Bab 3. Aku Hamil?!

1104 Words
"Mungkinkah?" ucap Shea, ia jatuh terduduk dilantai toilet Klinik tempatnya bekerja, tubuhnya begitu lemas dan gemetar setelah melihat testpack yang ia masukkan sebagian kecil ujungnya kedalam urin yang telah ia tampung dalam wadah kecil. Shea hanya penasaran karena dua bulan terakhir tubuhnya sering merasa lemas dan ia sama sekali tidak berselera makan ditambah selama dua bulan terakhir ia tidak mendapat menstruasi. Usianya sudah menginjak tujuh belas tahun dan ia bukan seorang yang bodoh dengan tidak mengetahui tanda-tanda kehamilan tersebut, Shea hanya menolak untuk percaya dengan mengabaikan telatnya menstruasi. Namun kini, ia memberanikan diri untuk mencoba memeriksa secara langsung dengan mengambil testpack yang ada di Klinik. Air mata mulai mengalir deras dari sudut mata Shea, ia menangis sejadi-jadinya untuk mengungkapkan kesedihan, kekecewaan, dan amarah yang menggelayut dalam benaknya. Shea menutup mulut agar suara tangisnya tidak sampai terdengar dari luar, ia masih menatap lekat benda pipih yang berada ditangannya dengan d**a yang semakin sesak akibat kepiluan. 'Bagaimana aku sekarang? Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?' Shea hanya mampu berucap dalam hati, mulutnya seolah terkunci hingga ia tidak mampu berucap barang sepatah katapun. Sudah tiga bulan sejak kejadian itu. Namun, trauma masih belum enyah dari dalam diri Shea. Semakin hari bukannya membaik justru semakin menjadi, untuk bekerja dengan Dev saja ia selalu merasa takut, seorang pria yang dulu dikenalnya begitu baik, nerubah menakutkan bagi Shea. Shea tidak ingin berada didekat atau disekitar pria karena ia akan merasa sangat terancam, ia begitu takut kejadian itu akan terulang kembali. Kini, dalam pikiran Shea terbayang wajah orang yang menerima dirinya dengan tangan terbuka, Heru dan Zehra. Padahal mereka sudah begitu baik lalu apa yang akan ia katakan pada mereka perihal kehamilannya ini dan bagaimana ia bisa jujur kesemua orang tentang janin yang tumbuh dalam rahimnya ini? Bagaimana caranya ia melanjutkan hidup dengan perut yang terus membesar nantinya? Bagaimana caranya untuk berkata jujur?! Shea memukul-mukul kakinya untuk melampiaskan kekesalan yang mendera, ia begitu marah dan tidak terima akan kenyataan. Tangis Shea semakin menjadi. Setelah cukup lama menangis dan memukul diri sendiri, Shea mulai kehabisan energi, tubuhnya semakin lemah dan ia menyandarkan punggung pada tembok toilet yang terbalut keramik hingga rasa dingin menembus kulitnya. Shea menatap langit-langit kamar mandi dengan tatapan penuh amarah, ia mengingat Yohan Adhiasta, orang yang telah menghancurkan hidupnya, "Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" tegas Shea. *** Shea membuka pintu kamar mandi setelah dirinya cukup tenang, ia sudah memperbaiki pakaiannya agar terlihat rapi, dirinya juga telah membasuh wajah. Shea melangkah dengan langkah yang lemah, bagaimana pun kenyataan yang harus diterimanya begitu berat. "Shea," panggil Dev dengan wajah yang cerah, "Kemarilah, aku baru saja membeli makanan," lanjutnya membuka box makanan berwarna putih itu. Dev seorang dengan tubuh tinggi tegap, dan atletis, ia yang mengenakan kemeja berwarna abu dipadukan dengan jam tangan hitam yang melingkar dipergelangan tangan kiri membuat pria yang berprofesi sebagai Dokter andalan Desa itu terlihat sangat mempesona dan menjadi idola kaum hawa serta terkenal dikalangan ibu-ibu. Dev memang mudah dekat dengan siapapun karena dirinya merupakan seorang yang sangat ramah. Dimata Shea, Dev pernah menjadi sosok seorang kakak yang begitu mengayomi, ia yang cukup dekat dengan Dev karena seringnya mereka bertemu bahkan menceritakan seluruh impian yang ingin ia capai dimasa depan. Namun, setelah kejadian yang memilukan menimpanya, Dev bukan lagi sosok yang ia kagumi serta tempat ternyamannya untuk berbagi cerita, Dev tidak lebih dari seorang yang membuatnya merasa terancam, bayangan akan pria ini membanting tubuhnya lalu melucuti seluruh pakaiannya selalu terbayang dalam pikiran Shea, walau sebenarnya Yohan yang telah melakukan hal keji itu. Sekarang dimata Shea semua laki-laki itu sama, sama bejadnya. "Ada apa, Shea? Kenapa hanya berdiri saja disitu?" tanya Dev dengan senyum yang memperlihatkan deretan gigi yang begitu rapi ditambah dengan lesung pipit yang membuat senyum itu semakin manis, "Aku sudah beli banyak makanan, ayo kita makan." Shea mengepalkan tangannya, ia menatap Dev dengan begitu dingin, "Aku tidak lapar," ucapnya datar kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu untuk keluar dari dalam Klinik yang terasa sangat berbahaya baginya. Dev cukup bingung dengan perubahan sikap Shea akhir-akhir ini, ia berpikir mungkin dirinya tanpa sadar menyinggung perasaan Shea dengan perkataan atau tindakannya. Dev segera melangkah mengejar Shea untuk mempertanyakan tentang kesalahannya, "Apa kau baru saja menangis, Shea? Katakan padaku, apa aku melukai perasaanmu? Kita ini rekan kerja, tidak baik jika ada kesalahpahaman diantara kita," ujar Dev, ia berdiri didepan pintu untuk mencegah Shea pergi sebelum memberinya kejelasan perihal perubahan sikap yang remaja itu tunjukan, "Jika aku memang bersalah, aku meminta maaf," lanjutnya dengan tatapan teduh dan nada bicara yang lembut. Sikap baik Dev ini tidak bisa meluluhkan hati seorang Shea, remaja ini justru menatapnya dengan tatapan tajam penuh kebencian didalamnya. "Untuk apa aku menangis?!" ucapnya datar, "Rekan kerja? Aku ini hanya pembantumu!" lanjutnya dengan tegas, kata-kata itu terasa begitu menusuk bagi Dev. "Aku tidak pernah menganggapmu begitu, Shea," kata Dev dengan penuh ketulusan, ia berbicara apa adanya, "Apa yang membuatmu bersikap begitu dingin? Katakanlah, Shea." Seorang gadis yang hangat dengan tawa renyah yang selalu hadir ditengah pembicaraan, berubah dingin dan tak acuh padanya, tentu saja, Dev berpikir bahwa dirinya sudah melukai remaja yang hanya berjarak satu meter darinya ini. Tangan kanan Shea menggenggam erat lengan kirinya, menutupi tubuh yang gemetar akibat melihat Dev yang secara tiba-tiba menghalangi langkahnya, "Apa yang kau inginkan dariku?!" "Hanya sebuah penjelasan," jawab Dev dengan suara bass yang nyaman terdengar oleh telinga. "Aku rasa tidak perlu bagiku untuk menjelaskan sesuatu padamu!" tegas Shea, "Jika memang tidak suka, pecat saja aku! Mudahkan?!" "Shea ..." "Aku mau lewat," ucap Shea datar, ia memotong perkataan Dev. Dev tidak ingin memperpanjang masalah, mungkin saat ini bukanlah waktu yang tepat baginya untuk berbicara dengan Shea, dilihat dari kondisi Shea yang tidak begitu baik, tidak mungkin baginya untuk bersikap egois. Dev akhirnya melangkah menjauh dari pintu memberikan jalan untuk Shea, "Jika sakit katakan padaku, aku akan membantumu." Shea bergeming, tidak menanggapi ucapan tulus dari Dev, ia berjalan dan membuka pintu untuk berlalu dari Klinik tersebut. Shea mengusap air mata yang kembali jatuh walau tidak sebanyak tadi karena ia menahan tangisnya, Shea merasa dirinya kini harus menjadi seorang yang lebih kuat. Walau bersikap sekeras batu, tetap saja ada perasaan bersalah yang hinggap dalam hati Shea atas sikap kurang ajarnya pada Dev. Tapi, ia terlalu takut untuk berada didekat pria itu dan ia juga takut untuk buka suara akan dirinya yang telah ternoda. Untuk melihat tubuhnya sendiri pun, Shea enggan karena merasa begitu kotor. Ditengah keterpurukan, ia tetap harus menjalani hidup dengan beban yang begitu berat. Saat ini ia hanya berpikir untuk menutupi kehamilannya terlebih dahulu sebelum memutuskan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Haruskah dirinya jujur pada Heru dan Zehra? Tapi, Shea masih belum sanggup melihat kekecewaan dimata orang yang ia sayangi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD