Abraham menghela napas. “Sienna, Sienna. Kapan kamu sadar?” Bibir Abraham masih tersenyum mengejek. “Kalau membandingkan kamu dengan mereka, kamu hanyalah kerikil yang mengganggu di jalan.” Daripada tambah sakit hati dengan memilihkan wanita lain sembari mendengarkan ocehan Abraham. Sienna memilih dua foto dengan asal. “Aku sudah selesai pilih, Kek.” Tubuhnya mendadak berdiri dari duduk dan membuat pandangan Abraham menajam. “Mau ke mana? Duduk!” “Karena sudah selesai, aku harus pulang.” Abraham terlihat kesal. “Memangnya kamu sudah disuruh pergi?” Keinginan Sienna untuk melangkahkan kaki mendadak terhenti, karena Abraham menunjukkan kepemilikan atas istri cucunya. “Dengarkan, Sienna. Kamu harus tinggalkan Harsa dalam waktu dekat.” Pandangan Sienna terangkat. “Kenapa harus aku, K

