Pagi ini ia berangkat ke sekolah, tapi kali ini Papanya lah yang mengantar. Tadinya, ia tetap diajak untuk ke psikiater, tapi tak ia respon sama sekali. Toh, pemikirannya masih normal. "Pagi," sapanya pada Erika dan Ismi yang sudah ada di kelas. "Pagi," jawab Keduanya. Anggi menopang dagunya dengan kedua tangannya. Tentu saja itu mengundang kecurigaan Erika dan Ismi. Apalagi raut dan ekspressi wajahnya yang menambah rasa keinginan mereka untuk bertanya. "Lo kenapa?" Anggi menggeleng. "Serius? Yakin? Tapi gue nggak percaya," tambah Erika. Bukannya menjawab, Anggi malah langsung mewek nggak jelas. Tentu saja keduanya malah tambah bingung. "Ada masalah? Kalau ada, sama siapa?" "Sama Ivan?" "Atau Yoga?" "Iya, sama Yoga," jawabnya. "Dia kenapa? Masih bilang suka sama lo?" Anggi me

