Setelah kejadian itu, Fanya kini sedang menjadi topik hangat bagi seluruh siswa sekolah. Tak jarang ada yang melontarkan kata-k********r dan membully nya di sosmed yang kebanyakan menggunakan akun palsu.
Setelah peristiwa itu terjadi, perasaan Fanya awalnya kesal, dan geram. Tapi lambat laun ia mulai sudah terbiasa menjalani hidup seperti ini.
"Fanya lo masih sakit hati?"
Fanya tersenyum simpul. "Engga kok, lagi pula hidup ini berputar dan roda kehidupan gak selalu diatas. Mungkin nanti juga ada balasan nya buat si kunyuk itu!" Suara Fanya pelan namun penuh penekanan.
"Jangan panggil Ka Devan kunyuk dong. Dia kan Manu Rios tau."
Pletakk
Fanya menjitak kepala Nada keras.
"Aww, sakit oon." Ringis Nada.
"Lagian lo ngeselin banget. Bela aja terus kunyuk lo itu!" Timpal Fanya.
Yang di jitak hanya cengengesan tak jelas.
"Ahhh, makin sayang sama Fanya nya gue." Nada memeluk Fanya erat sambil menggoyangkan tubuh Fanya yang sudah ada di pelukannya itu.
"Nada Aurellia!! Lepasin!!"
"Gak mauu"
"Gue nikahin lo sama monyet dora sekarang juga!!" Ancam Fanya konyol.
Nada melepaskan pelukannya, dan beralih menatap Fanya.
"Lo lupa? Gue kan calon pengantin goblin. Mana mau gue di nikahin sama monyet dora." Elak Nada dengan polosnya.
"TERSERA..HH" balas Fanya yang sengaja membuka mulutnya lebar-lebar pada akhir kata, sehingga menimbulkan adanya hujan lokal yang keluar dari mulut Fanya.
"Fanyaaa mulut lo bau banget!" Nada menjepit hidungnya dengan jari jempol dan telunjuknya itu.
*********
Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaring. Menimbulkan suara riuh para siswa untuk sesegera mungkin pergi meninggalkan sekolahnya itu.
Lain halnya dengan Fanya, gadis itu tak ingin buru-buru keluar kelasnya karena ia malas ikut berdesakan dengan siswa siswi lainnya yang tak sabaran ingin pulang. Yang Fanya lakukan hanya tetap duduk di bangkunya sampai semua siswa sudah benar-benar keluar.
Pas sekali dugaannya 20 menit setelah bel pulang berbunyi, sekolah seolah-olah sudah seperti tak berpenghuni saja. Hanya ada segelintir orang-orang yang ia tak kenali. Nada juga tak ada disampingnya, karena dia harus pulang secepatnya untuk menjemput kedatangan Kaka nya di bandara.
Fanya pun berjalan sendiri sambil mendengar lantunan musik yang ia setel di handphone nya menggunakan earphone berwarna biru langit yang sudah ia pasang di kedua telinganya itu.
Jalannya terhenti saat seseorang sudah ada di hadapannya, orang tersebut menempelkan tangan kanannya di tembok dan kaki nya ia lebarkan, bermaksud untuk menghalangi Fanya.
Fanya berhenti sebentar menatap dengan lekat dan penuh kebencian terhadap lelaki yang sudah berada dihadapannya. Tanpa melepaskan earphone di telinganya.
"Minggir!" Ucap Fanya sambil mendorong d**a bidang Devan.
Tapi sia-sia saja Fanya mendorong Devan, lelaki itu ternyata lebih kuat menahan dorongan Fanya tadi.
"Lo kemana aja si? Seminggu ini gue ga ngeliat lo?"
Fanya tak bisa mendengar ucapan Devan karena ucapannya tadi pelan, terlebih sekarang Fanya sedang memakai earphone. Devan yang dihiraukan, langsung melepaskan earphone Fanya secara paksa.
"Kalo ngomong sama gue earphone nya lepas dulu dong."
Fanya mendengus kesal sejadi-jadinya.
"Lo kemana aja si selama seminggu ini? Menghindar dari gue? Percuma!"
"Lo tau, selama seminggu ini gue khawatir sama lo Fanya." Ungkap Devan sambil memegang pundak Fanya dengan kedua tangannya.
"Lo? Khawatir sama gue? Modus mode on! Gue ga percaya!" Balasnya sinis sambil menepis tangan Devan di pundaknya.
"Gue sayang sama lo Fanya. Dan hari ini kita resmi jadian!" Ucap Devan mendekatkan mulutnya ke telinga Fanya.
Lalu
Cup
Devan mencium pipi kanan Fanya sekilas, ia pun berlalu meninggalkan Fanya yang masih tak bergerak karena perbuatan Devan tadi.
Fanya melongo tak percaya sambil memegang pipi kanannya yang sudah ternodai oleh mahkluk sinting.
"DEVANNNNNN" pekik Fanya yang sudah berlari mengejar Devan keparkiran.
"Devan gue benci sama lo." Ujar Fanya sambil memukuli tubuh atletis Devan.
"Gue juga sangat benci sama lo."
"Bener bener cinta." Lanjut Devan sambil menampilkan senyuman yang paling manis untuk Fanya.
Fanya melanjutkan aktivitas nya untuk memukuli Devan.
"Sialan!" Kesal Fanya yang masih memukuli Devan.
"Aww, udah Fanya ud-dahh."
Fanya tetap gencar memukuli Devan saking kesalnya.
"Fanya berhenti! Lo mau gue ngelakuin hal yang lain?!" Ujar Devan sambil memegang kedua tangan Fanya agar gadis itu berhenti memukuli nya. Fanya pun kemudian terdiam menatap Devan takut.
Devan yang melihat Fanya merasa ketakutan langsung melepaskan pegangannya perlahan.
"Pulang yuk, udah sore nih." Ajak Devan.
"Ogah."
"Cepetan pulang, nanti kalo hujan lo kebasahan lagi."
"Kalo hujan ya kebasahan lah mana mungkin kebakaran." Timpal Fanya.
Devan terkekeh mendengar jawaban Fanya.
"Kamu gemesin banget si, jadi pengen nyium."
Fanya langsung menoyor kepala Devan. "Sekali lagi lo ngomong, gue robek mulut lo!"
"Mau dongg di robek mulutnya sama Fanya. Robeknya mau pake apa? Pake cinta?" Balas Devan menggoda nya.
"Gila ya lo?"
"Udah pulang yuk, ini udah sore. Biar gue yang anterin lo kerumah, dijamin lo bakal selamat tanpa lecet sedikit pun." Celoteh Devan.
"Ogah." Tolak Fanya.
"Pulang sama gue, atau gue cium lo sekarang juga?!"
"Gue pilih opsi pertama." Fanya pun langsung menaiki motor Devan untuk pulang ke rumahnya.
"Pegangan, nanti jatuh." Pinta Devan sekalian modus.
Fanya hanya memegang tas yang digunakan Devan. Ia bersyukur ada tas yang mengahali jarak antara dia dengan Devan. Kalo tidak ada? Tak bisa di bayangkan, mungkin Devan sudah menang banyak karena keasyikan dipeluk oleh nya.
20 menit sudah berlalu, akhirnya mereka sudah sampai di rumah Fanya.
Fanya pun turun dari motor Devan.
"Udah ini lo langsung ganti baju terus makan dan istirahat ya."
"Fanya" panggil Devan.
Fanya menoleh dan menghampiri Devan lagi. " Makasih." Ucap Fanya jutek, lalu pergi meninggalkan Devan lagi.
Devan sangat gemas melihat tingkah perempuan nya itu. "B esok kembaliin helm gue ya." Pekik Devan berharap Fanya masih bisa mendengar teriakannya. Devan pun kembali melakukan motor nya dengan kecepatan rata-rata.
"Jantung gue. Kenapa?" Tanya Fanya pada dirinya sendiri sambil memegang d**a nya.
"Gak gak mungkin gue suka sama si kunyuk songong bin nyebelin." Sangkal Fanya.
"Nyebelin apa ngangenin?" Ucap seseorang secara tiba-tiba.
Fanya langsung menoleh kearah suara.
"Tadi siapa ka?" Tanya Farel, dia adalah adik Fanya yang kini sudah duduk di bangku SMP kelas 3.
"Ngagetin gue aja." Balas Fanya lega.
"Gausah ngalihin pembicaraan. Tadi siapa? Pacar lo ya?"
"Bukan!"
"Ya terus siapa? Bodyguard? Gamungkin amat."
"Kepo lo kaya detektif Upin Ipin."
"Gue nanya tadi itu siapa? Dan lo habis ngapain aja jam segini baru pulang sekolah?" Tanya Farel bertubi-tubi.
Fanya tersenyum kearah Farel. "Ihh adek gue khawatir yaa? Makin tambah sayang." Ujar Fanya dengan suara yang kenak-kanakan sambil menggoyangkan tangan Farel.
"Gausah kaya gitu gue jijik liatnya."
Fanya melepaskan pegangannya secara kasar dan menatap Farel sebal.
"Adek kurang ajar! Dibaikin salah di manisin salah mau nya apa?"
"Gue sunat dua kali, tau rasa lo!" Canda Fanya, ia pun berlalu meninggalkan Farel untuk ke kamarnya.
"Woyy!! Itu helm di lepas oon!" Teriak Farel.
Fanya menghentikan langkahnya dan mendongakkan kepalanya, ia pun berlari terbirit-b***t untuk sesegera mungkin sampai ke kamarnya karena ia sangat malu, dari tadi ia tidak sadar bahwa helm Devan masih terpasang di kepalanya.
"Devan sialan!!!" Pekik Fanya.