Love At The First Sight

836 Words

Andara Gabriella Dominique, wanita yang biasa dipanggil Dara itu adalah wanita lajang berusia dua puluh delapan tahun yang manja. Si genius yang tak terlihat dari penampilan luarnya yang terkesan centil. Ia menyelesaikan masa SMA di usia enam belas.

Parasnya cantik. Rambut lurus sepunggung berwarna coklat dengan poni yang menutupi kening, mata bulat bagai boneka, bulu mata lentik dan tebal, hidung kecil mancung, bibir mungil dan lesung pipi yang menghiasi pipi mulusnya saat tersenyum.Walaupun usianya tidak muda lagi, tetapi ia memiliki wajah yang terlihat bagaikan seorang remaja. Baby face.

Bukan wajah cantik itu yang menyebabkannya tidak memiliki pasangan hidup dan bukan karna ia adalah seorang wanita dingin. Dara itu ramah, baik, dan sedikit lemot. Akan tetapi, bukan karena kelemotannya ia dihindari kaum adam. Ia sempat menjalin kasih beberapa kali, tapi hubungan itu tidak pernah bertahan lama, selalu kandas di tengah jalan tanpa sebab jelas.

Kisah cinta yang selalu kandas di tengah jalan itu, tidak pernah membuatnya trauma memulai hubungan baru. Dara bagaikan sang Arjuna mencari cinta, ia tidak pernah menyerah mendapatkan lelaki yang menjadi targetnya. Tidak ada kata mundur bagi Dara sebelum mendapatkan pujaan hatinya.

Gugur satu, tumbuh seribu, itulah perkataan yang selalu dipegang kuat olehnya. Ia tidak punya waktu untuk patah hati, terlalu sering tersakiti membuat hatinya kebal saat mengalami sakit yang menyiksa. Bagi Dara, lelaki hanyalah sekedar teman yang akan menghapus kesepiannya. Setidaknya ia tak harus tenggelam dalam sepi di usia yang tak muda lagi.

Dara tak pernah pusing atau merasa berlomba dengan waktu untuk segera mendapatkan pasangan hidup. Ia menjalani hidupnya dengan sangat santai. Ia hanya memiliki seorang ayah yang tak pernah memaksanya segera membina rumah tangga. Para sahabatnya pun banyak yang belum menikah di usia yang sudah menginjak angka tiga. Keadaan sekitar yang tidak memberikan tekanan apa pun semakin membuatnya menikmati masa melajangnya.

Dara tahu, bahwa ia membutuhkan seorang lelaki untuk menemaninya di masa tua nanti, tidak ada seorang wanita pun di dunia yang sanggup hidup sendiri, bukan? Karena itulah ia masih setia mengejar dan mencari cintanya. Ia yakin, bahwa suatu saat nanti ia akan bertemu dengan jodohnya. Lelaki yang akan mencintai dan tidak akan menyakitinya lagi.

***

Kata orang, cinta datang secara tiba-tiba, tanpa alasan, dan juga jejak. Saat sadar, tahu-tahu kita telah terjebak di dalam jeratannya. Tak mampu lepas, walau kita memberontak.

Apakah kalian percaya cinta pada pandangan pertama? Dara bukanlah wanita melankolis yang percaya dengan mitos itu. Penampilan luar seseorang tidak pernah menjadi alasannya jatuh cinta. Don’t judge a book by it’s cover.

Cinta pada pandangan pertama adalah satu dari banyaknya awal sebuah kisah cinta. Bagi Dara, cara itu adalah adalah omong kosong. Bukan cinta, melainkan ketertarikan fisik belaka. Cinta dan tertarik itu sangat berbeda, bukan?

Dara melangkahkan kaki memasuki pasar swalayan, layaknya wanita sukses yang masih lajang pada umumnya, ia tidak lelah menebar  pesona kepada setiap lelaki tampan yang di jumpainya. Tidak, Dara bukanlah wanita genit, ia hanya ingin mencari yang terbaik untuk menjadi pasangan hidupnya.

Beberapa pandang mata lelaki tertuju kepadanya, Dara yang sadar akan tatapan memuja itu hanya bisa berjalan anggun, mencoba mengabaikan pandangan para lelaki itu. Tidak ada satupun dari lelaki itu yang menarik minatnya.

Berkeliling sendiri seperti saat ini sudah menjadi kebiasaannya. Semua sahabatnya adalah orang sibuk yang tidak mungkin selalu menemani. Keadaan mereka saat ini sangat berbeda dari masa SMA dulu. Kesibukan seakan menjadi alasan utama dalam kedewasaan, tahap yang tanpa mereka sadari telah membuat jarak terbentang luas di antara mereka. Walaupun jarak seakan memisahkan, tetapi ia dan para sahabatnya masih sering berhubungan. Walau bagaimanapun persahabatan tidak akan pernah putus.

Bukk

Dara mengelus bokongnya yang berhasil mendarat mulus di lantai. Ia meringis kesakitan. Terlalu banyak melamun saat berjalan selalu membuatnya menabrak sesuatu, bahkan seseorang. Dara mengalihkan pandangan pada benda ataupun orang yang ditabraknya dan seketika mulutnya ternganga dengan tidak anggun saat melihat lelaki yang tengah berdiri di hadapannya. Lelaki itu mengulurkan tangan pada Dara. Entah mengapa, lelaki itu terlihat bersinar di mata Dara, seakan menyihir dan membuatnya terpaku pada tempatnya.

Lelaki itu memiliki rambut lurus berwarna coklat, warna yang terlihat alami dan bukan hasil dari pewarna. Rambut lelaki itu agak panjang dan bergaya K-pop zaman sekarang, mata tajam, rahang tegas, alis tebal dan tidak beraturan, hidung mancung, dan bibir yang sedikit tebal. Dara mengigit bibir bawahnya saat pandangan matanya jatuh pada bibir yang sangat memikat itu.

“Kamu mau aku bantuin berdiri apa nggak ya?” terdengar nada tidak suka dari lelaki di hadapannya. Dara menyambut tangan lelaki itu dan tersenyum semanis mungkin.

“Makasih dan maaf.”

Lelaki itu tersenyum tipis dan berjalan meninggalkan Dara. Dengan langkah lebar, Dara mengikuti lelaki itu. Dalam sekejap hasrat berbelanjanya hilang entah kemana. Lelaki itu tampak lebih menarik dibandingkan barang bermerek yang ingin dibelinya.

I was enchanted to meet you

Hati Dara berbunga-bunga. Ketertarikan pada padangan pertama, bukan cinta. Setidaknya itulah yang Dara yakini. Ia meraih ponsel dan menghubungi sekertarisnya. “Batalkan semua meeting saya hari ini. Saya nggak bisa balik ke kantor.”

“Tapi, Bu. Ada hal penting yang harus ibu tangani hari ini.” terdengar suara panik di seberang sana. Dara mendengkus kesal. Tak peduli.

“Nggak ada yang lebih penting dari kesehatan jantung saya.”

“Hah? Ibu sakit jantung?”wanita itu tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Dara menepuk kening dan segera memutuskan panggilan telpon yang membuat kepalanya sakit.

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd