Chapter 11 - Husbu! [2]

1166 Words
**** Jam yang ditunggu-tunggu telah tiba. Setelah otak dipaksa mengalirkan aliran listrik sebagai materi fisika hari ini, akhirnya Shella bisa menetralisirnya dengan sekotak s**u coklat, sebungkus wafer keju, dan tentu saja, sekotak bekal makan dari buah tangan ibunya. Seperti biasa, makan siang dihiasi oelh pemandangan dua teman di dekatnya—Alif dan Ami. Kotak bekal dan jajanan, serta minuman turut memenuhi meja tempat ketiga orang itu makan. Ditambah handphone Shella dan Alif yang tengah dipakai untuk grinding item level up bersama. “Lif, lu udah berapa kali grinding?” “Hmm…entah.” Alif mengangkat bahu. “Baru sepuluh kali, kayaknya.” “What!?” Shella yang tadinya mau melahap wafer kejunya terhenti. “Baru sepuluh kali!? Baru!?” Shella menekankan satu kata yang menurutnya benar-benar menjengkelkan. “Sepuluh kali itu bukan baru, Lif!” “Itu baru namanya. Lu aja yang mainnya lama jadi nggak bisa lebih dari sepuluh. Lima aja nggak.” “Tapi, sepuluh itu udah banyaaak!” Shella tetap menyanggah. “Lu aja yang nggak bisa tiga turn. Dasar Master lemah.” Oke, kini gadis itu benar-benar kesal. Alifian benar-benar mengejeknya! Mentang-mentang dia bisa tiga turn sampai sepuluh kali grinding, seenaknya memanggillnya Master lemah! “Gua nggak lemah—” Alif memotong perkataan Shella. “Servant bintang lima, SSR, banyak tapi nggak keurus; skill servant belum ada yang 10/10/10; belum ada yang max. grail…” Ugh! “…berapa banyak lagi fakta yang harus gua sebutin kalau lu itu Master yang lemah?” “Oke udah cukup!” Shella mengangkat telapak tangannya di depan wajah Alif yang ada di seberang tempat duduknya. “Udah, cukup. Tutup mulutmu, s****n!” ucapnya emosi. “Astaghfirullah. Kasar.” Shella memutar kepala ke belakang. Terkejut dengan suara yang tiba-tiba melintas di telinganya. “Rama, ngagetin!” seru Shella emosi. “Kau bisa nggak sih nggak tiba-tiba ngomonng kayak hantu gitu? Dari belakang pula!” “Saya bukan hantu. Saya manusia.” Shella mulai geram, namun ditahannya. Gadis itu sadar tak  ada gunanya jika berdebat dengan anak menyebalkan itu sekarang, yang ada energinya hnaya akan terbuang dengan sia-sia. Lebih baik dirinya menikmati sisa wafer kejunya sambil menyaksikan ketiga servant-nya yang tengah mengeluarkan jurus—atau istilahnya noble phantasm—secara beruntun. Namun, sesuatu tiba-tiba melintas di kepala Shella. Membuat gadis itu terpaksa mengangkat kepala, dan mengalihkan pandangan dari ponsel ke pemuda yang sudah duduk di samping Alif. “Oh, iya! Rama! Minta anime!” Ami yang duduk di sebelah Shella tersenyum penuh prihatin. Ni anak nggak ada kapok-kapoknya, ya, pikirnya. “Boleh.” Jawaban tak terduga keluar dari mulut pemuda itu. Kedua bola mata Shella langsung berbinar dengan senyum lebar merekah di wajah yang terlihat lebih cerah. Namun, tiba-tiba Rico mengadahkan tangannya di depan Shella. Membuat sang gadis memasang tampang kebingungan. “Mana uangnya?” “Hah!?” “Ada uang ada barang. Sama anime yang kemarin-kemarin kamu belum bayar,” ucap Rama dengan tatapan datar. “Satu anime 50 ribu.” “Ha!? Apa-apaan itu!? Nggak ada bayar-bayaran! Gratis!” “Kemarin kamu minta tiga anime. Lima puluh dikali tiga jadi seratus lima puluh ribu—” “Dengerin kalau orang lagi ngomong Rama! Pokoknya gratis!” Aksi pengemisan anime itu terus berlangsung hingga sepuluh menit lamanya. Rama masih keras kepala untuk mengabulkan keinginan Shella. Sang gadis juga pantang menyerah untuk mendapatkan asupan setelah semua anime yang ada di laptopnya habis dimakan. “Rama! Flashdisk-ku masih di kau, kan? Pokoknya besok udah ada, ya Fate/Stay Night : UBW-nya! Nggak