Author Pov.
Pernikahan yang dijalani Devan dan Letisha tidak seperti pernikahan pada umumnya tentu saja, bahkan selama satu minggu mereka menikah, Devan hanya kembali beberapa kali hanya untuk mengecek apakah dirinya baik baik saja, itupun hanya sebentar, selebihnya Letisha tidak tau kemana Devan pergi, dan selama ini entah dimana Devan tinggal.
Bosan tentu saja, setiap hari Letisha hanya makan tidur makan tidur, tidak ada aktifitas lain yang bisa dilakukan, dulu ketika Letisha bosan di rumah dia akan hang out dengan teman temannya, namun kini beberapa temannya sedang sibuk dengan urusan masing masing, ada juga yang lagi liburan di luar negeri.
***
Siang ini Devan menjemputnya, tadi pelayan sudah mengatakan jika Devan ingin mengajak Letisha makan siang, Letisha hanya mengiyakan, setengah dua belas siang Devan kembali ke rumahnya, Letisha sudah siap dengan bajunya, jadi Devan tidak perlu menunggu lagi.
“Tisha, kita makan siang bersama Kezia dan Xander, tapi disana juga ada Keenan dan Farisa, jadi jaga sikap kamu, jika kamu berani macam macam aku pastikan keluarga kamu hancur, kamu tidak inginkan bisnis yang di agung agungkan Papa kamu itu lenyap seketika…. karena kecerobohan kamu?.” Devan menjeda perkataannya, dia ingin melihat ekspresi Letisha seperti apa.
“Maksudnya?.” Tanya Letisha tidak paham,
“Jika kamu berani macam macam, aku pastikan kamu akan tinggal di club malam sebagai jalang, tidak sulit mengirim kamu kesana, maka diam dan menurut saja padaku, begitu juga dengan orang tua kamu, selama kamu nurut perusahaan yang mereka agung agungkan akain baik baik saja.” Letisha hanya mengangguk, Letisha tidak tau siapa Devan sebenarnya, namun ancaman Devan tadi sangat menakutkan sekarang.
Lagian Letisha tidak lagi perduli dengan Keenan dan Farisa begitu juga dengan Kezia dan Xander, pernikahannya dengan Keenan hanya sebatas perjodohannya, dia dekat dengan Tyas karena Letisha merasa nyaman dengan Tyas, walau ada campur tangan kedua orang tuanya juga untuk mendekati keluarga Keraton tapi Letisha memang tidak ada perasaan dengan Keenan semua itu hanya rekayasa agar semuanya berjalan dengan rencana orang tuanya. Semua kembali pada kekuasaan.
“Good girl.” Devan mengelus puncak kepala Letisha, dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya di gunakan untuk menyetir.
Devan tidak tau apa yang difikirkan Letisha, namun ucapan Devan bukan hanya ancaman jika Letisha berani macam macam dengan Kezia ataupun Farisa.
Letisha hanya mampu terdiam, sebenarnya Devan ini siapa, kenapa seperti layaknya boss gini sih?, atau jangan bilang kalau Devan ini pura pura jadi asistennya Xander, ternyata dia juga seorang pengusaha kaya Xander, aahhh entahlah memikirkan saja rasanya sangat pening di kepalanya.
***
Makan siang kali ini terasa akward bagi Letisha, mereka makan berenam dengan pasangan masing masing, di tambah ada Keenan dan Farisa, menyesal tentu saja, menikah dengan Keenan adalah impian semua orang di Jogja, tapi impiannya lenyap di tangannya sendiri, padahal impiannya sudah di depan mata, sungguh Letisha bodoh.
Melihat Kezia Bahagia bersama pasangannya, Keenan yang sangat sangat perhatian dengan Farisa, Letisha merasa dia sepertinya tidak seharusnya berada disana, devan begitu acuh dengannya, seperti Devan tidak menganggap Letisha ada disampingnya.
Selesai makan siang Keenan dan istrinya pergi honeymoon ke Jepang, sedangkan dirinya hanya di rumah Devan, nasib nasib, sial banget sih, mana suaminya itu menyuruhnya pulang sendiri, dia langsung pergi kantor Xander, tau gitu mendingan dia dirumah aja tiduran, kalau enggak marathone drama korea seperti biasanya.
