Seorang gadis bertubuh langsing dengan tinggi rata-rata memasuki sebuah ruangan remang-remang. Terdapat kursi yang berantakan dan bau minuman yang menyengat menunjukkan bekas pesta tadi malam. Oriana masuk lebih jauh dengan gelisah, tidak menyangka jika tempat hiburan malam seperti ini akan menjadi tempat kerjanya.
“Permisi,” Oriana bersuara, “Aku datang untuk mendapatkan pekerjaan.”
“Oh, kau sudah datang. Silakan masuk ke sini,” kata seorang laki-laki paruh baya yang kemudian menghilang di balik pintu.
Oriana memasuki kamar temaram itu dengan sedikit waspada. Bagaimanapun, tidak ada siapa pun selain mereka di sini. Hal yang tidak mengenakkan mungkin saja terjadi.
Tetapi perasaan khawatir itu menghilang saat Oriana melihat pria tadi terduduk di depan meja biliar.
“Masuklah. Kita bisa membicarakan pekerjaan kita di dalam sini,” kata pria itu ramah.
“Pekerjaan ini tidak sulit,” katanya setelah Oriana duduk. “Kau hanya perlu menemani klien dan melayani mereka layaknya seorang raja. Sebelum itu, boleh aku melihat kemampuanmu?”
Oriana segera berdiri seperti yang diminta dan mendekati pria itu. Dia meraih stik biliar di sisi meja, membidik, dan memukul bola yang tersuusn rapi di atas meja. Satu per satu, bola berbagai warna itu memasuki lubangnya tanpa cacat.
Oriana segera merasa puas saat melihat pria itu terpukau.
“Umurmu … dua puluh tahun, benar?”
“Benar, seperti yang tertulis dalam CV-ku,” jawab Oriana, bohong. Ia baru lulus SMA enam bulan lalu.
“Ya, ya, aku percaya, hanya saja pernah ada gadis yang berbohong dan menyebabkan masalah untuk kami. Seperti yang kau tahu, pekerjaan ini ilegal untuk anak di bawah umur.”
“Saya akan berusaha untuk tidak menyulitkan Anda.”
“Baik, kau bisa mulai dan melayani klienmu besok.”
Oriana menelan saliva dengan gugup. Ia tidak menyangka jika pada akhirnya, dia akan memilih pekerjaan gelap seperti ini. Terlebih, saat dirinya baru berumur delapan belas. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain.