PART : 1

1030 Words
Saat ini beberapa orang terlihat sangat panik dan cemas di depan pintu ruangan operasi. Siapa lagi mereka, kalau bukan keluarga dari Anggita Enjelis Chandra. Gadis yang saat ini sedang ditangani oleh tim dokter, setelah mengalami pendarahan di otaknya karena sebuah kecelakaan tunggal. Saat menunggu, waktu berjalan memang sangat lambat. Hingga beberapa saat kemudian, akhirnya pintu ruangan operasi dibuka dari arah dalam, diiringi oleh keluarnya seorang dokter. "Gimana keadaan anak kami, dok?" tanya salah satu dari mereka, yang ternyata adalah Adrian, Papa dari Anggi. "Alhamdulillah, operasi berhasil," jawab dokter. Tergurat senyum di wajah mereka masing-masing saat mendapat jawaban dari dokter. Perasaan was-was tadi, sekarang sudah mulai tenang. "Syukurlah," ucap Rita, mamanya. "Pasien akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap. Nanti, bisa ditemui di sana," terang dokter. Dua jam pasca operasi, mamanya masih setia menungguinya. Sedangkan papanya, pulang ke rumah untuk mengambil keperluannya. Berharap putri mereka bisa secepatnya siuman, agar hati mereka jadi lega seutuhnya. "Mama," lirih Anggi sedikit melakukan pergerakan di tubuhnya. "Sayang, kamu udah sadar?"  Ia berusaha membuka matanya, meskipun agak berat.   "Mama, aku dimana?" tanya Anggi masih dalam keadaan yang lemah. Ia merasa seluruh tubuhnya sakit saat digerakkan. "Kamu ada di rumah sakit, Sayang. Kamu kecelakaan." "Kepalaku sakit banget." Terlihat sekali dari wajahnya kalau ia memang sedang menahan rasa sakit.  "Sabar, ya. Kamu baru saja selesai operasi." Di saat yang bersamaan, dan di saat pandangannya masih belum jelas, ia bisa melihat seseorang yang berdiri di belakang mamanya, tapi ia bisa pastikan kalau itu bukanlah papanya. "Dia siapa, Ma?" tanya Anggi sambil menunjuk ke arah samping mamanya, membuat pandangan wanita paruh baya itu ikut mengarah kesana. "Siapa? Nggak ada siapa-siapa di sini, Nak. Cuman Mama," jelas Rita. "Tapi ..." "Sudah, sebaiknya kamu istirahat dulu. Kamu belum sepenuhnya pulih, dan masih berada dalam pengaruh obat bius." Anggi menuruti ucapan mamanya. Mungkin benar, itu hanyalah halusinasinya karena efek pembiusan. Beberapa jam ia tertidur, dan saat ia kembali bangun, pandangannya tertuju pada jam dinding yang menunjukkan pukul 8 malam. Pandangannya kembali mengarah pada seseorang yang saat ini sedang tiduran berbantal lengan di sampingnya. Mamanya? Bukan, ia yakin bukan Mama atau papanya. Ragu-ragu, tangannya ingin menyentuh sosok itu.  "Anggi, kamu udah bangun?" Mamanya tiba-tiba datang dari luar, membuat pandangannya yang tadinya berfokus pada sosok di sampingnya berpindah ke arah mamanya. "Ada apa?" "Dia siapa?" tanya Anggi menunjuk ke seseorang yang tadinya ada di sampingnya, tapi kini telah menghilang. "Siapa?" tanya mamanya heran. "Barusan ada cowok di sini, Ma. Lagi tiduran," terangnya. Mamanya semakin dibuat bingung. "Nggak ada siapa-siapa kok di sini. Papa sama Mama kan lagi di luar." "Aku nggak akan salah lihat, Ma. Barusan dia ada disini," tunjuk Anggi ke arah sampingnya. Kali ini bukan halusinasi lagi, karena ia merasa sudah sangat sadar sepenuhnya. Tapi, sosok apa itu? Apa, hantu? Entahlah. Semoga saja bukan hantu. Beberapa hari sejak kejadian itu, ia sangat susah untuk memejamkan matanya. Takut, saat bangun, sosok itu lagi yang ia lihat. Hingga mamanya meminta dokter untuk memberinya obat agar ia merasa sangat mengantuk dan tertidur. "Anggi, lo kenapa, sih. Gue liatin nih ya, semenjak sadar, tingkah lo jadi aneh," jelas Ismi, salah satu sahabat Anggi yang saat itu datang menemuinya. Dan kebetulan juga menjemputnya untuk pulang ke rumah. "Dan gue juga merasa seperti itu," tambah Erika menyetujui pernyataan Ismi. "Seperti apa?" tanya Ismi. "Ya, itu." "Itu, apa?" tanya Ismi lagi. "Serah Lo, yang jelas ya seperti itu. Titik!" "Padahal diakhiri dengan tanda seru, malah lo bilang titik," balas Ismi tak mau kalah debat. "Sstt ... bisa diem, nggak? Pusing, nih pala gue dengerin perdebatan unfaedah kalian berdua,'' kesal Anggi. "Oke. Maaf. Jadi, apa yang terjadi?" "Gini. Pas waktu pertama kali sadar, gue lihat ada cowok yang berdiri di samping Mama. Pas tanya sama Mama, eh, katanya nggak ada siapa-siapa di sana. Okelah, mungkin saat itu gue masih belum sepenuhnya sadar. Nah, malamnya gue liat lagi dia tidur di sini. Dan kalian tau apa yang terjadi?" "Enggak. Kan lo belum bilang," jawab Ismi. "Bagus, gue suka jawaban lo." "Dan yang terjadi?" tanya Erika masih menunggu kelanjutan cerita Anggi. "Saat gue mau menyentuh dia, tiba-tiba Mama datang. Cuman beberapa detik gue ngalihin pandangan ke arah Mama, tapi sosok itu ngilang entah kemana." "Jangan-jangan itu ..." "Hantu penunggu rumah sakit ini," sambung Erika melanjutkan omongan Ismi. "Hush ... jangan ngomongin hantu." Tiba-tiba pisau yang biasa digunakan untuk mengupas buah berada di nakas, jatuh ke lantai dengan sendirinya. Tentu saja mereka bertiga langsung kaget sambil memasang wajah tegang. "Loh, kok pisaunya bisa jatuh sendiri?" tanya Erika. "Tuh, kan, ngomongin hantu mulu, sih lo pada. Beneran datang tuh, hantunya," ujar Anggi yang merasa bulu kuduknya seolah meremang. Ia merasa ada hembusan nafas yang menerpa lehernya. "Hwaaa ... gue takut," rengek Erika. 'Ceklek' Disaat posisi mereka lagi tegang, tiba-tiba suara pintu dibuka dari arah luar, langsung itu sukses membuat mereka bertiga kaget.  "Kyaaaa!!!" teriak ketiganya histeris. "Heii ... kenapa kalian teriak-teriak. Ini rumah sakit, buka konser. Ternyata, yang datang adalah orang tuanya Anggi. "Aduh, Tante sama Om ngagetin kita aja, nih," ujar Ismi sambil menetralkan degupan jantungnya. "Kaget kenapa? Memangnya Tante, hantu?" "Nah, itu," balas Ismi dan Erika barengan. "Udah, Ma. Jangan ngomongin hantu terus. Mending kita segera cus dari tempat yang sangat mengerikan ini." Anggi langsung bangkit dari duduknya, ia merasa sangat bersemangat untuk pulang. Ia tak ingin lama-lama berurusan sama yang namanya hantu. Sebelum keluar dari ruangan rawatnya, Anggi masih sempat-sempatnya melihat sosok itu. Ia keluar dari ruangannya tanpa membuka pintu alias menembus tembok. Rasanya ia ingin pingsan saat itu juga. Tapi tidak, ia lebih ingin pulang. "Ayo, kita pulang sekarang!" Anggi langsung menarik kedua tangan sahabatnya untuk keluar dari ruangan itu. Orang tuanya saja jadi keheranan dibuatnya. 20 menit perjalanan, akhirnya ia sampai di kediamannya. Lega rasanya kembali ke kamar yang sangat ia rindukan. "Huftt ... akhirnya, nggak ada yang namanya hantu lagi," gumamnya bernapas lega. "Jangan nyebut hantu lagi," ingatkan Erika pada Anggi. "Lo mau, orangnya ngikutin sampe kesini?" "Hantu, Ismi. Bukan orang," terang Erika. "Ralat. Maksud gue, orang yang udah meninggal, dia bergentayangan jadinya, hantu. Begitu kan?" "Nah, bener." Tiba-tiba angin berhembus cukup kuat, membuat jendela kamar  terhempas ke dinding, menimbulkan suara yang cukup membuat mereka bertiga kaget. Prankkkk!!!! "Nggi, kayaknya situasi disini udah kayak di rumah sakit tadi deh," ucap Ismi takut-takut. "Ho'oh, nakutin." "Kita pulang, yok," ajak Erika pada Ismi yang langsung ia angguki. "Eh, jangan tinggalin gue!" "Bye, Beb," ucap Mereka berdua langsung kabur dari kamar Anggi. Sekarang ia tinggal sendirian di kamar. Takut? Oh, jangan ditanya lagi. Takut sangat. "Oke, Anggi. Ini cuman halusinasi saja. Tidur, dan abaikan yang barusan terjadi," gumamnya berusaha menenangkan hatinya yang sudah gemetar tak karuan. Awalnya matanya masih melek, takut kalau benar-benar ada hantu. Hingga ia merasa sangat mengantuk dan rasa itu tak bisa ia tahan lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD