Erza tampak mengusap punggung Naya yang sedang menangis di samping kanannya. Dengan sang Ayah yang duduk di sofa hadapannya. Hari bahkan minggu telah berlalu, Naya sudah baik-baik saja. Sampai akhirnya hari ini datang, sang Ayah mengunjunginya seraya memohon pertolongan putri bungsunya itu. "Naya, Ayah mohon... Ijinkan Ayah menjual rumah ini." Erza benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran calon Ayah mertuanya kini. Bisa-bisanya ia berpikiran untuk meminta Naya menyerahkan kenangan yang ditinggalkan oleh Ibu dan Kakaknya. "Naya gak mau. Gak akan pernah mau." Tolak Naya. Abran mengangguk paham. "Nay, perusahaan Ayah diambang kehancuran nak. Ini demi kamu dan--" "Dan istri sama anak Ayah. Ini demi mereka, kenapa gak Ayah jual aja rumah yang kalian tempatin? Rumah ini kan punya Mamah.

