Masih di ruang 3 Anak

1641 Words
Beberapa hari sudah kami dinas di ruang 3 Anak ini. Tiap hari juga aku dan Tria slalu pergi dinas bersama. Juga masih dengan jadwal kuliah pagi yang tak pernah terlewatkan sebelum kami pergi dinas di siang harinya. "Buk, dah siap laporanmu?" Tanya Tria. "Belum. Gak ngerti aku cara ngisi laporannya buk, cemana itu? Punyamu dah kau isi?" Tanyaku balik. "Aku pun belom lah. Nanti aku mau nanya sama kakak ku ajalah buk". Jawabannya. Kakak disini itu kamsudnya bukan kakak kita sendiri weee... Kakak yang dimaksud si Tria tadi kakak angkat. Yaaa kami masing-masing tiap 1 orang di kampus pasti punya 1 kakak angkat, kakak_an 1 tingkat diatas kami sih tepatnya. Dan kayaknya udah memang peraturannya gitu atau memang dah jadi kayak apa yaaa di bilang tradisi juga gak cucok, tapi kayak emang dah jadi kebiasaan turun-temurun aja tiap anak baru pasti nanti ditunjuk salah 1 kakak tingkatnya jadi kakak angkatnya. Maksudnya disini mungkin supaya para anak baru bisa ada yang ditanyain tentang pelajaran misalnya, atau tentang apapun itu yang dirasanya kurang faham dari kampus. Karna kan si kakak_an itu sudah pasti lebih tau dan lebih pengalaman kayak misal dinas lapangan, pokoknya bisa jadi panduan aja gitu tuk kami para adik_an yang belom ngerti. Aku pribadi juga termasuk sering menghubungi kakak angkat ku. Semisal bahan kuliah atau buku yang jadi referensi tuk kuliah aku gak punya, jadinya yaaa ngubungi kakak angkat ku karna dia pasti punya. Kesannya kok kayak pas butuh aja yaaa aku baru ngubungi. Jiaaaaaahh hahaha... Sebenarnya sih dah jadi rahasia umum bagi kami yang pada saat kuliah aja tatap muka, karna kami kan tinggal masing-masing pribadi, bukan di asrama. Ada sih asrama kampus, tapi itu bagi kakak-kakak yang sudah tingkat 2 dan mempunyai prestasi yang bagus juga. Katanya itu termasuk syarat supaya bisa masuk asrama, aku sih gak tau. Aku cuma dengar-dengar cerita doaannnggg. Beda mungkin ya kalo' yang tinggalnya 1 atap atau asrama gitu, kayak Akper-akper yang lain. Aku liat mereka lebih solid pertemanannya, dan lebih hormat ke kakak angkat atau tingkatnya. Pergi dinas rombongan naek bus. Pulang dinas juga tunggu-tungguan tuh kalo' ada kawannya yang belom nongol. Sampek di absenin mungkin yaaa satu-persatu biar gak ketinggalan rombongan bus. Beda sama kami yang kuliahnya kayak kuliah umum biasa. Pakek baju pun bebas, asalkan sopan. Baju dinas di pakeknya kalo' mau dinas aja, hari-hari biasa kuliah bebaasss. Makanya kalo' pas waktunya dinas lapangan slalu ditanyain "Klen baju baru ya? Kok bajunya masih putih bersih?". Ya iyalah putih bersih, jarang dipakek. Hahaha... Pergi dinas juga bebas, mau naek angkot boleh, mau bawa kendaraan pribadi pun boleh, atau kalo' ada yang sanggup jalan kaki juga boleh. Hay haaayyyyy... Pernah sampek ditanya sama kakak pegawai "Mana kawanmu dek? Kok bisalah klen beda sampeknya? Nyangkut dimana kawanmu itu? Kau bisanya sampek tepat waktu, napa kawanmu bisa lambat?" Aku cuma bilang "Gak tau kak. Kami piginya masing-masing kak, gak barengan". Malah bingung kakak pegawainya. "Kok masing-masing pulak klen piginya? Apa gak naek bus klen?" Tanyanya lagi penapsaran. "Kami gak ada disediakan bus kak. Jadi berangkatnya sendiri-sendiri" Jawabku. " Loh, klen gak tinggal sama rupanya kayak yang lain? Gak tinggal 1 asrama rupanya klen? Masih penapsaran rupanya kakak ini. Hahaha... "Gak kak, kami tinggal sendiri-sendiri. Ada yang tinggal sama orang tua, ada juga yang tinggal di kos-kosan" Terangku. "Oooohhhh... Baru tau aku. Jadi pas masuk kuliah ajalah klen baru jumpa ya?" Besar kali rasa penasaran kakak ini rupanya. "Iya kak" Jawabku singkat. Dengan bibir yang dimonyong-monyongkan berbentuk hurup O dan sambil manggut-manggut akhirnya terjawab sudah rasa penasaran si kakak ini. Hehehe... Eeehhhh... kok jadi ngalorr ngidull kemana-mana gini ceritaku? Ck...ck..ck.. Emang kalo' dasarnya tukang cerita dah panjang kali lebar pun yang diceritakan gakkan berasa itu, kayak air mengalir aja gitu, gak putus-putus. Karna adek gakkan kuat bang kalo' Abang putusin. Ceileeeee... Back to the topik again. Aku dan Tria masih bingung ini cara ngisi laporannya gimana kan tadi? Tapi katanya "Kita coba ajalah dulu yok buk, nanya sama kakak-kakak itu. Kan orang itu dah ambil profesi, pasti pernah lah ngisi kayak ginian". "Ayoklah. Manatau kan sekalian dibantuin kakak itu kita kan Tri? Jadinya lebih paham" Usulku. Kami pun mencoba bertanya dan meminta penjelasan si kakak_an kami itu. Mudah-mudahan lagi bagus moodd kakak itu, jadi lebih santai kayak di pantai membahasnya. Gak ngegas kayak pertama kali kami perkenalan waktu itu. Alhamdulillah si kakak lagi baik hati dan baik budi kayaknya weee... Buktinya sabar kali dia ngajarin kami yang gak paham-paham ini. Hahaha... Dengan telaten dijelaskannya satu-persatu apa-apa saja yang harus diisi dalam tiap kolomm tugas, dan bagaimana caranya membuat laporan yang bisa dipahami dosen, walaupun pakek bahasa kita sendiri bukan bahasa buku. Legaaa... 1 masalah dah selesai. Tinggal kami mencari melalui internet ataupun buku tentang kasus apa yang mau kami ambil. Jangan dikira pak polisi aja yeee yang nangani kasus-kasus, kami anak kesehatan juga nangani kasus looohhhh. Tapi beda kasus y pak, hihihi... Kalo pakpol kan kasus kriminal, haaa kalo' kami kasus penyakit pasien. Disini nanti kami diminta untuk ambil 1 kasus dari seorang pasien yang kami tangani. Mulai dari si pasiennya sakit apa, itu nanti kami jabarkan lagi lebih mendetail apa sebab akibatnya dari penyakit yang diderita si pasien. Pokoknya harus tau sedetail-detailnya apapun itu yang bersangkutan dengan kasus yang kami ambil nanti. Karna itu bakal diminta pertanggungjawabannya oleh dosen yang bersangkutan. Kalo' dapat dosen yang baik hatinya, suka senyum dan rajin menabung (mungkin), bakal diarahkan lagi kalo' ada yang keliru dari yang kami jabarkan. Tapi kalo' dapat rezekinya dosen yang killer, weleh weleeeehhhh salah dikiiiitttt aja itu panjang kali lebar dapat ceramahnya, ngalahin ustadz kondang lah. Itu yang dikit aja nasibnya berasa diujung tanduk, gimana yang salahnya buanyaaakkk??? Melayang tuh buku tanpa pakek sayap. Sadisss Prokk..prokk..prokkk... Yang gak enak lagi disaat lagi belehaa-lehaa ini kan, apalagi ada yang tidur namanya siang hari itukan waktunya merebahkan tubuh yang lelah letih dan mengantuk. Ujug-ujug nongol tuh dosen, apa gak kalang kabut awak. Belum ngomong aja tuh dosen berasa sekarat dah, jantung ini berdebar-debar kayak bom waktu yang seakan-akan siap meleduk. Belum tatapan matanya yang berasa menusuk masuk ke dalam bola mata yang hampir bolongg. Ya Allah ampuni dosaku... Selamat kan hamba ya Rabb Cuma itu yang terlintas dalam benak ku. Hihihi... Baru dinas beberapa hari rasanya dah kayak orang sekarat cuuuuyyyy... Pagi kuliah, siang langsung besiap pergi dinas. Kadang makan aja yang penting ke telen tuh nasi. Kalo' gak sempat makan, paksa deh nyemilin roti dulu sambil duduk anteng dalam angkot. Mungkin karna waktunya yang mepet-mepett gitu kali yaaa jadi berasa lebih capeknya. Kayak gak ada istirahatnya. Apalagi ini dinas pertama kami ke lapangan, jadi masih menyesuaikan diri juga mungkin. Ini masih praktek lapangan looohhhh... Masa' dah kendorr lesu gak jelas gini siiihhhh... Ayo-ayo cemungut bestaaiii. Katanya mau mengabdikan diri tuk kesejahteraan dan kesehatan masyarakat. Kalo' kendorr gini gimana kedepannya looohhhh. Haaahhh... Ternyata yang berat bukan rindunya Dilan saja bestaaiii, tapi menjadi seorang perawat yang baik dan sanggup mengabdikan diri pada masyarakat juga berat sekali bestyyyy. Aku mah apa atuhh Memang benar adanya, apa yang kita hayalkan dan harapkan kadang tak suai dengan realitaa yang ada. Masih masa-masa sekolah tuh kan, ditanyain "Apa cita-citamu nanti Nak ku, setelah kau dewasa?". Dengan semangat 45 yang membara jawaban yang bersahut-sahutan pun terlontar. "Jadi polisi pak". "Jadi dokter buk". "Jadi tentara pak". "Jadi guru buk". Pasti waktu itu kita mengucapkannya sambil berkhayal sedang memakai baju dinas, yang sudah pasti keren dan dipandang waaaahhhhh oleh orang-orang. Padahal nyatanya dengan peluh bercampur airmata kita menggapainya. Yang sabar dan terus berjuang bakal meraih apa yang diidam-idamkannya. Tapi bagi siapa yang terlanjur letih ditengah jalan, hanya bersiap angkat tangan lambaikan ke kamera, "Aku gak kuat maaaakkkk". Ada juga sebagian orang yang menjalaninya dengan pasrahh saja. Hanya mengharapkan kemurahan hati dosen yang bersangkutan, agar meluluskan dirinya walaupun dengan nilai yang pas-pasan. "Tri, ayok pulang. Dah jam 8 looohhhh" Ajakku. "Looohhhh... Gak berasa ya buk dah malam aja" Jawabnya sambil cengengesan. "Mbah mu lah gak berasa. Yang dari tadi liatin jam ku sapa coba? Hantu? Berarti kaulah hantunya" Hahaha... "Gak usah cerita gitu kau buk. Ingat kita masih di rumah sakit ini. Nanti kau sebut gitu tiba-tiba muncul pula dia. Tuingg... Tekejot bathin kau, megap-megap, abis tu sak nafas. Gak lama kau pun bekawan samanya" Repetnya. "Do'a kau lah Tri. Gak ada yang bagusan dikit gitu? Seneng kau ya liat aku menggelepar-menggelepar gitu kayak ikan keabisan air?" Sungutku. "Ya kau pulaknya, ntah hapa ngomong kekgitu. Aku kan spontan aja ngucap, apa yang terpikirkan olehku langsung mengalir aja gitu kayak sungai Nil yang panjangnya gak bisa kau ukur pakek rol penggaris punyamu itu" Jawabnya dengan wajah songonggnya itu. Ini anak ngomong panjang gitu gak pakek rem apa gak sesak nafasnya ya??? Atau jangan-jangan lupa tadi dia bernafas makanya lancar kali ngomongnya. Sambil menengadahkan tangan naik turun didepan wajahnya ku ucapkan, "Tarik nafaaasss... Buang. Yok-yok sekali lagi, tarek nafaaasss... Buang". Tanganku langsung ditampol weee... Merepet dia "Yang kau kiranya aku mau melahirkan, kau suruh tarek-tarek nafas gitu. Yang ada kentutku nanti keluar, mau kau yaaa?" "Ogah!!! Kau bayar pun aku 1 M gak kan mau aku ngirup kentut kau, bisa mati sesak nafas aku lah kau bikin nanti" Omelku. "Makanya, gak usah bertingkah kau jadi orang. Dah lah yok pulang kita. Asik merepeeettt aja kau dari tadi, gak pulang-pulang nanti kita" Enak kaliiii lah si kawan ini ngomong, kan yang merepet luan dia, kok malah aku pulak seolah-olah yang memulai. Aaahhh dah lah, diem ajalah aku. Betol juga katanya gak siap-siap nanti betekaknya kami. Malam makin larut, gak dapat angkot pulak nanti kami jadinya. "Dah lah yok pulang kita. Besok aja kita sambung lagi betekaknya" Ujarku sambil senyum-senyum Gaje (gak jolass). Hahaha... "Gilaa kau yaaa" Jawabnya sambil tertawa. "Gilak pun tetap kawan kau kan?" Ujarku ikut tertawa. "Wiiiiiisssss.... Ogah" Ringisnya sambil berlalu dari hadapan ku. Ku kejar dia dan kurangkul lehernya. Sejenak kami berhenti di depan Nurse station tuk absen pulang, sambil permisi kepada para kakak pegawai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD