PART 2

1676 Words
Gadis cantik itu berlutut di hadapan Bian, suara pekikan tamu undangan terdengar. "Will you marry me?" Tania menatap Bian penuh cinta. Pemuda itu meneguk ludah, tidak menyangka kekasihnya akan bertingkah seabsurd ini. "Nya?" lirih Bian. "Yan, dijawab, dong. Capek berlutut kayak gini?" keluh Tania. Beberapa orang di dekat mereka terkekeh mendengar keluhan Tania. "Will you marry me?" Tania mengulang pertanyaannya. Bian menarik napas panjang, kemudian mengangguk cepat. "Yess, i will." Dia mengambil cincin yang disodorkan Tania. Loh, kok cincin cewek?" "Iya, itu memang cincin aku. Nanti kamu beliin yang baru, ya?" sahut Tania dengan wajah tersipu. Gelak tawa para tamu terdengar kencang. Celetukan-celetukan mereka yang meledek tindakan Tania, memancing emosi Bian. Namun, saat melihat wajah Tania yang tersipu menggemaskan, Bian memilih untuk mengabaikan celetukan pedas itu. Tania mengulurkan tangan kirinya agar Bian segera menyempatkan cincinnya. Bian melakukan apa yang harus dia lakukan, toh, dia memang berniat untuk melamar kekasihnya itu. Hanya saja, rupanya Tania sudah tidak sabar hingga lebih dulu melamarnya. "calon istri aku begini amat, ya. Anti manistream!" bisik Bian di telinga Tania usai menyematkan cincin. Tania tersenyum lebar, dan tanpa malu-malu dia mengecup pipi Bian . Membuat para tamu semakin berteriak heboh. "Kita masih di lingkungan kampus, Nya. Kalau ada yang lihat, gimana?" jawab Bian. "Ya, udah. Abis ini kamu mampir ke apartemen aku, ya?" Tania memeluk lengan Bian dari samping. "Pakai sabuk pengamannya, Nya," tegur Bian, mengabaikan rengekan kekasihnya yang aneh itu. "Yan, jawab dulu. Mau ya? Aku kangen, udah lama kamu nggak kiss aku." Tania mengecup pipi Bian. "Aku ini cowok normal, Nya. Aku takut khilaf." Bian mengacak rambutnya dengan frustasi. Kekasihnya ini sering sekali menggoda imannya. Jangankan dengan godaan seperti itu, melihat lekuk tubuhnya yang aduhai saja Bian sudah panas dingin. Tania bukan seperti gadis lain yang malu-malu, dia ini tipe perempuan agresif. Banyak yang bilang kalau dia itu perempuan gampangan, tapi Bian yakin Tania masih bisa menjaga dirinya dengan baik. "Jadi nggak ada ciuman lagi, nih?" Tania mengerucutkan bibirnya. Bian menarik tuas rem tangan, lampu merah membuat mobilnya harus berhenti. Bian melepas sabuk pengamannya, lalu menarik tengkuk Tania dan melumat pelan bibir perempuan yang berhasil membuatnya tergila-gila ini. Bak kucing kelaparan yang diberi ikan asin, Tania menyambutnya dengan sukacita. Suara klakson menghentikan kegiatan mereka. Bian segera melajukan mobilnya, jangan sampai membuat keributan. Apalagi cuaca kota Jakarta saat ini begitu terik membuat orang gampang terpancing amarah. "Lanjutin di apartemen ya, Yan?" pinta Tania. Bian melirik sekilas, lalu kembali fokus pada jalanan. "Iyaaan, iih... nyebelin! Kok, malah dicuekin!" sewot Tania. "Aku takut khilaf, Nya. Aku sayang kamu, aku nggak mau merusak kamu. Please, bantu aku, Sayang," mohon Bian. Tania membuang muka, mengalihkan pandangannya pada kaca jendela di sampingnya. Diam-diam bibirnya tersenyum. Dia bahagia mendapatkan kekasih seperti Bian. Jika lelaki lain melakukan berbagai cara agar bisa mendapatkan ciuman dan menyentuh tubuhnya, maka Bian melakukan sebaliknya. Lelaki itu begitu menghormati dan menghargainya sebagai perempuan. Tania benar-benar merasa begitu dicintai oleh Bian. Bian mengabaikan semua predikat buruk yang tersemat pada diri Tania. Padahal bukan hanya sekali dia pernah memergoki Tania berciuman dengan lelaki lain, saat hubungan mereka masih berstatus sahabat. Namun, cinta yang tulus membuat Bian menerima Tania apa adanya. "Yan, abis tunangan nanti jangan kelamaan ya nikahnya? Kalau perlu, dua bulan abis tunangan kita langsung nikah," ucap Tania. "Skripsi kita aja baru dimulai, Nya. Kelarin skripsi dulu, lah. Lagian bisnis aku belum ngehasilin duit, nih. Mau makan apa kita?' sahut Bian. "Kelamaan kalau nunggu kelar skripsi dulu. Kamu 'kan tahu, aku ngajuin proposal skripsi aja belum," gerutu Tania. "Ya makanya buruan dikerjain! Biar kita cepet nikah," cetus Bian. "Padahal aku udah nggak sabar pengen di-unboxing sama kamu. Kata Febi rasanya enak, bikin ketagihan," kikik Tania. "Astaghfirullah, Nya! Istighfar! Ya Allah, kuatkanlah hamba-Mu ini," ujar Bian. Tania mencium pipi Bian dengan gemas. Begitu sampai di rumah, Bian langsung mengguyur tubuhnya dengan air. Semakin hari Tania semakin membuatnya kelimpungan. "Arrgh!! Apa harus dipercepat pernikahannya? Tapi gue mau kasih Tania makan apa? Duit aja kagak gablek! Duh, bener kata Ibu, jangan pacaran!" Bian bermonolog kemudian menengadah membiarkan wajahnya tersiram air. Bian tak menyangka akhirnya jatuh cinta pada Tania, mengalihkan dunianya dari Febi. Gadis cantik yang telah menjadi sahabatnya dari SMA, sekaligus cinta pertamanya. Di hari pertama kuliah usai masa orientasi, Bian dan Febi bertemu Tania. Gadis ayu dengan berpenampilan modis yang saat ospek banyak menarik perhatian senior. Dia sedang kebingungan mencari kelasnya, Febi menyapanya lebih dulu. "Hai, kenapa? Kok, kayak lagi bingung gitu?" sapa Febi. "Oh, hai. Elo Febi 'kan adiknya Bang Saka? Kenalin gue Tania," sahut Tania sembari mengulurkan tangan. "Gue tahu, siapa sih yang enggak kenal Tania? Yang jadi inceran Kak Dodi, Ketua HIMΜΑ." "Ih, gue malah naksir sama Abang elo, Feb! Bang Saka udah punya pacar belum?" tanya Tania dengan antusias. "Terakhir sih, udah putus, tapi nggak tahu kalau diem-diem punya pacar lagi," jawab Febi. "Kenalin gue, dong. Please...." Febi terkekeh lalu mengangguk singkat. Tania langsung memeluk teman barunya itu. Bian yang sedari tadi diacuhkan mendengkus kasar. "Oh, iya, ini kenalin Bian, temen gue dari SMA yang sama. Kebetulan di sini kita sekelas lagi. Elo manajemen juga 'kan? Kelas apa? MJ-A, B, atau C?" tanya Febi. Bian dan Tania saling berjabat tangan. Tania memberikan senyum terbaiknya dan untuk beberapa saat membuat Bian melupakan Febi. "MJ-A, gue nggak tahu nih, temen sekelas gue siapa aja. Kalian kelas apa?" tanya Tania. "Sama, kita juga kelas MJ-A!" seru Febi. "Serius?! Yes! Bakalan seru nih, hari-hari gue di kampus! Feb, mulai sekarang kita berteman, ya?" Tania menggenggam kedua tangan Febi. "Oke, sama Bian juga, ya. Siapa tahu kalian berjodoh," celetuk Febi. Tania melebarkan matanya, lalu melirik lelaki di samping Febi yang berdiri dengan salah tingkah. "Apaan, sih, elo belum apa-apa udah ngomong gitu," rajuk Tania pada Febi. Febi cekikikan, tangannya mencolek pinggang Bian yang berdiri kaku di sampingnya. "Iya, kalau jodoh nggak ada yang tahu, kan? Bian ganteng, kok! Anak basket loh, dia," ucap Febi berpromosi. "Cakep, sih. Tapi gue naksir Bang Saka, gantengan dia kalau menurut gue. Sorry, ya, Yan," ujar Tania enteng. "Dih, yang mau sama elo juga siapa?! Menurut gue juga cantikan Febi ke mana-mana dibanding elo!" ketus Bian. "Ih, elo kok malah nyolot, sih?!" Tania meninggikan suaranya. "Eh, udah! Baru juga saling kenal, masa udah bertengkar," lerai Febi. Bian dan Tania saling membuang muka. Bian terkekeh mengenang pertemuan pertamanya dengan Tania. Tidak ada yang berkesan selain celetukan Tania yang menyentil harga dirinya sebagai lelaki. Siapa yang tidak kesal dibilang kalah tampan dibandingkan dengan lelaki lain? Bian tak menyangka jika celetukan Febi waktu itu terbukti. Meski dari awal dia menyadari peluangnya mendapatkan Febi sangat tipis karena di sisi Febi selalu ada Saka, mereka pasti berjodoh. Mematikan shower, Bian mengeringkan tubuhnya dengan handuk lalu bergegas keluar dan mengenakan baju. "Mas Bian, kata Ibu cepet keluar!" teriak Caca adik bungsunya. "Iya, sebentar!" jawab Bian tak kalah kerasnya. Secepat mungkin Bian menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, salat dhuhur yang waktunya sebentar lagi habis. Begitu salam tanpa berdoa, dia langsung melepas sarung dan menggulungnya dengan sajadah. Ningsih, ibunda Bian, sudah menanti di ruang tengah. Matanya menatap televisi, sesekali mulutnya mengomentari sinetron yang sedang dia tonton. "Udah tahu ceritanya kadang nggak masuk akal, tapi masih aja ditonton," ucap Bian sembari meletakkan kepalanya di pangkuan Ningsih. "Loh, Mas, abis mandi? Rambutnya basah," tanya Ningsih. "Em ... iya, Bu. Tadi gerah jadi mandi lagi," jawab Bian. "Ooh, gitu. Oh, iya! Minggu depan kita 'kan mau ngelamar Tania, rencananya kalian mau nikah kapan?" tanya Ningsih. "Kelar skripsi dulu lah, Bu." "Apa nggak kelamaan? Ibu khawatir, loh." Ningsih mengusap rambut anak ketiganya yang jika panjang sedikit saja akan terlihat ikal. "Khawatir gimana?" tanya Bian. "Khawatir kamu kebablasan bikin dosanya!" Ningsih menarik hidung mancung Bian. "Insyaa Allah, nggak kebablasan, Bu," ucap Bian pelan, dia sendiri tak yakin imannya akan kuat menghadapi Tania. "Tapi Ibu nggak yakin, Mas. Langsung nikah aja, ya? Biar Ibu sama Ayah nggak was-was. Gaya pacaran anak jaman sekarang itu ngeri!" Ningsih bergidik. "Maaf, Ibu jadi inget video yang sempat viral itu. Ibu nggak mau anak Ibu berbuat seperti itu," tambahnya. "Aku 'kan nggak punya penghasilan, Bu. Masa langsung nikah," sahut Bian. "Bukan nggak punya, tapi belum. Lagian udah tahu belum punya duit sendiri, tapi berani-beraninya ngajak anak gadis orang pacaran!" Ningsih kembali memencet hidung mancung anak ketiganya itu. Bian tak menimpali ucapan Ningsih, karena itu memang benar. Dalam keluarganya tidak ada istilah pacaran. Kedua kakaknya menikah melalui proses ta'aruf. Dirinya adalah satu-satunya yang 'bandel', nekad pacaran sampai dilamar oleh pacarnya dan pihak keluarga mendesaknya untuk segera menikah. "Menikah itu ibadah dan membuka pintu rezeki, Mas. Jangan takut. Kamu bisa bekerja di kantor Ayah, bantu Mas Raka di sana," ucap Ningsih penuh kasih sayang. "Males banget! Mas Raka itu lebih galak dari Ayah. Ibu sabar dulu, ya. Aku lagi ngebangun bisnis sama temen-temen, kok. Mudah-mudahan secepatnya dapet untung dan bisa berkembang," sahut Bian. "Oke! Kalau gitu, selesai tunangan, kalian jaga jarak dulu! Sampai kalian lulus kuliah dan menikah," ucap Ningsih tegas. "Loh, kok gitu?" protes Bian, dia langsung duduk menghadap ibunya. "Pokoknya kamu harus mengurangi frekuensi pertemuan kalian! Ibu takut kamu kebablasan dan bikin keluarga malu!" ucap Ningsih lebih tegas dari sebelumnya. "Ibu nggak percaya aku?" tanya Bian. Pemuda itu memasang wajah sendu, mencoba merayu sang ibunda. "Bukan nggak percaya, tapi jaga-jaga. Apalagi Tania itu seksi banget, Ibu khawatir kamu nggak kuat iman, Mas." Kali ini Ningsih menurunkan nada bicaranya. Pada Bian, Ningsih tidak bisa bersikap kaku dan keras seperti memperlakukan ketiga anaknya yang lain. Anak ketiganya ini sedikit lebih sensitif dan keras kepala, semakin ditekan maka semakin dia berontak. "Itu namanya Ibu nggak percaya sama aku. Aku pacaran sama Tania udah hampir delapan bulan, dan aku bisa kontrol diri, kok. Dari pada dipaksa buru-buru nikah terus akhirnya bubar." Bian masih mencoba bernegosiasi dengan Ningsih. "Gimana kalau papinya Tania yang minta kalian cepet-cepet nikah? Kemarin itu Ayah ketemu Pak Setno, beliau juga pinginnya kamu dan Tania segera menikah," ujar Ningsih. Bian diam, dia bingung harus berbuat apa. Apa sebaiknya acara pertunangannya dibatalkan saja? Bagaimana dengan Tania? Kekasihnya itu pasti marah besar dan akan ✅✅✅✅ Yang mau tau kisah lengkah Saka dan Febi, bisa baca/cari dengan judul "Tetanggaku Jodohku" 😍😍😍
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD