Theo sampai di negaranya pukul empat sore dari bandara dia tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan menyusul Kaia di tempat coasnya. Kaia yang baru keluar dikejutkan oleh mobil Theo yang terparkir manis di depan tempat kerjanya. Ia tersenyum lebar, berpikir bahwa Theo menjemputnya karena ingin memberikan kejutan kepulangannya yang tiba-tiba. Kaia bersemangat Ia pun berjalan cepat menuju mobil Theo dan mengetuk kaca jendelanya. Tak lama kemudian, Theo menurunkan jendela mobilnya. Ekspresinya seperti biasa, datar dan dingin di luar. Tapi, entah kenapa sekarang ekspresi pria itu terlihat tidak terbaca. Apa yang terjadi dengannya? "Hei, kamu udah pulang kok nggak ngabarin?" tanya Kaia kepada Theo dengan senyum manisnya yang biasa. Theo melihat sekeliling tempat kerja Kaia, baguslah tidak