mau tahu!” kata Shella memaksa. “Ya udah saya juga nggak mau tahu.” “Ramaaaaa!!!” “Lagian buat apa, sih? Anda nonton Fate mau seberapa banyak apapun juga, tetep aja akhirnya Gilgamesh mah bakalan mati.” Shella ter-trigger. Darahnya mengalir deras, dadanya naik turun, dengan rahang yang mengeras. Mata coklat itu membelalak lebar ke arah pemuda yang tanpa rasa bersalah, melihat watados—wajah tanpa dosanya itu benar-benar membuat tangan Shella gatal untuk melayangkan kepalan tangan ke sana. Dasar kuranng ajar! Padahal Shella sudah hampir melupakan soal kematian husbu-nya itu! “Diam nggak kau, Rama!?” “Nggak.” Oke. Shella sudah tak tahan. Botol Tupperware miliknya dicengkram dengan kuat. Dibukanya tutup itu dan hendak memberi sedikit kesegaran pada pemuda di depannya. “Shel. Jangan!” “Nggak! Lepasin, Mi! Gua harus ngajarin ni anak gimana caranya berempati saat orang lain lagi sedih!” Shella meronta berusaha melepaskan tubuh yang diitahan oleh Ami di sampingnya. “Dahlah. Terima aja kalau kamu emang nggak akan bisa punya husbu yang nggak mati, Wibu-san.” Perempatan membesar. “Jangan panggil gua, Wibu-san! Dan, berhenti senyum kayak gitu, s****n!” “Shellaa, udaah!” Rama semakin melebarkan senyum mengejeknya. Gadis yang sudah terlalu gedeg dengan anak itu tak henti-hentu meronta meminta dilepaskan oleh temannya. Ami berusaha keras menahan perlawanan gadis itu sambil menghindari pukulan-pukulan nyasar dari Shella. “Rama, mending kamu pergi deh dari sini.” “Memang saya mau pergi. Malas diam di sini mah. Apalagi ngedengerin cewek yang nangisin husbu-nya yang koid.” “RAAMAA!! HEH! JANGAN KABUR KAU s****n! RAMAAA!!” Shella berteriak. “Ami! Kenapa kau suruh tuh anak pergi!? Aku jadi nggak bisa ngehajar dia! Kau tahu sendiri ‘kan, kalau di kelas nggak aka nada waktu buat ngamuk ke—Mphh!?” “Shella. Udah.” Shella menggembungkan pipi tembamnya. “Hei, Shel. Nggak ada gunanya lu ngamuk ke Rama. Lu harusnya tahu sendiri, ‘kan?” “Ya, tapi—“ “Daripada itu, gua mau ngasih tahu lu. Minggu nanti ada event di Univ yang ada di jalan Cikutra. Lu mau datang kagak?” tutur Alif sambil menunjukkan poster yang ada di ponselnya. “Oooh!! Gratis!?” Shella berseru antusias. Alif mengangguk menjawabnya. “Gua mau datang ke sana. Kalau mau ketemuan ayo di TKP.” Waah!! Boleh-boleh!” Shella berbinar-binar menghadap Ami. “Ami! Temenin aku ke sana yuk! Ajak Rahma sama Asti aja sekalian kalau mereka mau. Ya! Ya!?” Sang gadis mencengkram erat tangan gadis tomboi itu. Tenaga dari semangatnya yang berapi-api cukup membuat Ami meringis karena genggaman pada tangannya. “I—Iya, iya! Ini … lepasin dulu tanganku, Shel. Sakit!” “Ah—Oh! Maaf.” Shella nyengir. “Ya udah. Hari minggu, di Univ itu. Nanti calling-calling lagi aja, ya! Alif juga!” Kedua orang itu mengangguk bersamaan. Shella kemudian mengajak mereka untuk kembali ke kelas, karena pelajaran akan kembali dimulai. Masih lama untuk menuju jam pulang, tapi apalah daya, ketiga insan itu harus kembali ke ruangan pengap untuk bertemu orang yang lebih tua dari mereka—yang dengan tangan terbuka berbagi ilmu kepada anak didiknya. Shella melangkah dengan senang. Sudah lama ia tak pergi ke event-event Jepang dan berburu aksesoris-aksesoris husbando miliknya, cuci mata melihat cogan dan cosplayer-cosplayer, juga—Oh! Mungkin Shella juga bisa mencari catalyst—gantungan kunci atau sejenisnya, yang dipercaya bisa meningkatkan luck di FGO saat gacha karakter yang sama dengan catalyst. Memikirkan hal itu Shella semakin tak sabar. Hari minggu, tunggulah aku datang!  *****              
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD