikiran putranya. Tetapi dia rasanya sudah tidak mampu berkomentar lagi. Dia sadar diri bahwa Bima pasti sudah bisa memilih pilihan hidup yang terbaik untuknya. *** Sudah berjalan tiga bulan masa kerja Sabrina. Tempo hari yang lalu dia sudah menerima gaji pertamanya. Rasanya luar biasa bangga dan bahagia karena akhirnya dia bisa merasakan mendapatkan gaji pertama setelah bekerja. Sesuai rencananya, dia ingin mentraktir Bima untuk makan karena kebaikan Bima selama ini. Mungkin mentraktir makan tidak bisa membalas semua kebaikan Bima. Namun berbagi kebahagian dengan orang yang selalu menemani dan selalu ada tentu akan terasa berbeda dan semakin berkesan. Sore ini Sabrina sudah berada di rumah dan ingin mengajak Bima makan di alun-alun Kota Batu. Sambil menikmati makanan di alun-alun mereka juga bisa menikmati ramainya masyarakat yang berkunjung ke alun-alun untuk naik bianglala ataupun membeli jajanan. Sabrina langsung mengambil handphonenya dan memanggil kontak Bima. Panggilan pertama belum diangkat. Sabrina segera menelpon Bima lagi namun panggilan tetap tidak diterima. Sabrina merasa heran karena tidak biasanya Bima tidak mengangkat telponnya. Jika dilihat pada waktu dia melakukan panggilan, Bima sedang tidak sibuk membuat harum manis. Sabrina akhirnya menyerah dan kembali meletakkan handphonenya pada nakas. Sabrina memilih ke dapur untuk melihat camilan yang sedang ibunya buat. Kanaya sudah meminta Sabrina untuk membantunya membuat pudding mangga, namun Sabrina yang selalu seperti anti memasak membuat Sabrina hanya berdiam diri di kamar. "Sudah jadi kah buk puddingnya?" "Kamu itu datang-datang ke dapur bukannya bantuin ibuk malah nanya sudah jadi apa belum. Ibuk suka heran sama kamu deh, Sab." "Heran kenapa, buk?" "Perasaan ayah dan ibuk itu suka masak di dapur. Walaupun ayah hanya sesekali bantu ibuk tapi kenapa kamu malah kayak anti memasak gitu?" "Gak tahu juga, buk." Sabrina hanya menjawab dengan cengengesan. Memang kedua orang tuanya bisa dikatakan suka memasak. Ayahnya suka eksperimen beberapa camilan baru dan rasanya tidak terlalu buruk. Ibunya tentu saja sangat ahli memasak. Dan dirinya tidak ada niatan untuk membantu ibunya memasak di dapur. Dia hanya di dapur untuk membantu ibunya mencuci piring atau gelas setelah makan. "Puddingnya masih di kulkas. Ambil sendiri sana. Ibuk mau melanjutkan masak untuk makan malam." Sabrina segera mengambil pudding yang dicetak ibunya pada kemasan cup sedang sehingga cocok untuk porsi perorangan. Sabrina mengabaikan ibunya yang sedang memotong beberapa sayur. Dia tidak tahu kenapa dia sangat anti memasak. Dia merasa ibu dan ayahnya bisa diandalkan apalagi sekarang banyak jasa order makanan sehingga membuatnya tidak perlu memasak. Mungkin belum ingin belajar memasak saat ini tepatnya. "Sab, handphone kamu berisik sekali sih." Teriakan Kanaya di dapur membuat Sabrina fokus mendengarkan dering handphonenya. Dan benar saja handphonenya sedang berdering pertanda ada panggilan masuk. Dia merasa tidak sedang menyetel handphonenya pada volume dering yang tinggi. Namun Sabrina tetap segera mengambil handphonenya dan meletakkan pudding yang baru dimakan dua sendok di meja makan. Dia tidak ingin mendengarkan teriakan Kanaya yang menggema di sore hari. Apalagi ditambah suara dering handphonenya yang cukup menganggu telinga. Nama Bima tertera di layar ponselnya. Sabrina pun mengangkat telpon Bima dengan segera. "Iya wa'alaikumsalam, Bim." "Ada apa tadi telpon, Sab? Maaf tadi aku masih sedang melakukan sesuatu hal." "Oh itu, aku mau ngajak kamu ke alun-alun Batu. Aku sudah mendapatkan gaji pertamaku. Pingin nraktir kamu,” ucap Sabrina dengan cengengesan. "Waduh maaf, Sab. Aku malam ini ada acara. Jadi ndak bisa kalau malam ini. Kalau Sabtu malam saja bagaimana?" "Iya ndak apa, Bim. Kabari lagi saja ya." "Iya. Ya sudah kumatikan ya. Aku mau melanjutkan urusanku dulu sudah dipanggil ibuk soalnya. Assalamu'alaikum." Belum sempat Sabrina menjawab salam Bima, panggilannya sudah dimatikan Bima. Sabrina merasa heran karena tidak biasanya Bima sibuk jika malam. Memang Sabrina jarang keluar dengan Bima jika malam hari. Namun tidak biasanya saja tiba-tiba Bima dan ibunya sibuk. Sabrina pun tidak memikirkan hal itu terlalu dalam. Mungkin memang Bima dan Darma sedang ada acara dan kesibukan. Sabrina memutuskan kembali ke meja makan untuk melanjutkan makan puddingnya. Dan saat tiba di meja makan, puddingnya sudah tidak ada di meja. Perasaan dia tidak memiliki hewan peliharaan yang bisa memakan makanan yang ada di meja makan. "Buk, pudding Sabrina yang di meja makan kok nggak ada ya?" "Lha? Kok bisa? Ibu dari tadi di dapur belum ke meja makan. Kamu dari mana emangnya?" "Tadi Sab ke kamar angkat telpon. Dan puddingnya Sab tinggal di meja ndak Sab bawa ke kamar." "Coba tanya ke ayahmu. Siapa tahu diambil sama ayah." Sabrina segera mencari keberadaan ayahnya. Ayahnya sedang asyik menonton televisi sambil menikmati puddingnya. "Ayah, kenapa pudding Sab ayah makan?" "Ini punya kamu? Tadi ayah lihat nganggur di meja makan jadinya ya ayah makan." "Ih ayah. Itu punya Sab. Kenapa ayah ndak ambil lagi yang di kulkas sih." "Ya sudah kamu saja yang ambil pudding baru di kulkas. Kan lebih enak kamu dapat utuh." "Ih, ayah.” Sabrina akhirnya beranjak kembali ke dapur dan mengambil pudding yang baru di kulkas. Dia berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya karena sebal dengan ayahnya yang tiba-tiba memakan puddingnya. "Jadi dimakan sama ayahmu puddingmu, Sab?" Kanaya yang melihat putrinya mengambil pudding lagi di kulkas pun menanyakan perihal pudding putrinya yang hilang. "Iya. Kenapa ayah ndak ambil yang baru saja sih, buk? Malah Sab yang diminta ngambil yang baru. Heran deh aku." "Ya sudah. Jangan menggerutu terus. Dimakan sana sama ayah. Ibuk mau masak lagi. Kurang sedikit ini." Sabrina akhirnya beranjak dari dapur dan menuju ke ayahnya yang sedang menonton berita sore. Sabrina memilih duduk agak jauh dari ayahnya karena dia masih sebal dengan kejahilin ayahnya. "Kamu kenapa duduk jauh dari ayah?" Atma yang heran melihat kelakuan putrinya akhirnya menanyakannya pada Sabrina. Sesungguhnya dia paham jika putrinya sedang merajuk padanya karena dia telah mengambil pudding Sabrina. Namun, dia hanya sedang ingin mengganggu putrinya saja. "Kok diam aja? Marah sama ayah nih?" Sabrina yang masih tidak menjawab pertanyaan ayahnya membuat Atma menanyakan keterdiaman putrinya. Atma hanya menggelengkan kepala melihat putrinya merajuk. "Ayah minta maaf ya, Sab. Sudah dong jangan merajuk gitu ke ayah." "Ya ayah sih. Pudding tadi kan punya Sab kenapa malah ayah makan? Kan ayah tahu jika apa yang sudah menjadi milik Sab gak boleh diambil jika itu urusan makanan." "Iya, makanya ayah minta maaf. Lagian ibuk buat pudding banyak lho. Kalau kamu ambil yang baru kan malah makan banyak lagi jadinya." "Ya tetep saja Sab ndak suka." "Ya sudah terserah kamu saja." Atma memilih mengalah saja dari pada putrinya semakin merajuk. Hingga jam makan malam, Sab masih merajuk pada ayahnya. Meskipun kadar merajuknya tidak separah tadi sore. Kanaya yang melihat hal itu pun hanya menggelengkan kepala. "Sudah tho, Sab. Ayahkan nggak menghabiskan semua pudding ya ibuk buat." Kanaya akhirnya membuka suara agar meja makan bisa ramai seperti biasa. "Kalau kamu marah terus sama ayah kan gak enak juga. Besok ke sekolah juga diantar ayah. Masak di mobil hanya mau diam-diaman saja. Sudah dong jangan marah lagi sama ayah, ya." Kanaya kembali berusaha mencairkan suasana. Sabrina akhirnya menghela napas pelan dan memandang ayahnya. Atma yang dipandang putrinya pun membalas dengan tatapan teduhnya. "Maafkan Sabrina ya, yah." "Iya, ayah juga minta maaf ya." Akhirnya makan malam tidak terasa kaku lagi. Suasana makan malam keluarga Sabrina sudah kembali berisik seperti biasanya dengan ledekan antara Sabrina dan Kanaya serta Atma yang sesekali juga ikut menimpali. Sebagai orang tua atau anak, kita harus sadar jika kita membuat kesalahan tidak malu untuk meminta maaf dan mudah memaafkan. Saling menyayangi adalah kunci keluarga harmonis. Candaan adalah salah satu langkah membuat keakraban semakin kuat. Asal candaan yang diberikan sesuai dengan kekuatan hati tiap-tiap individu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD