Senja ( Permata yang hilang )

789 Words
Bab 2 Ketika aku sadar, aku berada di dalam kamar dalam keadaan tel*njang bulat. Kesucian ku telah terenggut, mahkota yang selalu aku jaga selama ini hilang begitu saja. Aku tergugu menangis. "Hey cantik, kamu sudah bangun," ucap seorang pria yang baru keluar dari kamar mandi. Aku hanya terdiam tak menjawab, aku beranjak untuk ke kamar mandi membersihkan badanku. Setelah mengenakan pakaian, lalu aku keluar dari kamar mandi. "Kamu mau pulang pakai baju itu,?" tanya lelaki itu menatapku "I-iya pak," jawabku gugup lelaki itu tertawa karena selalu di panggil bapak oleh ku, lalu menatapku tajam dari atas ke bawah. "Tunggu sebentar," ucap lelaki itu kepadaku, dia mengeluarkan ponselnya dan terlihat sedang menelepon seseorang, setelah itu bel berbunyi ada seorang laki-laki datang lalu menyodorkan paper bag kemudian pergi. "Pakai ini, dan tolong panggil aku Riko," lalu dia menyerahkan paper bag kepadaku. Aku mengambil paper bag itu lalu bergegas ke kamar mandi, ternyata ada celana jeans sama baju kaos, segera ku pakai dan ternyata pas di badanku. Aku memasukan baju mini ku ke dalam paper bag lalu segera keluar. "Ini bayaran mu, aku suka dengan pelayanan mu semalam," Riko mengedipkan mata kepadaku, seraya menyodorkan amplop berwarna coklat. "Lima puluh juta, kepera*ananku di hargai segitu," aku tersenyum getir. kalau bukan karena bapak aku nggak mau menuruti apa kata emak. Aku sisihkan uang tigapuluh juta kedalan lipatan baju, lalu sisa nya aku masukan kembali kedalam amplop ku simpan di tas. Riko yang sedari tadi menatapku dengan heran bertanya "Kenapa uang nya di pisah," Aku menghela napas. "Gak usah malu cerita aja, anggap saja aku temanmu,"lanjutnya lagi. Aku menceritakan semua nya kepada Riko tanpa ada yang terlewat, sampai pada akhirnya aku harus bekerja seperti ini. Riko hanya manggut-manggut mendengarkan ceritaku. "Kamu yang sabar ya," ucap nya seraya membelai rambutku. Riko menyarankan untuk membuat tabungan, agar nanti uang yang aku dapat bisa di sisihkan, karena tidak menutup kemungkinan uang itu akan seluruh nya di kuasai Emak, apalagi gaya sosialita Emak yang begitu tinggi, bahkan dia sendiri pun tega menjual anak kandung nya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. "Ok, sekarang aku antar kamu pulang, tapi sebelum pulang temani aku makan ya," pinta Riko kepadaku. Kami berjalan beriringan keluar kamar, setelah sampai di lobby Riko menelepon seseorang, tak sampai lima menit kami menunggu mobil pun datang. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sepanjang jalan aku melamun, sepanjang jalan Riko berbicara dengan seseorang di ujung telepon, dan ketika sampai di restoran pun dia masih sibuk dengan telepon nya. Setelah memesan makanan kami menunggu beberapa menit. Tiba-tiba datang seorang pria yang mungkin seumuran bapak ku duduk di sebelah Riko. Pikiran ku kalut, apakah Riko akan menyuruhku untuk menemani bapak-bapak itu, oh tidak!!. "Senja ini pak Haris, yang akan membantu kamu untuk pembuatan tabungan, kamu tanda tangan disini, lalu isi semua data kamu disini. Riko berbicara kepadaku sambil menunjukan sehelai kertas kepadaku. Aku mengisi semua yang di perintahkan oleh Riko, setelah itu menyerahkan lembar kertas ke pak Haris, lalu pak Haris pamit undur diri. "Untung lah," guman ku sambil mengelus d**a. "Kamu berpikir aku akan menyuruh mu menemani pak Haris," tanya Riko seolah tau isi pikiran ku. "Aku tak sejahat itu, Senja," lanjutnya lagi. "Kalau kamu baik, gak mungkin kamu meniduri ku, apalagi aku masih pera*an," sungutku kesal. "Oo, kamu masih pera*an, pantas lah masih sempit," Riko setengan berbisik kepadaku. Aku melotot ke arah Riko, dan dia hanya tertawa.Setelah makanan yang kami pesan datang, lalu kami menyantap ny dengan lahap. Setelah selesai, pak Haris datang lagi, dia menyodorkan sebuah buku tabungan dan kartu atm kepadaku. "Itu kartu atm kamu simpan baik-baik dan berikan ponsel mu ke pak Haris biar nanti dia buatkan m-banking buat mu" Riko berkata seraya memberikan atm kepadaku. Lalu aku memberikan ponsel yang di minta Riko ke pak Haris, beliau tersenyum kepadaku, hanya lima menit m-banking pun telah tertera di layar ponsel ku. Lalu pak Haris undur pamit. Setelah pak Haris pergi, Riko bercerita kalau pak Haris ini orang kepercayaan Riko yang bekerja di bank swasta, jadi sangatlah mudah untuk pak Haris membuat tabungan seperti tadi. "Uang yang kamu sisihkan tadi alangkah lebih baik nya simpan di atm mu," ucap Riko "Bagaimana caranya,?" tanya ku "Sini uang nya," ucapnya lagi Aku menyerahkan uang itu kepada Riko, lalu dia mengeluarkan ponsel nya. trringg..!! notif ponselku berbunyi, lalu aku membuka nya ( Transfer dari xxxxx sebesar 50.000.000 telah di terima) "Itu uang mu," ucap Riko. "Dan ini, simpan di dalam amplop itu, buat Emak sama Bapakmu," Riko menyodorkan kembali uang itu, aku mengambilnya seraya mengucapkan terima kasih. Lalu kami bergegas untuk pulang, Riko mengantarkan ku hanya sampai jalan raya, karena gang sempit itu tidak bisa di lalui mobil.Aku pamit lalu melangkah menyusuri gang sempit, setelah sampai rumah, ada bi Karsih sedang ngobrol sama Emak, Emak tersenyum menyambutku. "Uangku sudah datang," Emak memelukku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD