Happy Reading. Malam itu menyisakan keindahan di tengah kelamnya hati Arabella. Angin yang berhembus lembut menerpa langsung ke permukaan wajahnya. Arabella merentangkan kedua tangannya, menikmati setiap sentuhan yang terjatuh di kulitnya. Dingin, sekujur tubuhnya mulai menggigil, tapi rasa dingin yang cukup menusuk itu sengaja di abaikan oleh Arabella. Hatinya masih teramat sakit, patah dan terluka parah. Semua air mata telah mengering di pipinya, hingga tak ada lagi yang bisa dilakukan Arabella selain merenung. Dia tampak seperti bermimpi di siang bolong, sekalinya terbangun langsung di tampar oleh kenyataan. Untuk pertama kalinya Arabella menyesal akan keputusannya sendiri. Dengan bodohnya dia malah menyerahkan hati sepenuhnya pada Lukas, hanya karena lelaki itu terlihat sangat mencint

