7. Ancaman Luka

1219 Words
Abella gelisah, tidak berani melangkah keluar rumah. Padahal dia sudah berjanji akan menemani Kieran tanding basket. Yang membuat Abella bimbang bukan sekadar izin keluar, tapi bagaimana harus berhadapan dengan Damian—yang baru saja kembali menentang keras hubungan mereka. Apalagi kali ini disertai peringatan tajam dan bukti yang sulit dibantah, Damian punya rekaman Abella mabuk di club dan tertangkap basah sering menginap di kediaman Kieran. “Ini peringatan terakhir Papa ya, Abell, tolong … sebaiknya kamu akhiri hubungan kalian sebelum terlalu jauh dan makin parah. Papa dan Mama tidak pernah setuju kamu seperti ini, dia bukan lelaki yang baik untuk kamu.” Abella hanya diam, menunduk tanpa berkata apa-apa. Namun dalam hatinya, dia justru menolak keras. Abella tidak sanggup mengucapkan putus, apalagi harus benar-benar meninggalkan Kieran. Rasanya, mustahil. Setelah memastikan ruang keluarga sepi, Abella turun ke bawah. Dia tidak bisa ingkar janji, akan Abella usahakan bicara pada Ratih sampai mendapat izin. “Cantik banget, Eneng. Mau pergi ke mana nih?” tanya Mbok Gyatri saat mereka berpapasan di dapur bersih. Abella kaget, sebab wanita paruh baya itu tiba-tiba muncul di balik dinding, sudut bibirnya terdapat sisa-sisa cokelat. Mbok Gyatri adalah asisten rumah tangga di kediaman Damian, dia kesayangan Ratih setelah Bibi Rere berhenti. Selain pintar mengolah masakan, Mbok Gyatri juga pintar membuat kue, merawat kebun, dan pijatannya enak. “Mbok Gya makan kue?” Abella memicing, menyelidiki seksama dari gelagat Mbok Gyatri yang mencurigakan. “Enggak kok, Mbok nggak ada makan apa-apa.” Abella melangkah maju, lalu mengambil sesuatu yang disembunyikan di balik punggung Mbok Gyatri. “Es krim? Astaga, Mbok! Ini full cokelat, lho. Manis banget—nggak boleh,” tegurnya dengan nada setengah bingung. Dia heran, siapa yang ceroboh menyetok es krim cokelat di dapur, padahal semua makanan manis sudah sengaja disembunyikan agar tak mudah ditemukan oleh Mbok Gyatri. Mbok Gyatri tersenyum, meraih tangan Abella dengan lembut, mencoba membujuk. “Neng Abell, jangan aduin ke Ibu Ratih, ya?” Mengusap-usap punggung tangan Abella sambil tersenyum manis. Di usianya yang sudah terbilang renta, Ratih sengaja mengatur lebih ketat pola makan Mbok Gyatri agar kesehatannya terjaga, apalagi wanita itu punya gejala gula darah. Ratih sudah menganggap Mbok Gyatri seperti ibu sendiri, tidak ingin terjadi sesuatu padanya jika berlebihan mengonsumsi makanan manis. “Kemarin Mbok ikut belanja bulanan, sekalian sembunyi-sembunyi beli es krim. Nggak ada orang rumah yang tahu, Mbok sendiri yang mau. Rasanya, lidah Mbok pahit terus akhir-akhir ini … udah lama nggak ngerasain yang manis-manis.” Abella memutar bola mata jengah, alasan klasik. Mbok Gyatri selalu membuat alibi seperti ini, sampai hafal semua orang yang mendengarnya. “Sekarang di mana Papa dan Mama?” “Ibu sama Pak Damian lagi pergi, ada jadwal berkuda sampai siang. Tadinya mau ajak Eneng, tapi katanya Neng Abell belum bangun. Jadi mereka pergi berdua saja.” Senyum Abella merekah. Akhirnya ada celah untuknya pergi. Soal alasan, Abella pikirkan belakangan—yang penting dia bisa menemani Kieran dulu. “Eneng nggak boleh pergi, ya. Ibu tadi titipin pesan pada Mbok, katanya Neng Abell di rumah aja. Temenin Mbok berkebun atau bikin kue resep terbaru, yuk?” “Nggak bisa, Mbok. Aku ada janji mau ketemu temen. Aku usahain, nanti sore pulang. Mbok Gya bilang aja aku main ke studio Chia.” Mbok Gyatri menatap ragu, kemudian memerhatikan Abella yang buru-buru mengeluarkan beberapa makanan yang sudah dia persiapkan dari lemari pendingin. “Nanti sebagai gantinya, aku juga rahasiain Mbok Gya makan es krim. Gimana?” “Bener, ya?” Abella tersenyum riang, kemudian melenggang bahagia sambil melambaikan tangan pada Mbok Gyatri. Dia membawa salad sayur super sehat dan infused water untuk Kieran. Karena harus kembali ke rumah, Abella memilih mengemudi sendiri. Untuk sementara waktu, Abella tak bisa lagi menginap di tempat Kieran maupun di apartemen pribadinya. Damian telah melarangnya, dan sudah bisa dipastikan akan ada batasan ketat untuk setiap kegiatannya. Setelah ini, Abella harus menjalankan bisnisnya sendiri—dengan begitu, dia memiliki alasan kuat untuk tetap bebas beraktivitas di luar rumah dan punya ruang privasi. Sama seperti Chiara, yang tidak pernah benar-benar dibatasi oleh Damian, karena kesibukannya menuntut Chiara terus bergerak di luar. *** Setelah pertandingan usai dan tim Kieran keluar sebagai juara, rasa bahagia begitu mendominasi suasana. Abella tampak ceria saat menemani Kieran membersihkan diri dan berganti pakaian. Sebelum pulang, Kieran mengajak Abella makan, mentraktir sebagai bentuk terima kasih karena Abella selalu meluangkan waktu untuknya. Namun, baru saja sampai pada area parkir sebuah mall paling ramai di pusat kota—milik Almeer Group, Chiara menelepon dirinya. “Abella, pulang lo!” “Nggak. Satu atau dua jam lagi gue baru balik.” “Semua nomor orang rumah lo blokir, kan? Gilaa lo, ya!” Chiara benar-benar dibuat emosi, apalagi saat Damian memintanya menghubungi Abella karena tidak ada satu pun orang rumah yang bisa melakukannya. “Gue perlu waktu, Chia. Papa nggak bakal ngerti. Udah, nanti gue yang hadapin Papa sendiri, lo nggak usah ikut-ikut.” “Pulang, sebelum Papa turun tangan dan nyeret lo sendiri. Ini udah keterlaluan, Bell. Lo bener-bener udah kelewat batas.” Abella memutuskan sambungan teleponnya, kemudian menambahkan Chiara ke daftar blokiran. Bahkan satu-satunya orang yang Abella harapkan bisa berpihak, ternyata tidak mendukungnya sama sekali. Saat ini, Abella merasa semua orang tidak memahami perasaannya. “Kamu yakin kita nggak pa-pa? Kalau kamu harus pulang, aku bisa ngerti, Sayang. Masih banyak waktu lain, aku nggak mau kamu bermasalah sama orang rumah.” “Aman kok, cuekin aja. Kalau udah gini keadaannya, aku jadi nggak pengen pulang.” Kieran memeluk Abella, berusaha memberi dukungan. “Kalau kamu merasa nggak punya tempat aman, aku bakalan ada buat kamu. Lari ke aku, kamu nggak sendirian.” “Aku cuman punya kamu. Plis, apa pun yang terjadi ke depannya, jangan lepasin aku, ya? Bawa aku pergi sejauh mungkin, aku ikut kamu, Kie. Lindungin aku dan buktiin ke semua orang kalau kamu pantas buat aku.” “Iya, Sayang. Tenang aja.” Mengusap punggung Abella, kemudian mengecup kening gadis itu lembut. Love bombing itu nyata. Kieran sering memanipulasi Abella melalui perhatian, pujian, dan kasih sayang yang berlebihan untuk menciptakan rasa ketergantungan emosional gadis itu padanya. Hal ini tidak lepas karena Kieran ingin mengendalikan Abella dan memperlemah batas dirinya, sehingga lebih mudah untuk dimanipulasi di kemudian hari dan Abella tetap berada dalam genggamannya. Sementara sikap Kieran, terserah padanya. Ini sangat toxic, Keiran pun sadar. Tapi dia senang melakukannya, agar Abella tidak hilang dari hidup Kieran. Usai bercumbuu singkat dan ingin keluar dari mobil, dua orang pengawal yang sangat Abella kenali mencegat mereka. Dari tempatnya, Abella menyadari mobil Damian berada tak jauh dari sana. “Pergi kalian. Sampaikan ke Papa, makin ditentang, aku bakalan makin nekat buat pergi dari rumah.” Salah satu pengawal menyeret Abella secara paksa, sementara yang lain melayangkan bogem mentah ke wajah Kieran sesuai perintah langsung dari Damian yang disampaikan lewat in-ear monitor. Abella menjerit di hadapan Damian, marah karena pengawal itu menyakiti Kieran. “Papa apa-apaan, sih? Jangan sakiti Kieran, aku menyayanginya!” “Jangan teriak di hadapan Papa, Abella!” bentak Damian hilang kesabaran. “Untung hanya pukulan, tidak Papa suruh dia untuk melenyapkan lelaki sial itu.” Abella menganga, menggeleng keras sambil menangis. Emosi di antara mereka memuncak, tapi Abella memilih membuang muka, membiarkan air matanya jatuh tanpa henti. Tubuhnya melemah penuh sesal, tidak bisa menolong atau melindungi Kieran. “Akhiri hubungan kalian atau Papa hancurkan masa depan lelaki itu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD