"Dy, sudah selesai belum baca data customer dan daftar barangnya?? kalau udah selesai, sekarang kita kerjakan form PO barang untuk satu bulan kedepan ya," instrupsi Kak Ria, menyadarkan Audy dari lamunan jaman SMA nya.
"Ehh iya mbak sudah kok, okey. Aku kerjakan untuk pengisian formnya, nanti kalau sudah segera aku kirim by email ke Mbak Ria."
"Okey."
Entah kenapa aku terlalu sulit mengenyahkan pikiranku tentang Kak Aldi, mungkin benar kata orang-orang bahwa cinta pertama selalu memiliki ruang tersendiri di hati.
Apalagi tadi pagi saat memasuki lobby, aku melihat seorang lelaki yang mirip sekali dengan Kak Aldi atau memang itu benar Kak Aldi? tapi karena sudah tidak pernah bertemu, bahkan kabarnya pun aku tak tahu, bisa jadi pikiran ini menjadi halu. Tapi aku yakin bahwa itu adalah Kak Aldi, karena saat tidak sengaja kami saling tatap, aku menangkap ekspresi terkejut sama dengan ku.
Kembali terlintas kenangan terakhir ku bersama Kak Aldi.
"Ehh cinn, pensi dua minggu lagi kelas kita wajib ngeluarin perform, gue nggak mau tau pokoknya elo harus tampil mewaliki kelas kita.
Lo nyanyi noh sama si Reno, gue dah bilang dan anaknya udah okey, sekarang tinggal elo nya ntar koordinasi sama Reno buat latihan," jelas Prilly sang ketua kelas.
"Kagak, nggak mau gue. Elo mah Prill maksa banget jadi orang, kenapa gak elo aja yang ikutan!" jawab Audy sampil ngomel ngomel.
"Cinn dengerin yes, kalau yang maju eike, bukan kita tampil nyanyii, yang ada kita peragaan busana cyinn, mau loe acara pansi jadi acara fashion show?" balas Prilly dengan sewot dan memutar bola matanya.
"Buruan elo janjian sana sama di Reno buat latihan nyenyong, udah gue daftarin juga kelas kita."
"Mentang-mentang anggota Sosis loe, maen daftar-daftar aja," jawab Audy tak kalah sewot.
"OSIS neng OSIS, sosis - sosis, makan aja loe cepet nyambernya!!!" jawab Prilly sambil berlalu kembali ke mejanya yang mengundang tawa mereka yang mendengarnya.
***
Di lantai 3 tidak jauh dari kelas 12, terdapat studio music yang memang biasa di gunakan untuk latihan anak home band. Setiap jam istirahat sekarang menjadi rutinitas Audy berlatih menyanyi dengan Reno, biarpun dengan menggerutu tetap saja dia mau untuk tampil pensi, tentu saja di bawah ancaman seorang Aprilliansyah. Kalau tidak, bisa di teror setiap menit dengan mulut julidnya itu.
Bisa terbayang bagaimana hidupnya yang aman damai sejahtera ini, akan terecoki dengan omelan Prilly yang kalau sudah mengoceh tidak tanggung-tanggung, bisa-bisa orang yang mendengarnya bisa kena mental, untung saja Audy dan Devina sudah terlatih dari jaman SMP.
Lagu Yellow-Coldplay menjadi pilihan mereka untuk pensi dua minggu lagi.
Intro lagu mulai di mainkan oleh Reno dan Audy pun mulai bernyanyi dengan penuh perasaan.
Jangan salah, selain muka bening, suara Audy pun tak kalah bening juga. Karena terlalu hanyut dalam lagu tersebut, tanpa mereka ketahui, diam-diam ada sepasang mata yang memperhatikan mereka.
"Kenapa juga gue tiba-tiba berhenti di depan ruang musik," gumam Aldi pada dirinya saat melewati ruang musik, padahal tujuannya menemui Laluna.
Entah hanya penasaran atau mulai ada rasa cemburu yang tanpa ia sadari, saat melihat Audy bernyanyi dengan Reno atau dia merasa ada yang hilang dari sosok perempuan yang selama ini mengejarnya dengan terang-terangan, perempuan yang memujanya.
"Ternyata bisa nyanyi juga nih anak, tumben bener anteng-anteng aja nggak ngrecoki gue lagi! udah tobat kali ya?
Tapi bagus deh, hidup gue jadi tenang," monolog Aldi pada dirinya.
Walau sebenarnya antara hati dan logikanya bertolak belakang, meski dia menyangkal bahwa egonya sedikit terusik melihat kedekatan mereka berdua.
Ya, bukan hanya perempuan sebenarnya yang bisa jual mahal, Aldi pun melakukan hal tersebut, dia tidak mau jika harus mengejar para perempuan, pun sama halnya dengan kedekatannya dengan Laluna, dia lah yang lebih pro aktif mendekati Aldi dan karena desakan dari teman-temannya serta akibat kalah taruhan, mengharuskannya dia berpacaran dengan Luna.
Meskipun dengan embel- embel terpaksa, ia akhirnya berpacaran dengan Luna, walau sebenarnya dia tidak ingin melakukan hal itu yang berpotensi membuat Luna sakit hati di kemudian hari.
Aldi juga bukan tipe lelaki buaya yang suka tebar pesona apalagi ganti-ganti pasangan, meskipun sangat mudah baginya mendapatkan wanita, tapi dia tidak seberengsek itu.
***
Look at the stars
Look how they shine for you
And everything you do
Yeah, they were all yellow
I came along
I wrote a song for you
And all the things you do
And it was called "Yellow"
So then I took my turn
Oh, what a thing to have done
And it was all yellow
your skin, oh yeah, your skin and bones
(Ooh) turn into something beautiful
(Aah) and you know, you know I love you so
You know I love you so
I swam across
I jumped across for you
Oh, what a thing to do
'Cause you were all yellow
Tepuk tangan riuh mengakhiri perform Audy dan Reno, Prilly dan Devina bergegas ke belakang panggung menemui mereka dengan suara nya yang paling heboh bahkan sedari mereka bedua menyanyi.
"Yaampunn chinn suara loe kerenn bangett, nggak sia-sia gue nunjuk lo sebagai perwakilan kelas, emang jeli bangett mata gue.
Kalau ada Tulus disini, udah pasti dia akan jawab yes!" gurau Prilly yang mengundang tawa semua yang mendengarnya.
"Lo kata ini ajang pemilihan bakat, ini tuh ajang pencarian jodoh," tambah Vina
"Apaan sih gaes, kalian dari tadi teriak - teriak kayak orang kesurupan, datang-datang bilang jodoh- jodoh, apaan sih, nggak jelas banget?" tanya Audy.
"Dasar serigala betina... nggak lihat lo, gimana para laki-laki tadi merhatiin lo, sukses lo bikin mereka begitu terpesona sama penampilan lo!"
"Sumpah cantik banget lo hari ini cyinnn, baju lo seksi abis, asal lo tau ada yang merhatiin lo sampai kagak nengok, kalau lo lihat pasti dah koprol-koprol lo di perhatiin kayak gitu!" tambah Prilly
"Maksud lo siapa gaes? Btw makasih ya pujiannya ini tuh hasil karya Kakak Reno, dia yang minjemin gue baju ini dan make up in gue, juara emang kakak Reno," jawab Audy dengan binar bahagia.
"Wait, wait jadi lo udah sedeket itu sama si Reno? kok loe nggak cerita sih?" kesal Vina.
"Gue nggak sedeket itu juga, cuma kan sebeberapa minggu ini, gue intens latihan sama dia, kadang di studio beberapa kali juga di rumahnya, makanya aku kenal sama kakaknya."
"Jangan PHP ini anak orang lo, kena karma baru tau rasa lo," julid Prilly
"Ehh, ibu peri, siapa juga yang PHP in anak orang, gue sama Reno cuma murni temenan dan jadi deket pas latihan doang, nggak ada rasa lebih dari itu, beneran," elak Audy
"Itu kan menurut lo Au, kalau gue lihat si Reno bener-bener pakai perasaan saat nyanyi sama lo, lo tuh jadi orang nggak peka banget sihh Au, heran gue!" tambah Vina
"Masak sih Vin, perasaan biasa aja, dia juga nggak ngomng apa-apa sama gue? Beneran Prill? lo juga mikir gitu?"
"Audeh Auu, males ibu peri ngomong sama lo, otak lo doang pinter, perasaan lo mah jongkok, serah lo!" julid Prilly yang mengundang tawa mereka semua.
"Btw tadi kata lo ada yang merhatiin gue, siapa Vin?"
"Pasti lo nggak akan percaya Au, sepertinya pelet lo mulai bereaksi deh. Tuh buktinya Kak Aldi merhatiin lo dari tadi pas di panggung," terang Vina
"Halah nggak usah memperkeruh suasana lo, giliran gue udah belajar move on, udah ngiklasin dia sama pacarnya, sekarang lo ngomong gini, bisa runtuh nih pertahanan gue," panik Audy
"Ehh tuh Kak Aldi jalan kesini nggak sih, mau nyamperin lo apa cyin?" bisik Prilly pada mereka berdua.
"Jangan ngadi-ngadi deh ibu perii, palingan cuma lewat doang, nggak mungkinlah nyamperin gue."
"Hai, bisa pinjem Audy sebentar?" tanya Aldi pada Prilly dan Vina.
"Ada perlu apa ya kak?" tanya Audy, bahkan sebelum kedua teman - temannya buka suara.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu Audy, bisa ikut bentar nggak?"
"Sorry kak sepertinya sudah tidak ada yang perlu di bicarakan," terang Audy
Dia sudah membentengi diri untuk tidak akan luluh lagi dengan yang namanya Reinaldi.