***
Devan baru saja sampai di rumahnya, namun dia tidak melihat mobilnya, Devan pulang diantar supir kantor karena mbilnya dibawa Letisha tadi siang, kemana lagi Letisha, bikin emosi aja.
“Pelayan, dimana Letisha?.” Tanya Devan pada pelayan yang menyambutnya di depan pintu.
“Nona Letisha belum kembali dari siang tadi Tuan, saya kira Nona Letisha bersama dengan Tuan Devan,” Jelas Indah pelayan yang saat ini berada di depan Devan.
“Kamu bisa lanjut kerja,” Indah mengangguk, Devan sendiri langsung duduk di sofa ruang tamu, mungkin mempelajari rancangan Proyek sambil menunggu Letisha pulang.
Tiga puluh menit sudah Devan mempelajari rancangan proyek yang di rapatkan besok ketika dia mendengar suara deru mobil masuk kehalaman rumahnya.
Devan masih duduk di sofa tanpa mau repot repot menyambut istrinya itu.
Sementara Letisha baru saja pulang jadi jalan alias clubing, beruntungnya mobil Devan full bahan bakar dan juga silvercard milik Devan yang di berikannya setelah Devan menikah dengan Letisha, awalnya Letisha ingin pulang pagi seperti biasa saat dirinya kejakarta dulu, namun entah kepan dia ingin pulang, jadi dia pamit pada teman temannya padahal party yang sesungguhnya belum di mulai.
“Darimana saja?,” Tanya Devan, Letisha kira Devan tidak akan pulang sama seperti malam malam yang lalu.
“Jalan jalan,” Balas Letisha,
“Jalan jalan atau ngejalang?,”. Perkataan Devan barusan sangat menohok hatinya. Memang dia sering ke club malam, tapikan yang bobol keperawanannya Devan bukan orang yang lain, berarti sebelumnya dia memang wanita baik baik yang suka clubing. Eehhhh tapi mana ada wanita baik baik clubing,, dasar pemikiran aneh….
“Menurut lo aja deh,” Letisha yang sudah lelah ingin segera istirahat lagian ini sudah jam sebelas malam, jiak Letisha tidak ingat dia sudah menikah mungkin dia akan asik party di club sampai pagi seperti biasanya.
“Aku belum selesai bicara Tisha,” Letisha menghentikan langkahnya, padalah dia baru saja berjalan.
“Apa lagi sih?. Aku capek.” Tanya Letisha, dia benar benar lelah, bukan raganya yang lelah namun psikisnya yang lelah.
“Aku tidak menyangka jika kamu ternyata sama dengan perempuan diluar sana, yang hanya mencari uang untuk kesenangan semata,” Letisha tau apa maksud Devan, tadi Letisha memang membayar tagihannya dengan silvercard milik Devan, hanya untuk coba coba sih.
“Lalu apa yang kamu inginkan? Menyesal menikahiku yang ternyata sama dengan perempuan di luar sana?, ingat Devan, semua wanita itu sama, jika mereka berfikir secara realistis mereka akan memilih mengejar uang dari pada cinta. Karena cinta butuh uang dan uang tidak akan butuh cinta,” Devan tidak menyangka akan mendapatkan balasan telak dari Letisha.
“Wahhhhh, aku tidak menyangka, ternyata kamu aslinya seperti ini, pantas sih Keenan dulu tidak suka dengan kamu, bahkan Kezia juga, ternyata apa yang di katakan Galih Permana itu sangat bertolak belakang dengan kenyataannya.” Devan tidak menyukai wanita pembangkak dan tidak tau aturan seperti ini,.
“Keenan memang tidak mencintai aku, pernikahan itu terjadi karena perjodohan dan itu hal yang wajar, tapi Devan, terimakasih lo telah menggagalkan pernikahan ku, hingga aku tidak terikat aturan yang sangat menyebalkan itu, aku juga bisa kembali bebas.” Balas Letisha, memang menikah dengan Keenan itu impian untuk semua wanita, namun disatu sisi aturan Keraton sangat ketat, apa lagi untuk istri dari sang penerus tahta pasti sangat banyak sekali aturannya. Dan Letisha bukan perempuan yang mau terikat dengan aturan, Letisha perempuan bebas, dia sudah terbiasa merasakan kebebasan, jadi dia tidak mau terikat selamanya di Keraton dengan semua aturannya.
“Bebas apa?, Bebas keluar masuk club lagi? Bebas menggoda laki laki lain?, bebas jual tubuh sana sini?.” Tanya Devan menuh dengan emosi, bahkan Devan tidak bisa untuk mengontrol emosinya.
“Gue bukan cewek murahan, gue emang suka keluar masuk club tapi harusnya lo sadar diri kalau lo yang ngambil keperawanan gue, gue ngegoda laki laki, hahahhahhaa,, mereka yang tergoda dengan gue bukan gue yang godain mereka.” Teriak Letisha meluapkan emosinya pada Devan.
“Ohhh ya, harusnya kamu inget malam itu, kamu duluan yang ngajakin main, kalau kamu enggak ngajak main aku juga enggak akan main sama kamu,” Bantah Devan, padahal niat dia ngedeketin Letisha pas mabuk juga pengen main sama Letisha, dasar Devan tidak mau disalahkan.
“Kalau lo enggak mau main sama gue, kenapa lo enggak nolak, lo pasti tau gue lagi mabuk, atau jangan jangan lo yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan?. mendekati perempuan di bar yang mabuk lalu menidurinya?.” Devan bukan seperti yang dituduhkan Letisha, lagian Devan arang pergi ke club jika dia tidak penat banget atau pas dia senggang.
“Ahhhh udah, capek gue ngomong ama lo.,,” Lanjut Letisha. Letisha segera melangkahkan kakinya, namun Devan dengan cepat menarik tubuh Letisha, membawanya ke sofa.
“Kayaknya malam itu kamu belum inget semuanya, gimana kalau kita ulang lagi?.” Posisi saat ini Letisha berada di bawah kukungan Devan,
“Sialan,, Devan lepasin, jangan macem macem kamu,” Letisha berusaha mendorong tubuh Devan, namun tenaga Letisha kalah kuat dari Devan, bahkan Letisha sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendorong Devan tapi tetap saja Devan tidak bergerak,
“Minggir Devan.” Letisha masih berusaha mendorong Devan. Namun bukannya menyingkir Devan malah semakin mendekatkan dirinya pada Letisha,
Cup… Devan mengecup bibir Letisha, awalnya hanya kecupan, namun lama lama menjadi lumatan penuh gairah, Devan mengigit bibir bawah Letisha, namun Letisha tidak membuka mulutnya, Devan tentu saja tidak kehilangan akal, tangannya yang tadi untuk menompang tubuhnya gara tidak terlalu menekan Letisha kini sudah berada di p******a Letisha, meremas remas dengan lembut, hingga membuat Letisha melenguhh.. Devan tidak menyia nyiakan kesempatan ini, Devan semakin memperdalam lumatannya membuat Letisha mau tidak mau membalas lumatan Devan, mereka saling menukar saliva. Hingga Devan menghentikan lumatannya pada bibir Letisha.
“Ternyata masih sama rasanya,” Devan memegangi bibir Letisha dengan ibu jari tangannya
“Apa maksud kamu?.” Tanya Letisha, dengan nafas memburunya karena dia hampir kehabisan oksigen gara gara ciuman Devan barusan.
“Sekalinya jalang tetap saja jalang,” Letisha entah mendapat kekuatan dari mana, namun dia berhasi mendorong Devan hingga Devan terjengkak ke belakang, beruntung sofanya panjang jadi Devan tidak jatuh ke lantai.
“Dengar Devan, aku bukan jalang, aku bukan jalang,”. Letisha langsung berdiri menjaga jarak dari Devan, bahkan airmatanya telah mengalir di pipinya, perempuan manapun akan terluka jika suaminya sendiri mengatakan jika dirinya jalang.
Tanpa Letisha sengaja Letisha menyenggol laptop Devan yang masih menyala itu,
Prang….
Machbook Devan jatuh kelantai, Devan segera bangkit dari duduknya, sial machbooknya,
“Letisha kamu,,” Devan ingin marah pada Letisha namun dia mengurungkan niatnya ketika melihat air mata Letisha yang menetes semakin deras.
Tanpa kata Devan membereskan semuanya, Devan langsung melangkah menuju ruang kerjanya.
