flashback on
Sial!!!
Gara-gara mimpi si Aldi semalam, Audy jadi bangun kesiangan, hanya butuh waktu 10 menit dia sudah keluar dari kamar mandi, tentu saja tanpa mandi hanya cuci muka dan gosok gigi. Dia tidak mau harus berkeringat keliling lapangan karena mendapat hukuman dari Pak Adrian, guru BK yang terkenal tidak punya hati ini. Apalagi jika menyangkut kedisplinan, bisa-bisa tidak berhenti mengomel sampai telinga panas mendengarnya.
Hari pertamanya masuk sekolah setelah liburan kenaikan kelas, tidak akan dia sia-siakan tanpa melihat pujaan hatinya, sudah terhitung dua minggu ini dia tidak melihatnya, rasa kangennya sudah berasa meledak-ledak.
Siapa lagi kalau bukan Reinaldi, si most wanted SMA 70, pemuda yang murah senyum dengan lesung pipi yang menambah kesan manis pada wajahnya, tinggi 165 cm dengan kulit putih apalagi di dukung dengan embel-embel anak orang kaya, benar-benar definisi good looking, good rekening. So, siapa yang tidak mau menjadi pacar seorang Reinaldi termasuk Audy, yang sudah mengklaim dirinya fans Reinaldi garis keras.
"Pak Mamat, tunggu sebentarr, please, jangan di tutup dulu gerbangnya," teriak Audy turun dari ojol yang mengantarnya pagi ini.
Harusnya dia berangkat bersama Devina, tapi karena Audy tidak menjawab telphonnya dan karena takut menjadi incaran Pak Adrian di hari pertama masuk sekolah, tanpa pikir panjang Vina langsung berangkat meninggalkannya, nanti tinggal jelasin dan minta maaf, begitu pikir Vina.
"Aduh si eneng, kok bisa telat?
buruan atuh eneng sudah mau di mulai upacara di lapangan, buru neng buru!!!
Baru juga hari pertama sudah mau telat, keburu Pak Adrian keliling neng.
Kasihan atuh, cantik-cantik harus keliling lapangan pagi-pagi," jawab Pak Mamat yang selalu baik hatinya.
Sambil menghela nafas lega, Audy berjalan ke kelasnya yaitu 11 - A1 untuk menaruh tas di kelas baru yang akan menjadi tempatnya belajar selama satu tahun kedepan, kemudian mengikuti upacara bendera.
Selain Audy anak yang pintar dan rajin serta disiplin, dia juga tidak akan melewatkan kesempatan mengamati kakak kelasnya, idola hatinya, tentu saja Kak Aldi.
"Mayan, bisa cuci mata satu setengah jam kedepan, panas-panas adek rela bang, asal bisa memandang wajah abang, hihihii," gumam Audy sambil berlari ke arah lapangan. Semua teman-temannya sudah berbaris sesuai kelas masing-masing dan upacara segera di mulai, tidak ada kesempatan Audy untuk protes kepada Vina karena sudah meninggalkannya.
Upacara bendera yang mungkin menjadi kegiatan yang menyebalkan bagi sebagian siswa, nyatanya menjadi hal yang menyenangkan bagi Audy. Ya, apalagi kalau bukan mengisi tangki cinta dan semangatnya dengan memandang kakak kelas pujaan hatinya, walaupun kisahnya tragis karena harus bertepuk sebelah tangan atau mungkin bisa di katakan layu sebelum berkembang. Bagaimana tidak, sudah dari kelas 10 Audy mengagumi sosok most wanted SMA 70 ini, sudah banyak cara dia coba peruntungan mendekatinya. Bukannya harapan yang di dapat, tapi sebuah pukulan telak untuk mundur.
***
"Kak, nanti kita latihan basket bareng kan ya?" tanya Audy karena dia baru saja ikut kegiatan ektrakulikuler basket, tentu saja hanya alasan agar bisa bertemu atau melihat kak Aldi.
"Sorry, gue hari ini nggak ikut latihan, ada acara!" jawab Aldi dengan nada dingin. Dia menghindari berdekatan dengan Audy, karena setiap kali melihat Aldi, Audy akan menunjukkan ketertarikan secara terang-terangan dan ugal-ugalan, hal itu yang membuat Aldi tidak suka dan menghindarinya.
"Yaaahhh, kalau besok latihan musik kakak hadir kan?" tanya Audy pantang menyerah, Dia sampai rela mengikuti setiap ektrakulikuler di sekolah yang sama dengan Aldi.
