Kaia berangkat ke kampus bersama dengan Theo, gadis itu hanya terdiam sembari melirik ke arah Theo yang hanya diam. Isabella memang menyebalkan, dia tidak akan mau di pinjemi tugas kalau dia kayak git uterus menerus. “Kakak kenapa diem sih?” tanya Kaia menguari keheningan. “Kalau nggak diem terus ngapain? Cium—” belum selesai bicara Kaia sudah menutup mulut Theo dengan telapak tangannya, dia tidak ingin Theo mengatakan omomg kosong kepdanya. Kaia menjeri karena Theo menjilat tangannya, Theo makin ke sini makin menakutkan bagi Kaia. Dia memang tipe cowok yang harus Kaia hindari, tetapi mereka sati rumah. Hal seperti ini tidak pernah Kaia pikirkan sebelumnya. “Kalau kakak kayak gitu aku mau ngekos aja deh,” ujar Kaia. Theo mengunci mobilnya, parkiran masih sangat sepi dengan kaca mobil