Sementara Letisha masih menangis dia terduduk disofa, dia kira Devan beda dengan Keenan nyatanya mereka sama saja, sama sama menyakiti hatinya dengan cara yang berbeda.
****
Devan masuk ke ruang kerjanya, mencoba menyalakan machbooknya, namun berkali kali Devan menyalakan hanya layar wanra putih yang terlihat.
Sial… machbooknya rusak, padahal rancangan proyeknya masih didalam,. Devan segera menghubungi Xander dan menjelaskan keadaan machbooknya saat ini, mau tidak mau Devan lembur.
Devan tengah malam kembali ke kantor mengerjakan rancangan proyeknya, beruntung di ruangan Xander ada laptop cadangan.
Devan entah sudah menghabiskan berapa gelas kopi untuk menemani malamnya, bahkan Devan merasa lapar, tapi dia malas untuk turun kebawah, gila jam tiga pagi mana ada yang jualan makan sihh di sekitar sini. Tapi dari pada kelaparan mending dia keluar bentar untuk makan.
Devan melihat satpam yang bergaja di lobby, mungkin habis keliling di Gedung.
“Tuan Devan, anda belum pulang?,” Tanya Pak Narto, barusan dia keliling di lantai satu karena di lantai dua hingga lantai teratas Gedung ini terpasang cctv, jadi mereka hanya mengontrol lewat cctv saja.
“Belum Pak, kerjaan saya belum selesai,” Jawab Devan mereka sama sama berjalan ke depan,
“Tuan Devan ingin kemana?.” Tanya Pak Narto.
“Saya mau cari makan Pak, kira kira jam segini masih ada yang jualan tidak ya?.”. Lebih baik dia bertanya dengan Pak Narto, daripada dia keliling sekitar sini namun tidak menemukan tempat makan.
“Wahhh,, kalau jam segini restoran tutup Tuan, kalau KFC jauh, palingan yang masih ada angkringan sama lamongan, di depan sana.” Pak Narto menunjukan warung makan yang masih buka hingga jam tiga pagi, tapi masa iya Devan makan, makanan kaya gitu, serius aja.
“Disana ada makanan apa Pak?,” Tanya Devan.
“kalau di angkringan paling tinggal mie instan, nasi kucing, sama gorengan, kalau di lamongan ada ayam, bebek, lele, seafood juga ada Tuan, anda tinggal pilih yang mana,” Devan mengangguk,
“Makasih Pak, anda ingin makan sekalian?.” Tawar Devan pada Pak Narto,
“Terimakasih Tuan Devan, saya sudah di bawakan bekal sama istri.” Devan mengangguk, lalu dia menyebrang jalan, karena letaknya di depan kantor.
Beruntung sekali Pak Narto kerja di siapkan bekal istrinya, beda dengan Devan, boro boro nyiapin bekal, Devan yakin Letisha tidak bisa masak, bahkan mungkin membedakan garam dan gula aja dia tidak bisa.
“Selamat datang, mari silahkan.” Bapak bapak penjual lamongan dengan ramah mempersilahkan Devan untuk duduk di tikar.
“Mau pesan apa Mas, ini menunya,” Devan menerima buku menu yang telah usang, mungkin karena seiring berjalannya waktu jadi lusuh. Devan melihat lihat daftar menunya, cukup banyak ternyata.
“Saya pesan bebek bakarnya satu, udang gorengnya satu, sama nasinya satu dibungkus saja Pak.” Devan memesan makanan setelah memihat daftar menu yang cukup banyak.
“Mau sama minumnya sekalian Mas?,” Tanya penjualnya.
“Tidak usah, sudah ada minum kok,” Balas Devan. Sambil menunggu pesanan Devan mengotak atik ponselnya, scroll scroll ig di tengah malam menjelang pagi.
Story dari Letisha langsung Devan buka, karena berada di depan sendiri.
“Kata cinta tak lagi terucap, I’m sick but i like it, LOL,” Devan tidak tau story itu untuk siapa tapi apa mungkin itu untuk dirinya?, apa mungkin perkataannya tadi sangat menyakitkan untuk Letisha?.
Devan teringat kata katanya tadi, apa perkataannya tadi menyakitkan untuk Letisha, tapi kenapa Devan perduli coba.