"Audy, please, gue minta sama lo! bisa nggak, gak usah kepo sama urusan gue dan nggak perlu ngikutin gue?
Gue nggak suka sama lo dan gue nggak suka cewek bar-bar.
Kalau menurut orang lain lo cantik, menarik tapi sorry bagi gue, lo biasa aja dan gue illfeel sama lo.
So, mulai hari ini, aku nggak mau lihat lo lagi di sekitar gua, paham!
Jadi, tolong menjauh sejauh jauhnya dari gue atau gue bisa ngelakuin hal yang lebih buruk dari ini."
***
Peringatan keras dari Aldi saat hari trakhir sebelum mereka libur kenaikan kelas dua minggu yang lalu dan kata-kata ini selalu membekas di ingatan Audy. Sakit hati pasti, nangis bombai, sudah di lalui. Tapi yang namanya cinta, apalagi cinta pertama, mau sekasar apapun Aldi tidak menyurutkan semangatnya, hanya ia mulai merubah caranya saja.
Dia mengikuti kemauan Aldi dengan tidak menganggu atau berada di sekitarnya, dia hanya mengamati sang pujaan hati dari kejauhan, itu sudah cukup baginya.
Itu sebabnya saat upacara tadi Audy hanya memandang Aldi tanpa menyapa ataupun berada di sekitarnya, dia hanya menjaga sikap seperti permintaan Kak Aldi serta dia juga tidak mau sakit hati dan membuat Kak Aldi semakin membencinya.
Hal ini tak luput dari perhatian Vina dan menjadikannya penasaran karena tumben - tumbenan temannya diam saja saat melihat Kak Aldi. Nanti sampai kelas akan dia tanyakan kepada Audy sebenarnya apa yang terjadi, begitu pikirnya.
Tapi begitulah sifat Aldi, walaupun dia murah senyum dan baik hati pada semua teman-temannya, tapi jika melihat Audy rasanya tingkat kesabarannya menjadi setipis tissue, apalagi mengingat sebelumnya dengan terang-terangan Audy menunjukkan ketertarikan pada dirinya. Aldi saja sampai malu karena sering jadi bahan ledekan teman - teman sekelasnya, apalagi jika Audy sudah menghampiri ke kelasnya, rasanya harga diri Aldi terinjak - injak.
"Tumben tadi anteng banget lo Au, biasanya kayak uler keket kalau lihat Kak Aldi, udah tobat lo?" tanya Vina setelah kembali ke kelasnya.
"Gue cuma mengikuti keinginan dia aja, biar dia gak semakin benci gue," terang Audy.
"Tunggu-tunggu, apa maksud lo, ada kabar apa nih yang gue lewatin?" tuntut Vina.
"Elahhh, gak ada apa-apa Vin, gue salah ngomong aja," elak Audy.
"Serigala betina, Auu, lo gak bisa bohong sama gue! kita udah temenan dari jaman SMP, jadi cepetan lo cerita atau gue tanya Kak Aldi sendiri!" ancan Vina.
"Jangan lah Vin! oke okee gue cerita, tapi gue gak mau lo ngalakuin apa-apa setelah ini, cukup dengerin gue aja."
"Oke oke," jawab Vina.
Audy pun menceritakan semua yang di alami sebelum libur sekolah, dari awal percakapan dengan Aldi sampai ancaman dan peringatan untuk menjauhinya.
"Apa gue pelet aja ya Kak Aldi, Vin?"
"Au, si serigala betina tapi tidak berbulu domba, denger gue ya... cinta dan sayang boleh, boleh banget malah, tapi please bego jangan!!! kayak gak ada cowok lain aja di dunia ini, buktikan bahwa lo bisa move on dari dia.
Lagian lo cantik banyak yang mau sama lo dan satu lagi pakek mau pelet - pelet segala, mau pakek siapa lo buat tumbal?" gemas Vina.
"Au au enak aja, Audy! enak aja lo nama gue lo ganti kaya serigala aja Vin.
Ya elo lah yang jadi tumbalnya! biar bermanfaat sedikit hidup lo, hahaha," jawab Audy sambil tertawa terbahak-bahak dan berakhir di hadiahi lemparan buku oleh Devina, untung cuma buku tulis, bukan kamus kimia yang bisa di pastikan Audy harus di larikan ke UKS.